ANAMBAS, SIJORITODAY.com–¬†Jum’at pagi, 06 Maret 2020, Ansar Ahmad

atau akrab disapa Bang Ansar, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia dari Fraksi Partai Golkar periode 2019-2024 bertandang ke Kecamatan Tarempa Kabupaten Kepulauan Anambas.

Kedatangan anggota Komisi V DPR RI di Senayan ini merupakan kunjungan kerja guna melakukan observasi dan melihat kondisi perkembangan masyarakat setempat.

Tampak puluhan warga sudah menanti kedatangannya, tidak peduli soal waktu. Mereka berkeinginan menjumpai Ansar Ahmad yang dikenal ramah dengan siapapun tanpa mengenal kasta. Apalagi, Ansar Ahmad sudah terbiasa dengan kehidupan wong cilik.

Nah, sesampainya Ansar di lokasi yang telah disediakan, sejumlah warga tampak menyalami dirinya. Disitu juga, telah hadir beberapa nelayan yang tergabung Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Anambas.

Memang sih, agenda Ansar Ahmad selain bertemu warga juga bertemu dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kepulauan Anambas.

Acara yang ditunggu pun telah tiba, secara simbolis HNSI langsung menyerahkan pernyataan sikap kepada Ansar Ahmad di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Jum’at (6/3/20).

Pernyataan sikap penolakan ini terkait langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang membolehkan 30 kapal ikan berbasis cantrang melaut di perairan Natuna.

“Kami berharap dengan kehadiran Bapak Ansar selaku anggota perwakilan rakyat Kepri di Senayan, dapat membantu permintaan dan keluhan warga di Kepulauan Riau khususnya Anambas,” kata salah seorang perwakilan nelayan setempat.

Sementara, putra kelahiran Kijang Kabupaten Bintan ini siap memperjuangkan aspirasi masyarakat Anambas. Mengingat kepercayaan masyarakat kepadanya, Ansar akan menindaklanjuti permintaan masyarakat nelayan terkait Cantrang yang bakal melaut di Kepulauan Natuna.

“Secepatnya akan berkoordinasi dengan Kementrian Kelautan dan aparat terkait sehubungan dengan keluhan masyarakat nelayan Anambas,” ujar Ansar Ahmad.

Sebab, kata Ansar, nelayan Anambas harus dilindungi dengan jaminan bahwa laut Anambas tempat mereka mencari nafkah. Apalagi, mata pencaharian sehari-hari sebagain besar warga setempat adalah nelayan.

“Makanya tidak boleh dijarah oleh nelayan asing dan nelayan pemodal besar yg menggunakan alat tangkap modern yang merusak biota laut dan mematikan sumber pendapatan nelayan lokal,” tutur Ansar tegas.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo yang membolehkan 30 kapal ikan berbasis cantrang melaut di perairan Natuna.

Kebijakan tersebut banyak menuai kritik dari nelayan setempat. Salah satunya, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepulauan Anambas, secara tegas menolak nelayan pantura dengan alat tangkap cantrang datang ke perairan Anambas.

Ya, semoga ini merupakan langkah “Jihad” Ansar Ahmad untuk memperjuangkan aspirasi masyakarat khususnya nelayan di negeri Segantang Lada tercinta.

Penulis: Taufik

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here