JAKARTA,SIJORITODAY.com – –  Nama Reynhard Sinaga belakangan ini santer dibicarakan. Mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Inggris ini divonis hukuman seumur hidup oleh pengadilan setempat setelah terbukti memerkosa 48 pria. Akibat kasus mengerikan itu, tak sedikit yang berpendapat bahwa ia punya gangguan mental psikopat. Apa tanggapan psikolog?

Seputar Kasus ‘Luar Biasa’ Reynhard Sinaga

Sebelum mengetahui pendapat psikolog soal kasus pemerkosaan sesama jenis yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga, ada baiknya Anda ketahui dulu sekilas tentang kasus kriminal psikologis ini. Reynhard adalah mahasiswa S1 jurusan Teknik Arsitektur Universitas Indonesia kelahiran 1983 yang melanjutkan S2 Sosiologi di Red Brick University, Manchester, Inggris.

Setelah menuntaskan pendidikan pascasarjana, anak pertama dari tiga bersaudara tersebut kembali ingin menyabet gelar Ph.D. di kota yang sama, Manchester (University of Leeds). Dalam studi S3-nya, ia sedang menulis sebuah studi yang berjudul “Sexuality and Everyday Transnationalism in South Asian Gay and Bisexual Men in Manchester”.

Seperti yang dikutip dari Sky News, Deputi Jaksa North West, Ian Rushton mengatakan, ia adalah pemerkosa paling ‘produktif’ dalam sejarah Inggris. Bagaimana tidak? Meski korban yang terbukti berjumlah 48 orang, terdapat dugaan ia memerkosa 190 orang!

Dilansir dari berbagai sumber, Reynhard tinggal seorang diri di sebuah apartemen di Manchester. Menurut keterangan dari penegak hukum Inggris, ia mengincar korban pria yang berusia muda, mabuk, dan sedang berjalan sendirian. Mereka biasanya berasal dari bar atau kelab malam.

Ada pula satu korbannya yang diperkosa secara berkali-kali. Tak hanya itu, Reynhard juga merekam secara detail hubungan seks yang dilakukannya! Sebagian besar korbannya adalah heteroseksual, bukan homoseksual. Dalam persidangan, mereka mengaku tidak bersedia melakukan hubungan sesama jenis.

Hanya saja, Reynhard adalah tipikal orang yang manipulatif. Semua korbannya dibuat tidak sadarkan diri. Diduga, ia menggunakan obat bius yang kerap dipakai untuk memerkosa yaitu Gamma hydroxybutyrate (GHB).

Obat tersebut juga diduga dicampurkan ke dalam minuman dan mampu membuat korban tertidur serta tidak sadarkan diri selama berjam-jam.

Lalu, Benarkah Ia Seorang Psikopat?

Sementara itu, Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog dari KlikDokter mengungkapkan perilaku yang telah dilakukan oleh Reynhard Sinaga memang kemungkinan karena adanya gangguan mental. Namun, tak berhak rasanya bila langsung mendiagnosis bahwa Reynhard adalah benar-benar seorang psikopat.

Memang, ada kecenderungan ke arah psikopat. Pasalnya, terdapat beberapa ciri-ciri psikopat yang mirip dengan karakter Reynhard dalam kasusnya, yaitu sebagai berikut.

  1. Tidak memiliki hati nurani atau empati. Tindakan Reynhard sangat merugikan orang lain, yaitu tega memerkosa secara kejam dan membius terlebih dulu.
  2. Memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi dengan penipuan atau kebohongan yang konsisten. Dalam memanipulasi orang lain, pelaku akan menggunakan pesona atau kecerdasannya. Reynhard mampu berkenalan dan membawa banyak pria ke apartemennya sebelum diperkosa.
  3. Berulang kali melanggar hak orang lain, mengintimidasi, tidak jujur, dan salah mengartikan sesuatu. Pelaku bertindak spontan tanpa memikirkan perasaan pihak lain, serta memiliki rasa superioritas dan gemar memamerkan keunggulannya. Contohnya, suka dengan ketidakberdayaan korban dan mendokumentasikannya.

Namun sekali lagi, hal itu membutuhkan pemeriksaan secara langsung dan lebih terperinci. Selain itu, ada kelainan kepuasan seksual yang dimiliki Reynhard.

Kemungkinan, ia tidak akan puas bila korbannya adalah orang yang secara sadar melakukan hubungan seksual dengan dirinya, sekalipun atas dasar “suka sama suka”. Ia butuh ketidakberdayaan korban.

Sedangkan, untuk motif merekam aktivitas seksual yang dilakoninya, Reynhard Sinaga bisa melakukannya demi memuaskan fantasinya, atau untuk merugikan si korban (sebagai bahan untuk mengancam).

“Yang tak boleh dilupakan juga adalah korbannya. Ada korban yang diperkosa berkali-kali. Korbannya pasti trauma, setelah trauma pasti akan depresi. Bukan tak mungkin kondisi yang diciptakannya membuat si korban melakukan hal yang sama kepada orang lain dan berubah menjadi perilaku. Polanya memang seperti itu. Jadi, mereka butuh terapi!” jelas Ikhsan.

Ikhsan juga menambahkan pada dasarnya, hukuman tidak memberikan efek jera kepada pelaku pemerkosa dengan gangguan mental.

“Ya, karena mereka tidak punya perasaan bersalah alias perasaannya sudah ‘mati’. Mereka tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Jadi, percuma saja. Harus seimbang, ditahan dan diberikan terapi,” katanya.

Sumber : KlikDokter
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here