TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – -Christina, istri terpidana Yon Freddy alias Anton, mantan Direktur PT Lobindo Nusa Persada, kasus penggelapan hasil galian batu bouksit milik PT Gandasari Resources senilai Rp 728 juta, diperiksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang sekitar 4,5 jam, Rabu (22/11).

Disamping Christina, jaksa juga memeriksa Komisaris PT Lobindo, Li Hua alias Wiharto. Kedua orang ini merupakan penjamin terhadap Yon Freddy alias Anton.

Kedua orang ini diperiksa sejak pukul 10.15 WIB hingga pukul 14.50 WIB, baru keluar dari ruangan penyidik jaksa didampingi salah seorang pengacara, Herman SH.

Anton sendiri sudah tiga kali mangkir dipanggil jaksa berkaitan putusan tingkat Kasasi pada perkara Nomor 835/K/Pid/2017 tanggal 6 September 2017 menyatakan Anton terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dengan menjatuhkan pidana penjara selama satu tahun oleh Mahkamah Agung.

“Kedua orang ini kita panggil dan diperiksa untuk mengetahui dimana keberadaan yang bersangkutan (Anton). Ada sekitar 12 pertanyaan yang kita ajukan kepada mereka,” ucap Kasi Pidum Kejari Tanjungpinang, Supardi SH.

Dalam pemeriksaan terhadap kedua orang tersebut (Christina dan Wiharto), kata Supardi, mereka menyebutkan bahwa Anton sedang berada di luar negeri yakni Tiongkok, Cina untuk menjalani pengobatan, penyakit tenggerokan usai menjalani oparasi di Malaka, Malaysia beberapa waktu lalu.

“Kedua orang ini juga menyatakan siap untuk menyerahkan Anton ke kita, jika sudah pulang dari Cina nanti,” ujar Supardi.

Supardi menyebutkan disamping berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mencari dan menangkap Anton, pihaknya juga sudah mengantongi surat pencekalan terhadap yang bersangkutan agar tidak dapat ke luar negeri.

“Surat pencekalan tersebut baru kita terima, setelah yang bersangkutan berada di Tiongkok, Cina sekitar dua bulan lalu. Kita juga telah melakukan koordinasi dengan pihak Imigrasi termasuk aparat terkait lainnya,” kata Supardi.

Kasi Pidum Kejari ini juga mengingatkan kepada Christina maupun Wiharto untuk tetap koperatif memenuhi panggilan jika pihaknya suatu waktu melakukan pemanggilan kembali.

“Jika kedua orang ini juga tidak koperatif, maka tentu ada sangksi hukumnya, sebagaimana ketentuan perundangan yang berlaku,” pungkasnya.

Penulis: An

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here