TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com — A leader is a dealer in hope (seorang pemimpin adalah penjual harapan). Begitulah kalimat yang pernah dilontarkan salah satu pemimpin revolusioner yang pernah dimiliki Perancis, Napoleon Bonaparte.

Kalimat tersebut diucapkan, sebagai asa rakyat yang bergantung kepada seorang pemimpin, untuk membawa nasib dan masa depan mereka menjadi lebih baik.

Beredarnya isu pemindahan Pedagang Kaki Lima (PKL) dari Laman Boenda Gedung Gonggong ke Melayu Square oleh Pemerintah Tanjungpinang, kembali menyita perhatian publik. Tak Ayal, Kebijakan bak “simalakama” Walikota demi tegaknya Perda.

Jika tak ada aral melintang, 38 Pedagang Kaki Lima (PKL) tetap direlokasi ke Melayu Square dimulai sejak sekarang.

“Jadi PKL tidak ada yang beraktivitas lagi di kawasan ini. Adapun relokasi yang sudah disiapkan di Melayu Square, para PKL harus mensyukuri, dan harus mencoba terlebih dahulu,” ujar Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul, Kamis(26/12).

Meskipun masih banyak penolakan dari berbagai pihak. Syahrul tetap mengedepankan Peraturan Daerah (Perda) sesuai kesepakatan bersama.

“PKL harus nurut, harus ngertilah ini bukan keinginan kita, ini tempat sudah ada Perdanya. Apalagi, kita sudah tandatangani bersama Ketua DPR dan FKPD,” ungkap Syahrul.

Dikatakan Syahrul, para pedagang yang akan menempati Melayu Square ini akan digratiskan selama satu bulan.

Wakil Ketua DPR Kota Tanjungpinang, Ade Angga

Sementara Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang, Ade Angga mengkritik kebijakan pemerintah terkait pemindahan 38 PKL yang biasa berjualan di Laman Boenda, ke Kawasan Melayu Square.

Menurut Ade Angga, Pemerintah dapat berfikir lebih kreatif. Apalagi, kata Ade, sebelumnya PKL sudah pernah berjualan di Melayu Square, dengan kondisi sepi pengunjung atau pembeli.

“Meskipun dengan maksud untuk menegakkan peraturan daerah (perda), Pemko tetap harus memperhatikan kondisi perekonomian masyarakat kecil,” kata Ade Angga.

Ade Angga pun menyarankan, agar Pemko khususnya dinas terkait mendata dan menghiasi wajah pedagang baik pakaian dan gerobak jualannya dengan corak warna sehingga bercorak wisata.

Politisi Golkar itu juga menyebut, momen relokasi PKL dalam situasi saat ini tidak tepat, karena kondisi pengunjung atau masyarakat khususnya ke Laman Bunda sedang ramai menyambut natal hingga tahun baru 2020.

“Kalau mau relokasi seharusnya setahun yang lalu. Kalau sekarang sedang ramai, pasti akan sangat membantu perekonomian mereka (PKL),” tegasnya.
(Tf-Mn)

Editor: Taufik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here