Sijori Today

Desa Mepar Destinasi Wisata Sejarah dan Religi di Lingga

Meriam Sumbing salah satu objek wisata di Desa Mepar Kabupaten Lingga.

LINGGA,SIJORITODAY.com – Desa Mepar merupakan pintu masuk Kabupaten Lingga yang kaya sejarah dan adat budaya. Kearifan lokal yang masih terjaga di tengah hiruk-pikuknya moderenisasi.

Cagar budaya yang masih berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan di masa kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang, menjadi saksi bisu betapa pentingnya pulau ini.

Berdasarkan catatan sejarah Lingga merupakan pusat tamaddun yang cukup lama, lebih kurang 113 tahun menjadi pusat pemerintahan para Sultan Melayu di Daik.

Sejak 1787 sampai 1900-an, umur yang panjang dan tua menjadi sebuah pusat pemerintahan.

Barulah pada tahun 1900, menjelang penghapusan kesultanan oleh Belanda, pusat pemerintahan dipindahkan ke Pulau Penyengat.

Daya tarik Pulau Mepar tak lepas dari catatan sejarah dengan adanya makam Temenggung Jamaluddin, Datok Kaya Motel, benteng-benteng Mepar, serta cerita meriam sumbing.

Lebih jauh, Daik juga dikenal sebagai negeri para Sultan atau Yang Dipertuan Besar.

Ada empat Yang Dipertuan Besar dan seorang Yang Dipertuan Muda yang bersemayam di tanah Daik.

Mereka adalah Sultan Mahmud Riayat Syah III (Marhum Masjid), Sultan Abdul Rahman Syah (Marhum Bukit Cengkeh), Sultan Muhammad Syah II (Marhum Kedaton) serta Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II serta Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Dipertuan Muda Riau X.

“Kita harus mampu menggrand desainnya semaksimal mungkin untuk wisata sejarah dan religinya disini salah satunya,” kata Buralimar Kepala Dispar Kepri.

Pemkab Lingga sudah merancang rencana besar tersebut, namun perlu dukungan dan semangat dari semua kalangan termasuk para pelaku budaya dan masyarakat di Desa Mepar.

Dengan terbentuknya LAM Desa Mepar, ada harapan besar agar dapat menjadi motor penggerak adat dan budaya bagi masyarakat setempat.

“Dengan semangat bersama, walaupun baru akan memulai untuk mempromosikan. Walaupun terkesan terlambat namun tidak ada cerita terlambat untuk memulainya,” ujarnya.

Berkaitan dengan kearifan lokal, wisata religi yang masih dilestarikan di Mepar seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Berzanji yang sudah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia.

Selain itu wisata kuliner di Tanjung Buton dengan view gunung Daik, sudah pasti menjadi pelengkap destinasi di Desa Mepar.

“Bersama-sama kita bulatkan tekad dan keinginan kita untuk membangun Desa Mepar,” ajaknya. (*)

Editor: Nuel

Exit mobile version