Foto : humasbatam

BATAM, SIJORITODAY.com– – Melambatnya ekonomi Kepri di triwulan ke tiga membuat kaget dunia usaha. Apindo Kota Batam menilai, salah satu pemicu perlambatan adalah kebijakan perpajakan pemerintah daerah yang membebani ekonomi.

Ketua Apindo Kota Batam Rafki Rasyid mengatakan,  keinginan Pemko Batam yang mau mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Kepri tak diiringi dengan kebijakan perpajakan yang sesuai.

Alih-alih memberikan insentif untuk meningkatkan aktifitas ekonomi di sektor pariwisata, Pemko Batam justru membebani sektor ini dengan kenaikan pajak yang sangat tinggi. Kebijakan ini justru memukul usaha pariwisata. 

Kenaikan tarif pajaknya bukan main. Naik dari 15% menjadi 35%. Kenaikan ini lebih dari 100%. Pengusaha sektor hiburan menjerit dan sudah ada yang menutup usahanya. Pajak ini mulai ditagih sejak bulan April lalu. 

Kondisi ini yang membuat para pengusaha hiburan melakukan efisiensi kapasitas bisnis, bahkan menutup usahanya. Sejumlah pengusaha yang ingin membuka usaha hiburan di batam juga mengurunkan niatnya. 

Untuk solusi jangka pendek Apindo sudah pernah meminta kepada Pemko Batam untuk menunda kenaikan pajak hiburan itu. Pemko sudah setuju dan bersurat ke DPRD Batam. Namun surat tersebut berhenti di DPRD tidak ada tindak lanjut sampai sekarang.

Sementara untuk jangka panjang pengusaha meminta kenaikan yang sangat besar itu ditinjau ulang. Kalau memang Batam mau mengandalkan pariwisata sebagai pendorong kegiatan ekonomi.

Rafki Rasyid, Ketua APINDO Kota Batam

“Jadi kita menghimbau agar pemerintah dan pihak terkait memperhatikan betul kondisi investasi di Batam. Karena investasi adalah sendi utama perekonomian Batam. Dan perekonomian Batam merupakan sendi utama pertumbuhan ekonomi Kepri,” papar Rafki.

Dunia usaha mengaku kaget dengan perambatan ekonomi Kepri di triwulan ketiga 2018 ini. Ketua Apindo Kota Batam Rafki Rasyid mengatakan,pertumbuhan ini berada di bawah prediksi Bank Indonesia pada bulan September lalu yaitu diperkirakan Kepri bisa tumbuh sekitar 3,9 – 4,4%.

“Terus terang kita cukup kaget dengan angka pertumbuhan yang lebih rendah dari prediksi tersebut,” jelasnya.

Menurut Apindo, tahun ini harusnya merupakan momentum kebangkitan perekonomian Kepri. Terutama dengan membaiknya harga minyak mentah dunia dan komitmen dari berbagai pihak untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7% pada tahun 2019. 

Jika pertumbuhan ekonomi hanya bisa tumbuh 4% saja di tahun 2018, maka akan sangat sulit mencapai target pertumbuhan 7% di tahun 2019 tersebut. Apalagi bila ternyata pertumbuhannya di bawah 4 persen.

Saat ini 70 persen ekonomi Kepri bergantung kepada Batam. Karena itu konsistensi perbaikan ekonomi di Batam akan menjadi solusi paling realistis. Rafki menegaskan, Pemko Batam dan BP Batam harus saling sinergi memperbaiki perekonomian. 

“Kita lihat Pemko dan BP Batam ini hanya akur diawal awal kepemimpinan Pak Lukita saja. Saat ini dua lembaga ini mulai memperlihatkan kerenggangan hubungan lagi. Hal ini berbahaya bagi kondisi investasi di Kepri khususnya Batam,” paparnya.

 

Penulis : SH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here