(Dalam Dua Tulisan)
Oleh : Heri Afrizon
Indonesia merupakan produsen sarang burung walet terbesar di dunia. Mencapai lebih dari 75 % sarang walet yang beredar di dunia berasal dari Indonesia. Sarang walet rumahan asal Indonesia menguasai hampir 98% pasokan pasar dunia karena bentuknya yang lebih bersih, lebih putih dan tidak terlalu tebal. Sementara pasar sarang walet hitam dipegang oleh Malaysia karena kualitasnya lebih baik dari pada sarang hitam yang di ekspor oleh negara produsen lain. Sarang walet banyak diminta oleh importir terbesar saat ini yaitu Hongkong dan Amerika Serikat. Jangkauan pasar sarang walet asal Indonesia adalah Hongkong, China, Taiwan, Singapura, dan Kanada. Sekitar 80% pasar sarang walet Asia dipasok oleh produsen dari Indonesia. Sarang walet memiliki harga yang berfluktuasi. Ditingkat eksportir harga sarang walet hitam gua mencapai Rp 3.500.000,00/kg, sarang rumput/seriti harganya sekitar Rp 2.500.000,00/kg, harga sarang walet gua warna putih bisa mencapai Rp 12.000.000,00/kg sedangkan sarang walet rumahan putih mencapai Rp 17.000.000,00/kg. Harga sarang walet dapat terjadi perubahan setiap waktu tergantung dari hasil negosiasi dan kesepakatan (Trubus, 2005).
Provinsi Riau merupakan incaran bagi pengusaha walet untuk membuat gedung/rumah sarang walet sebagai salah satu investasi mereka. Penyebaran bangunan gedung sarang walet di Provinsi Riau antara lain wilayah Kabupaten Inhil, Siak, Kampar, Pelalawan, Rokan dan Kabupaten Kota lainnya, berikut sebaran Peternak Sarang Burung Wallet di Provinsi Riau sebagai berikut:
REKAP DATA JUMLAH PETERNAK SARANG BURUNG WALET PER KAB/KOTA SE PROVINSI RIAU TAHUN 2020
| NO | KABUPATEN/KOTA | ||
| RUMAH SARANG | KETERANGAN | ||
| BURUNG WALET | |||
| 1 | SIAK | 192 | DATA YANG MASUK |
| 2 | BENGKALIS | 130 | DATA YANG MASUK |
| 3 | KUANSING | 27 | DATA YANG MASUK |
| 4 | ROKAN HULU | 32 | DATA YANG MASUK |
| 5 | ROKAN HILIR | 534 | DATA YANG MASUK |
| 6 | INDRAGIRI HULU | 73 | DATA YANG MASUK |
| 7 | INDRAGIRI HILIR | 1037 | DATA YANG MASUK |
| 8 | PELALAWAN | 562 | DATA YANG MASUK |
| 9 | KAMPAR | 616 | DATA YANG MASUK |
| 10 | KEP. MERANTI | 74 | DATA YANG MASUK |
| 11 | PEKANBARU | 10 | DATA YANG MASUK |
| 12 | DUMAI | 12 | DATA YANG MASUK |
| JUMLAH | 3299 |
Sumber : Dinas PKH Riau 2020
Kalau dilihat per Kabupaten / Kota maka Kabupaten yang terbanyak yang masyarakatnya memelihara Sarang Walet adalah Kabupaten Indragiri Hilir dimana ditunjang daerah aliran Sungai Indragiri disusul Kabupaten Kampar yang juga wilayah dengan aliran sungai Kampar selanjutnya ada Pelalawan dan Rokan Hilir yang juga daerahnya dialiri sungai. Penyebab dari tingginya populasi burung walet di lokasi – lokasi tersebut dikarenakan mayoritas wilayah Provinsi Riau adalah area yang dialiri sungai sumber ikan dan perkebunan yang memiliki sumber makanan banyak bagi burung walet serta memiliki tingkat suhu dan kelembapan yang sesuai dengan habitat yang disukai oleh burung wallet.
