TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – -Mengenai Abdul Kholik kembali diusulkan menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PDAM serta Laporan keuangan Dirut PDAM mendapat kritikan dari Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ALIM, Kherjuli.

Kepada SIJORITODAY.com, Kherjuli mengakui, bahwa sampai dengan hari ini dirinya belum melihat dan membaca laporan tahunan atau kinerja Direktur PDAM Tirta Kepri yang dipublis secara luas melalui media masa. Laporan tersebut meliputi laporan keuangan (Rugi/Laba) dan Neraca PDAM Tirta Kepri per 31 Desember 2017.

“Sesuai dengan ketentuan, Direktur PDAM wajib menyampaikan kepada publik melalui media masa, karena PDAM merupakan salah satu unit layanan publik yang dituntut transparan dan akuntabel,” ucap Kherjuli, Jumat (26/01/2018).

Meski demikian, kata Kherjuli, secara umum salah satu indikator capai keberhasilan Direksi PDAM itu adalah cakupan pelayanan, tingkat kebocoran air, kualitas air, rugi laba dan indikator keuangan lainnya.

Dari data yang diperolehnya, bahwa cakupan pelayanan PDAM masih relatif rendah berbanding jumlah penduduk.

“Masih banyak penduduk kota yang belum mendapatkan layanan air Pemerintah,” sebutnya.

“Untuk angkanya, saya belum tahu persis. Karena belum mendapatkan data yang real. Namun yang pasti, belum mencapai diatas 67 persen target MDGs 2015,” kata dia.

Kherjuli juga mengatakan, tingkat kebocoran air juga masih relatif tinggi. Namun untuk angkanya dirinya belum mengetahui pasti.

Namun demikian, dari data lama yang dipublikasi Badan Pengawas Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSAM) Jakarta saat jabatan Direktur PDAM Tirta Kepri yang masih dinakhodai oleh Abdul Kholik, menunjukkan angka masih diatas 45 persen. Padahal, angka yang masih bisa ditolerir sebesar 20 persen tingkat kebocoran/kehilangan air.

“Ya, tidak usahlah 20 persen, itu sudah sangat baik sekali. Disekitaran angka dibawah 45 persen masih lumayanlah,” katanya.

Sementara, lanjut Kherjuli, untuk kualitas air sampai saat ini dirinya belum menemukan ada Zona Air Minum Prima (ZAMP) satu tempat pelayanan publik, seperti di Bandara, Pelabuhan atau di zona Pemukiman.

Tempat tersebut sebagai bukti bahwa Perusahaan air plat merah tersebut telah dapat mewujudkan pelayanan air minum dengan kualitas air yang bisa langsung diminum. Karena sesuai kelas pelayanan PDAM sejak tahun 2008 telah meningkat dengan kualitas air yang langsung layak diminum.

Jika laporan tahunan yang meliputi laporan keuangan dan Neraca PDAM yang telah diaudit tidak dipublikasi, Kherjuli bertanya, bagaimana publik bisa tahu dan meyakini bahwa yang disampaikan Direktur atau Badan Pengawas PDAM itu benar dan faktual untuk seluruh unit satuan SPAM (unit air bakunya, Produksi, Distribusi dan unit Pelayanan). Sementara, PDAM yang merupakan bagian dari SPAM itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

“Termasuk didalamnya tadi, kemampuan keuangan PDAM yang operasionalnya, sebagian besar menggunakan dana publik berupa tarif air dari setiap pemakaian kubikasi air,” tutup Kherjuli.

Penulis: Akok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here