KEPRI, SIJORITODAY.com — Belasan Warga Negara Asing (WNA) ikut menyaksikan peristiwa langka Gerhana Matahari Cincin (GMC) di Kepulauan Riau pada Kamis (26/12). Yuk lihat seperti apa sih situasinya?

Warga berbondong-bondong mendatangi beberapa lokasi di Kepri. Mereka antre untuk mendapatkan kacamata khusus yang dibagikan di sana. Bukan hanya warga sekitar, warga negara Kolombia dan California, juga ingin menyaksikan peristiwa ini.

Di kota Tanjungpinang, turis mancanegara asal Kolombia, Matheo mengaku begitu terkesan dengan fenomena tersebut.

Saat ditanya soal kunjungannya ke negeri Segantang Lada ini, Matheo mengungkapkan ini merupakan pengalaman paling berharga bagi dirinya.

“It’s Amazing (red-sungguh ini sangat luar biasa),” tutur Matheo berbicara dalam bahasa inggris.

Matheo yang mengenakan kaos oblong dipadu celana jeans pendek tersebut tampak tidak menyia-nyiakan kesempatan menyaksikan gerhana matahari cincin di langit Tanjungpinang.

Ia terlihat menggunakan kacamata matahari untuk mengamati gerhana tersebut. Sesekali dia tampak mengabadikannya dengan ponsel genggam.

Sementara di alun-alun Engku Putri, Batam Centre, Randell Kirem bersama rekan-rekannya datang ke lokasi ini karena mengetahui ada pemantauan gerhana matahari cincin di sana.

“Kami melihat dari website, katanya Kota Batam adalah spot terbaik untuk melihat gerhana matahari,” ujar Randell dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

Sedangkan Guy saat ditanya pendapatnya tentang kota Batam, ia merasa kagum dengan warga Batam yang menurut mereka sangat ramah kepada wisatawan luar.

“Gerhana matahari adalah fenomena yang sangat luar biasa, dan juga keramahtamahan warga Kepri. Sehingga membantu saya merasa seperti tamu, terimakasih kepada seluruh warga Batam,” kata Guy.

Disamping itu, pantauan di lapangan, ratusan warga baik warga Tanjungpinang dan Batam begitu antusias melihat gerhana matahari cincin. Apalagi panitia menyediakan alat teleskop, teropong, dan kacamata matahari bagi warga yang ingin mengamati persitiwa langka tersebut.

“Sayang untuk dilewatkan. Apalagi fenomena ini terkahir kali di Tanjungpinang sekitar 135 tahun yang lalu,” tutur Azli warga kelahiran Tanjungpinang.(Mn dan Laka Amun Mama)

Editor: Taufik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here