TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com — Kasus penyalahgunaan narkoba di wilayah hukum Provinsi Kepri meningkat tajam. Sejak Januari hingga Desember 2019, Badan Narkotika Nasional ( BNN) telah mengungkap sebanyak 80 kasus. Angka ini meningkat dibanding 2018 lalu hanya 49 kasus.

Menurut Kepala BNN Kepri, Brigjen Polisi Richard Nainggolan, angka tersebut meningkat dibanding tahun 2018 sebanyak 49 kasus dengan barang bukti berupa 50 kilogram sabu, 40 ribu ekstasi, dan 212,94 gram ganja.

“Kendati penanganan kasus narkoba Kepri meningkat, ya bukan berarti jumlah pengguna pun ikut meningkat,” katanya.

Richard tak menampik bahwa peredaran narkoba di wilayah Kepri sebagian besar berasal dari negeri jiran, Malaysia.

Pihaknya sudah berupaya menjalin koordinasi dengan pihak terkait di Malaysia untuk bekerjasama menuntaskan mata rantai peredaran benda haram tersebut.

“Tapi Malaysia sendiri pun mengaku kalau narkoba itu bukan berasal dari daerah mereka, melainkan juga datang dari negara lain,” sebut Richard.

Dia mengaku narkoba merupakan kejahatan yang luar biasa bahkan peredarannya lintas negara.

Kewenangan untuk melakukan investigasi terkait asal maupun pabrik narkoba di negara lain pun tak diperbolehkan.

“Secara yuridis kami hanya bisa melakukan penegakkan hukum di wilayah Indonesia, khususnya Kepri,” imbuhnya.

Dia turut menambahkan secara umum peredaran narkoba di Kepri lebih banyak di tempat umum. Kendati bukan rahasia umum, kalau narkoba juga diedarkan di sejumlah diskotik atau tempat hiburan malam.

“Memang benar di diskotik masih ada, kami gencar melakukan razia. Tapi kewenangan untup menutup tempat hiburan itu kami tak punya,” tuturnya. (Mn)

Editor: Taufik

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here