Ist

TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – – “Oom, jangan tutup tempat kami belajar ya om. Kami senang disini,” ucap Bunga (5) (nama samaran) polos kepada awak media ini saat mengunjungi kantor Yamet di komplek D’Green City jalan Raya Dompak, Tanjungpinang, Sabtu (8/2/2020) kemarin.

Diruang berukuran 2×1,5 meter terlihat Bunga dan beberapa anak berkebutuhan khusus lainnya sedang dilatih oleh tenaga pendamping di yayasan tersebut.

Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Bunga berupaya sepenuh hati untuk bisa menyampaikan keluh kesahnya, agar tempat dia mengenyam pendidikan non formal ini tidak ditutup akibat kendala izin yang tak kunjung tiba.

Sedih bercampur haru terasa sesak di dada, sebuah ungkapan dan jeritan seakan mengetuk dihati.

Ya, Bunga adalah sekian dari jumlah anak yang tengah konsentrasi belajar menjadi layaknya anak normal lainnya. Butuh waktu dan kesabaran yang kuat untuk itu.

Sebagai penyandang anak berkebutuhan khusus, bukan berarti harus berdiam diri dan berpangku tangan. Banyak hal yang dapat diraih meski dirundung kekurangan.

Menggapai ruang gerak dalam cakupan luas dan mengeksplorasi beragam hal telah merasuk dalam deru asa yang menggebu penyandang anak berkebutuhan khusus. Ini pula tidak lepas dari aksi nyata dari pihak-pihak yang tiada henti memberi dukungan.

Satu di antaranya adalah Yamet Child Development Center, yayasan yang berada di komplek D’Green City jalan Raya Dompak Tanjungpinang ini turut mendampingi anak-anak penyandang berkelakuan khusus agar memiliki kesempatan setara dengan anak yang normal.

Dalam upaya membangun jembatan kesetaraan, yayasan ini memberi sentuhan edukasi dibarengi dengan inklusif yang turut menyertakan anak berkebutuhan khusus ini.

Ketangguhan peran seorang ibu pun sangat dibutuhkan, hal ini terlihat pada Ibu Netty (33). Seorang ibu dari anak berkebutuhan khusus yang sudah lama mengasah kemampuan di yayasan Yamet ini.

Dia tak pernah mengeluh soal kondisi yang dialami anaknya. Bahkan, seluruh keluarga mendukung upaya untuk kesembuhan anaknya. Walau sudah mencapai 4 (empat) tahun, Netty tidak pantang menyerah terhadap sang buah hati.

“Saya sedih saat orang-orang memandang dia sebagai anak yang tidak normal, bahkan pernah ada orang bilang anak saya gila karena belajar di Yamet,” ungkap Netty sembari menitikkan air mata.

Namun, Netty menganggap itu hal yang wajar. Sebab, menurut Netty, mereka tidak memahami anak yang memiliki kebutuhan khusus.

“Kalau untuk kesehatan anak, saya tidak pernah mengeluh. Apalagi keluarga saya semuanya mendukung segala upaya yang saya lakukan. Walau kami harus bolak balik ke Singapore,” katanya.

Setelah hadirnya Yamet di kota Tanjungpinang, Netty sangat bersyukur. Ia mengaku sang buah hati yang kini beranjak 4 tahun telah menunjukkan perubahan sejak ikut terapi yang dijalaninya sejak 3 tahun lalu.

“Dulu saya bawa ke Singapore, dengan adanya Yamet kami sangat terbantu, dimana sebelumnya anak saya yang gak aktif berkomunikasi sekarang udah bisa membedakan mana yang baik, dan kurang baik,” sebut Netty dengan sumringah.

Senyum dan tawa Netty tiba-tiba terhenti, mengingat beredar kabar pemberitaan terkait izin praktik bagi dokter TG dan Yamet. Dia merasa khawatir apabila Yamet terancam ditutup.

“Kami mau membawa kemana anak-anak kami, bapak-bapak kan bisa lihat, bagaimana anak-anak disini kondisinya. Kalau saja hal ini bapak alami bagaimana,” tutur Netty.

Tak dapat dipungkiri, keberadaan anak berkebutuhan khusus ini akan membawa perubahan besar pada hampir seluruh aspek kehidupan keluarga. Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus harus melatih diri untuk menjadi lebih sabar dalam merawat dan membesarkan putranya.

Dibutuhkan perhatian ekstra besar untuk anak autistik serta penerapan interaksi dan disiplin yang sesuai dengan karakter anak tersebut.

Lantas, bagaimana menyikapi persoalan ini apabila ada orang tua yang tidak memiliki kemampuan lebih. Apakah orang tua membiarkan anaknya hidup diantara anak-anak normal hingga tersisih karena kondisinya. Atau juga berusaha mencari pengobatan sedangkan kemampuan terbatas.

Oleh karena itu, pemilik yayasan Yamet, Meta Liandri tetap fokus membantu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus ke fase tahapan menerima terlebih dahulu.

Meta juga menjelaskan saat ini yayasannya terus melayani dan mendidik mulai dari anak down syndrome atau bawaan genetik dan anak yang salah pola asuh.

“Kehadiran Yamet disini bukan mencari keuntungan semata, tujuan kami mulia. Hanya saja, mungkin ada orang tidak paham dengan kerja kami sehingga seperti ini kejadiannya,” tandasnya.

Mengenai pemberitaan sebelumnya, Meta berharap izin beroperasi yayasan yang telah diajukannya itu dapat segera dikeluarkan oleh pemerintah

Sebab, pasca pemberitaan soal izin cukup membuat para orang tua cemas.

“Ya mereka takut saja kalau Yamet ini ditutup. karena banyak anak berkebutuhan khusus disini. Jadi wajar dong, kalau orang tua khawatir. Mengingat hanya disini satu-satunya untuk anak yang ABK,” pungkasnya.

Ya, semoga pemerintah kota Tanjungpinang khususnya dinas terkait terketuk hatinya. Mencari solusi, agar anak berkebutuhan khusus tertangani dengan baik. Amin..! (Sueb & Nuel)

Editor: Taufik

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here