Di tahun 2010 banyak bermunculan gedung – gedung yang diperuntukkan sebagai budidaya sarang burung walet. Pembangunan gedung sarang walet banyak terdapat di lokasi Persawahan dan Permukiman milik warga. Lokasi gedung sarang walet yang paling menonjol terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir. Gedung sarang burung walet banyak dijumpai di permukiman warga. Bangunan Gedung Sarang walet ini dapat berupa bangunan tersendiri yang berada di sekitar permukiman warga maupun di lantai atas dari rumah warga serta bangunan toko dan gedung-gedung yang dibuat tersendiri khusus untuk bangunan wallet. Dari 12 Kabupaten dan Kota di Provinsi. Riau yang sangat berpotensi dan berkembang pesat usaha burung walet saat ini terdapat di Kabupaten Kampar, Pelalawan dan Rohil karena didukung oleh masih luasnya persawahan dan pepohonan dibagian daerah tersebut tempat dimana burung walet memiliki sumber makanan yang melimpah, lokasi strategis, iklim yang cocok bagi burung walet dan kondisi lingkungan yang baik.
Kalau dihitung rata – rata sarang burung wallet bisa menghasilkan persarang sekitar 1 kg sampai 15 kg sekali panen kalau di rata-rata aja 10 Kg dengan siklus 4 kali dalam setahun dapat diperoleh nilai (value) bagi masyarakat sebagai berikut :
NILAI PENJUALAN HASIL SARANG BURUNG WALET SE PROVINSI RIAU TAHUN 2020
| NO | KABUPATEN/KOTA | NILAI YANG | |
| SIKLUS PANEN | DIPEROLEH | ||
| 1 KG X 4 KALI SETAHUN | @ 15 jt/ KILO | ||
| 1 | SIAK | 192 x 40 = 768 | 11.520.000.000.- |
| 2 | BENGKALIS | 130 X 40 = 528 | 7.800.000.000,- |
| 3 | KUANSING | 27 X 40 = 108 | 1.620.000.000,- |
| 4 | ROKAN HULU | 32 X 40 = 128 | 1.920.000.000,- |
| 5 | ROKAN HILIR | 534 X 40 = 2.136 | 32.040.000.000,- |
| 6 | INDRAGIRI HULU | 73 X 40 = 292 | 4.380.000.000,- |
| 7 | INDRAGIRI HILIR | 1073 X 40 =4.292 | 64,380.000.000,- |
| 8 | PELALAWAN | 562 X 40 = 2.248 | 33.720.000.000,- |
| 9 | KAMPAR | 616 X 40 = 2.464 | 36.960.000.000,- |
| 10 | KEP. MERANTI | 74 X 40 = 296 | 4.440.000.000,- |
| 11 | PEKANBARU | 10 X 40 = 40 | 600.000.000,- |
| 12 | DUMAI | 12 X 40 = 48 | 720.000.000,- |
| JUMLAH | 3.299×40 =131.960 | 1.979.400,000.000,- |
Sumber : Dinas PKH Riau 2020
Dari data diatas terlihat nilai tambah yang diperoleh oleh Kabupaten/Kota Se-Provinsi Riau dari hasil Sarang Burung Walet setahun atau satu siklus bisa mencapai kurang lebih berkisar Rp. 1.979.400.000.000,- (Satu Triliun Sembilan Ratus Tujuh Puluh Sembilan Milyar Empat Ratus Juta Rupiah) artinya perputaran uang dari hasil Sarang Burung Walet sungguh sangat menjanjikan dalam, rangka mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), ini terlihat betapa potensi Sarang burung Walet sangat menjanjikan apabila di kelola oleh Pemangku kepentingan baik di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten dan Kota.
