BINTAN,SIJORITODAY.com – – Menjalani kehidupan di dalam sel tahanan, tentu bukanlah keinginan semua orang. Penyesalan setiap warga binaan yang mendekam dibalik jeruji besi, tentunya mengingatkan kepada mereka bahwa hidup harus lebih baik.
Penyalahgunaan narkoba, sering menjemuruskan orang ke sel tahanan. Namun, kisah berbeda dari seorang warga binaan Lapas Narkotika Klas IIA Tanjungpinang bernama Sukri.
Pria berbadan kurus itu sudah menjalani 5 tahun kehidupan di dalam lapas karena narkoba. Masa tahanannya sudah tidak lama lagi, menjelang kebebasannya Sukri sudah percaya diri.
Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Dr Sahardjo, S.H yang didirikan pihak Lapas Narkotika Klas IIA Tanjungpinang, kini menjadi tempat mengasah keterampilan. Sukri semakin mahir mengolah bahan baku kayu menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomis.
“Dari sini (LPK Lapas), saya memperdalam keahlian saya,” ungkap pria bertato di meja kerjanya, Kamis (27/7) siang.
Sukri tidak sendiri, beberapa rekan lainnya juga bergabung dalam LPK itu. Ada yang menjadi montir kendaraan roda 4, adapula yang menjadi tukang tralis. Keseharian mereka dikisahkannya, dihabiskan untuk memproduksi barang-barang yang memiliki nilai jual.
Sukri berharap, kebebasannya nanti bisa menjadi babak baru dalam kehidupannya. Memulai bisnis dibidang mebeuler untuk memperbaiki kehidupannya yang nyaris rusak karena narkoba.
Pria asal Sulawesi Selatan itu bersyukur, kehadiran LPK Dr Suhardjo, S.H di dalam lapas bisa mengasah keterampilannya dibidang mebeuler. “Bersyukur, jadi saya dan teman-teman lainnya bisa semakin terampil jelang kebebasan nanti,” timpalnya.
LPK Dr Suhardjo, S.H yang didirikan pihak lapas merupakan yang pertama dibawah Kanwil Kemenkumham Provinsi Kepri. Selain pelatihan keterampilan tersebut, adapula pelatihan produksi kue kering, kopi, tempe, kerupuk dan banyak lagi.
Pihak lapas sengaja menginisiasi program pembinaan ini agar para warga binaan yang bebas nanti sudah mengantongi kemampuan secara mandiri dalam menuju kehidupan yang lebih baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Kepala Lapas Narkotika Klas IIA Tanjungpinang, Edi Mulyono menyampaikan, program pembinaan kepribadian dan kemandirian ini untuk melatih para warga binaan jelang masa kebebasannya agar bisa diterima oleh masyarakat.
“Untuk program pembinaan kepribadian, kita gelar setiap Minggu. Ada yang muslim, nasrani dan Budha melakukan kegiatan keagaman ditempat ibadah masing-masing yang sudah kita sediakan,” terangnya.
Untuk pembinaan kemandirian, Edi mengatakan, LPK Dr Suhardjo, S.H didirikan kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja. Ia menerangnya, dengan begitu warga binaan bisa memiliki modal keahlian agar bisa mandiri saat bebas nanti.
“Untuk saat ini, hasil-hasil produk warga binaan kita masih untuk konsumsi internal. Tapi dari luar jika ingin memesan, bisa langsung ke kami,” ungkapnya.
Ia berharap, dengan program-program ini warga binaan yang mendekam dilapas bisa memperbaiki kehidupannya setelah bebas nanti. (oxy)
