BINTAN,SIJORITODAY.com – Dalam rangka memperingati Isra Mirad 1444 H di Desa Toapaya, penceramah kondang dari Oman, Syekh Syed Muhammad diundang untuk memberikan ceramah agama yang digelar di halaman Mesjid Nurul Iman Km 32 Cikolek Desa Toapaya, Kecamatan Toapaya, Minggu (19/2) pagi.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Toapaya Asrianto mengucapkan rasa bersyukur karena bisa berkumpul dengan warga dalam memperingati Isra Mirad 1444 H. Semoga kita senantiasa diberikan limpahan rahmad dan hidayah dari Allah SWT.
“Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, agar kita bisa bertemu lagi pada peringatan Isra Mirad tahun depan,” ucap Asrianto.
Ia pun berterima kasih kepada warganya yang antusias menghadiri peringatan Isra Mirad 1444 H. Asrianto mengajak kepada warganya untuk memetik makna yang terkandung dalam peringatan Isra Mirad.
“Semoga momen Isra Miraj ini kita bisa hijrah menjadi lebih baik lagi,” katanya.
Isra Miraj adalah perjalanan spiritual yang dialami Rasulullah, di mana Isra adalah ketika Baginda Nabi diberangkatkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam satu malam, sedangkan Miraj adalah lanjutan perjalanan Rasullah dari Masjidil Aqsa naik menuju langit ketujuh untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Sebelum memulai ceramah agamanya, Syekh Syed Muhammad melontarkan sebuah pertanyaan kepada majelis yang hadir. “Ini ceramahnya mau pakai bahasa Indonesia, bahasa Arab atau bahasa Inggris,” ucap Syekh yang masih belum fasih berbahasa Indonesia.
Rasullah kata dia, pada malam Isra Miraj dalam kondisi lelah dan hendak beristirahat. Namun, pada saat itu datang 50 ribu malaikat untuk membangunkan Baginda Nabi Muhammad untuk menuntunnya menuju Masjidil Aqsa.
“Untuk menuju Masjidil Aqsa itu tidak mungkin ditempuh dalam satu malam. Namun, karena kehendak Allah SWT, tidak ada yang tidak mungkin,” ungkapnya.
Dalam perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju langit, Baginda Nabi menerima hadiah dari Allah SWT yakni perintah menunaikan Shalat 50 waktu dalam satu hari satu malam. Namun, Baginda Nabi Muhammad meminta agar shalat menjadi 5 waktu.
“Itulah shalat 5 waktu yang sampai saat ini kita laksanakan,” kata Syekh.
Namun, kondisi saat ini banyak mesjid megah yang nyaman beribadah namun sepi jemaahnya. Hal ini berbeda jauh dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mensyiarkan Islam di masa itu yang penuh dengan tantangan dan rintangan.
“Kalau duduk di kedai kopi berjam-jam, tahan dia. Tapi kalau di mesjid tidak tahan dia,” kata Syekh disambut tawa jemaah yang hadir.
Amalan yang pertama dihisab yakni amalan shalat. Untuk itu, kepada jemaah Syekh berpesan agar jemaah senantiasa menunaikan perintah shalat dan amalan baik lainnya agar menjadi bekal dalam kehidupan abadi di akhirat nanti.
“Dalam 24 jam sehari, berapa waktu yang kita wakafkan untuk Allah SWT ? Coba pikirkan,” ujar Syekh. (oxy)