REKAP DATA KOMODITAS DOMISTIK SARANG BURUNG WALET KELUAR MELALUI KARANTINA PEKANBARU
DI PROVINSI RIAU TAHUN 2020
| NO | BULAN | ||
| KOMODITAS SARANG | TOTAL PENDAPATAN | ||
| BURUNG | @15.000.000/KG | ||
| WALET | |||
| 1 | JANUARI | 10.643 | 159.645.000.000 |
| 2 | FEBRUARI | 9.663 | 144.945.000.000 |
| 3 | MARET | 11.723 | 175.845.000.000 |
| 4 | APRIL | 9.644 | 144.660.000.000 |
| 5 | MEI | 0 | 0 |
| 6 | JUNI | 9.943 | 149.145.000.000 |
| 7 | JULI | 14.863 | 222.945.000.000 |
| 8 | AGUSTUS | 11.124 | 166.860.000.000 |
| 9 | SEPTEMBER | 7.580 | 113.700.000.000 |
| 10 | OKTOBER | 10.613 | 159.195.000.000 |
| 11 | NOVEMBER | 10.517 | 157.755.000.000 |
| 12 | DESEMBER | 10.345 | 155.175.000.000 |
| JUMLAH | 116.658 | 1.749.870.000.000 |
Sumber : Karantina Pekanbaru 2020
Dari data diatas terlihat nilai tambah yang diperoleh oleh Kabupaten/Kota Se-Provinsi Riau dari hasil rekap data Komoditas Domistik Sarang Burung Walet keluar melalui Karantina Pekanbaru pada periode satu tahun bias mencapai kurang lebih sebesar Rp. 1.749.870.000.000,- (Satu Triliun Tujuh Ratus Empat Puluh Sembilan Milyar Delapan Ratus Tujuh Puluh Juta Rupiah). Dibandingkan hasil Data yang masuk dari hasil perhitungan panen masyarakat dengan siklus 4 kali panen cukup mendekati hitungan yang masuk dari Karantina Pekanbaru lebih dari dua Triliun
POTENSI SARANG BURUNG WALET DARI SEKTOR PAJAK DI PROVINSI RIAU
Kalau dilihat potensi sarang burung wallet dari sektor Pajak dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kita mengacu pada Undang undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, bahwa kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi , pemerataan dan keadilan serta masyarakat, dan akuntabilitas . Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 tentang PPH atas Penghailan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki Peredaran Bruto tertentu, mengatur tentang ketentuan tarif PPH Final 0,5 % bagi UKM dengan Omzet tidak lebih dari Rp. 4.8 miliar setahun
Jika pendapatan wallet dari data komoditas burung wallet dari Karantina Pekanbaru setahun mencapai 116.658 Kg X Rp. 15.000.000 maka diperoleh hasil Rp. 1.749.870.000.000 maka dapat diperoleh Pajak untuk Daerah sebagai berikut:
Pajak Sarang Burung Walet = 10 % X Rp. 1.749.870.000.000
Rp. 174.987.000.000
PPH Final = 0.5 % X Rp.1.749.870.000.000
Rp. 8.749350.000
Kalau dilihat pendapatan dari Pajak dan Retribusi Daerah maka diperoleh pajak untuk daerah sebagai Pendapat Asli Daerah baik untuk Pemerintah Provinsi Riau maupun tingkat Kabupaten dan Kota sebesar Rp. 174.987.000.000,- (Seratus Tujuh puluh Empat Milyar Sembilan Ratus Delapan Puluh Tujuh Juta Rupiah)
STRATEGI PENGEMBANGAN DAN PEMASARAN SARANG BURUNG WALET DI PROVINSI RIAU
Strategi adalah rencana berskala besar yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh serta ditetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya dalam kondisi persaingan yang semuanya diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan dengan berbagai sasaran organisasi yang bersangkutan. Sedangakan pengembangan merupakan upaya meningkatkan pengetahuan yang mungkin digunakan segera atau sering untuk kepentingan di masa depan (Mangkuprawira,2004).
