BINTAN, SIJORITODAY.com – – Pos Keamanan Laut (Posal) Tanjung Berakit beserta Pemerintah Desa Tanjung Berakit dan Desa Kelong mengadakan pertemuan untuk menyelesaikan permasalahan kesalahpahaman antara nelayan Desa Berakit dengan nelayan Tenggel Desa Kelong, di Balai pertemuan Desa Berakit, Senin (11/03/2019).

Permasalahan area tangkap kedua rombongan nelayan berawal nelayan dari Tenggel Desa kelong memasang bubu dengan menggunakan peralatan yang modern (GPS, Kapal GT.3-4, jumlah bubu 60 buah), sedangkan nelayan dari Panglong Desa Berakit menggunakan peralatan tradisional.

Tintin perwakilan nelayan Panglong Desa Berakit mengatakan, Nelayan dari Tenggel Desa Kelong juga meletakan bubu dengan cara diselam sedangkan nelayan dari Panglong Desa Berakit dengan dilempar dari atas perahu/secara tradisional.

Bahkan, katanya, nelayan dari Tenggel Desa Kelong memasang bubu terlalu dekat dengan lokasi tangkap nelayan Panglong Desa Berakit sehingga memicu perselisihan antar kedua nelayan yg pasti hasil tangkapnya akan berbeda dengan nelayan Tengger.

“Kami berharap agar Nelayan Tenggel Desa Kelong pada saat memasang bubu di perairan Berakit agar mengikuti adat istiadat setempat, sehingga tidak memicu permasalahan antar nelayan,” ujar Tintin.

Menanggapi hal itu, perwakilan nelayan Tenggel Desa Kelong, Yadi menjelaskan, pihaknya yang beroperasi di perairan Berakit seluruhnya berjumlah 8 kapal, pada saat ini yang ada di laut Berakit berjumlah 5 kapal.

Yadi mengakui bahwa pihaknya memasang bubu dengan menggunakan peralatan GPS dan diselam, dikarenakan sebelumnya banyak bubu pihaknya yang hilang sehingga nelayan Tenggel Desa Kelong menggunakan GPS dan penyelaman untuk mengurangi resiko hilang.

“Kami minta kepada nelayan Panglong Desa Berakit untuk menentukan dimana titik yg kami nelayan Tengger Desa Kelong tdk boleh memasang bubu,” kata Yadi mewakili rombongan nelayan Tanggel Desa Kelong.

Pertemuan tersebut akhirnya menghasilkan keputusan sementara antara lain, akan dilaksanakan survey untuk menentukan batas-batas area tangkap nelayan tradisional (Diagendakan hari Selasa 12-3-2019).

Nelayan Tenggel Desa Kelong boleh memasang bubu di area tangkap tradisional dengan catatan harus mengikuti adat/tradisi setempat, tidak menggunakan GPS dan tidak diselam, jumlah bubu yang di pasang tidak boleh lebih dari 20 buah.

Pada Selasa (12-3-2019) pukul 10.00 wib – 11.30 wib dini hari, Posal Tanjung Berakit bersama Ketua Nelayan Desa Berakit, Mamat, Tomas Desa Berakit, Ewin, Aris perwakilan nelayan Panglong Desa Berakit, Abdul dan Pendi serta perwakilan nelayan Tenggel Desa Kelong yang sudah berada di laut, melaksanakan penentuan titik/posisi area tangkap tradisional yakni di sekitar karang imbul laut dan karang imbul darat perairan Berakit, yang tidak boleh dilakukan nelayan luar menggunakan peralatan GPS dan Selam.

Posal Tanjung Berakit dan Pemerintah Desa Berakit berharap, agar kedua belah pihak nelayan yang beselisih dapat akur dan tidak ada lagi kecemburuan sosial diantara nelayan, sehingga terciptanya situasi yang kondusif di area tangkap nelayan.

Kemudian dengan telah ditentukan bersama titik/posisi area tangkap tradisional tersebut diharapkan kedepan kedua nelayan dapat mengindahkan kesepakatan dan saling menghargai sesama.

Pada pertemuan tersebut hadir Kades Berakit M.Adenan, Kades Kelong Alimin, Danposal Tanjung Berakit, BPD Desa Berakit Nangci, Ketua Nelayan Desa Berakit Mamat, Tokoh Masyarakat Ewin sekaligus sebagai moderator dan Tara Tokoh Masyarakat kampung Tenggel Desa Kelong, Aris masyarakat Berakit, Yadi perwakilan nelayan Tenggel Desa Kelong dan rombongan, serta Tintin perwakilan nelayan Panglong Desa Berakit dan rombongan.

 

Laporan: Aris
Editor: Akok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here