Strategi pemasaran sarang walet merupakan bagian dari kegiatan yang akan menentukan keberhasilan suatu industri, produk yang baik akan dapat didistribusikan dengan baik kepada konsumen melalui strategi pemasaran yang tepat. mengetahui situasi pasar secara tepat merupakan hal yang penting dalam bisnis sarang walet karena saat ini diindikasikan masih terkontaminasi dengan bisnis semu yang tidak menyentuh pasar riil, adanya penyalur yang kredibel dan bertangguung jawab juga perlu diketahui, bnyak yang memproklamasikan dirinya sebagai penyalur, tetapi penyalur yang mempunyai akses ke berbagai tempat/ pasar riil saat ini belum banyak. Rata-rata dari penyalur sarang walet hanya bertindak sebagai perantara yang akhirnya menjual kembali kepada pihak lain yang membutuhkan dengan sebelumnya mengambil keuntungan. Untuk mendapat informasi awal, bisa diperoleh melalui internet, surat kabar, tabloid, atau peternak yang sukses menjual. Informasi-informasi yang riil dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan strategi pemasaran yang sudah harus dipikirkan sebelum melakukan budidaya walet (Wibowo, 2009).
Bisnis sarang walet dari tahun ke tahun semakin berkembang, hampir di setiap kota tampak orang berlomba-lomba membangun gedung walet, walaupun banyak bermunculan gedung walet belum tentu semuanya dihuni walet. Tidak sedikit terjadi gedung walet tetap kosong, tidak ada seekor walet pun yang mau bersarang di dalamnya. Inilah yang menjadi permasalahan pengusaha sarang walet. Ada dua penyebab gedung walet tetap kosong pertama terjadi kesalahan pada fisik gedung yang seharusnya memperhatikan faktor suhu, kelembapan, pengaturan cahaya, papan sirip, pintu masuk dan faktor lain. Kedua, populasi burung tidak sebanding dengan perkembangan jumlah gedung walet. Ini disebabkan populasi burung meningkat sesuai deret hitung, sedangkan jumlah gedung meningkat sesuai deret ukur. Akibatnya, populasi burung semakin tertinggal dari jumlah gedung yang dibangun.
Dengan meningkatnya jumlah perdagangan dan permintaan pada setiap tahunnya maka dapat disimpulkan bahwa perdagangan sarang burung walet sangat berprospek. Ini disebabkan permintaan banyak, tetapi produk yang tersedia sangat terbatas, karena burung walet sendiri tidak dapat diternakkan. Makanan burung walet pun masih tergantung pada alam. Walaupun sangat berprospek, harga jual maupun harga beli sarang walet sangat berfluktuasi. Tidak heran kalau eksportir yang sudah lama berkecimpung pada bisnis ini pun sering mengalami untung maupun rugi. Untuk menjaga reputasi penjual dan mempertahankan pelanggan, tetap saja eksportir menjual produknya walupun terjadi fluktuasi kurs mata uang asing atau faktor lain
PERANAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI RIAU DALAM PEMANFAATAN POTENSI SARANG BURUNG WALET
Sudah sepantasnya Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten Kota hendaknya dapat menjadikan Potensi Sarang Burung Walet sebagai alternatif menjadikan Sumber Pendapatan Asli Daerah dari sektor Pajak dan Retribusi Daerah. Kalau dilihat Potensinya yang sudah penulis gambarkan terjawab sudah bahwa Sarang Burung Walet mempunyai aspek ekonomi yang menjanjikan baik untuk peternak dan Asosiasi Burung Walet maupun bagi Pemerintah Daerah khususnya Provinsi Riau. Pemerintah Provinsi Riau bisa memberdayakan Badan Usaha Milik Daerah sebagai Penampung bagi peternak Sarang burung wallet dan memasarkannya melalui asosiasi Sarang Burung Walet di Pulau Jawa dan bekerja sama dengan Stake Holder Terkait dalam hal :
Pertama, Identifikasi Para Peternak Sarang Burung Walet sejak dini. Kedua, Melakukan Pemberdayaan dan Pengembangan Peternak sarang Burung wallet melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau Ketiga, Melakukan pembenahan Regulasi pengaturan distribusi Sarang Burung Walet dan Aspek Legal sebagai PAD Pemerintah Provinsi Riau Keempat, melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian sebagai motor penggerak Kementerian yang membidangi Peternakan.
