Tim SAR gabungan bersama relawan saat melakukan simulasi penanganan korban kecelakaan laut di Pantai Dugong, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Sabtu (2/9) siang. Foto oleh Sijoritoday.com/oxy

BINTAN,SIJORITODAY.com – Kapal pemancing mengalami kecelakaan di perairan Trikora, Desa Malang Rapat, Sabtu (2/9) siang.

Masyarakat yang mengetahui kejadian itu langsung melaporkan kepada Rt setempat dan diteruskan ke Bhabinkamtibmas Desa Malang Rapat. Insiden tersebut pun disampaikan kepada BPBD Bintan dan menerjunkan Tim Respon Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) ke lokasi kejadian.

Sebanyak 4 orang pemancing yang menaiki kapal tersebut, tim resque gabungan dari Basarnas, Satpolairud Polres Bintan, BPBD, Tagana, PMI, Satpol PP, pramuka mendapat informasi langsung bergerak melakukan pertolongan.

3 orang dari 4 korban terlihat mengambang di permukaan air dan langsung diselamatkan tim resque, sementara 1 pemancing lainnya ditemukan kritis dan nyawanya tak tertolong saat berhasil dievakuasi ke bibir pantai.

Tim medis yang berupaya melakukan pertolongan tak mampu menyelematkan nyawa korban, 3 orang yang selamat langsung dibawa ke tenda evakuasi untuk ditolong. Sementara korban yang tewas langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat.

Demikianlah simulasi penanggulangan bencana dan pertolongan korban kecelakaan laut yang diinisiasi BPBD Bintan bersama tim SAR gabungan di Pantai Dugong, Desa Malang Rapat.

Kepala BPBD Bintan Ramlah menyampaikan, dengan simulasi ini diharapkan petugas yang tergabung bisa responsif dalam menangani setiap kejadian bencana termasuk kecelakaan di laut.

Ia mengutarakan, dengan kondisi geografis pulau Bintan yang 94 persennya merupakan daerah lautan tentunya menjadi prioritas menyiapkan tim untuk melakukan penanganan kecelakaan dilaut.

“Jadi semua unsur yang terlibat bisa responsif dalam melakukan upaya penanganan kecelakaan dilaut,” ungkap Ramlah disela-sela menyaksikan simulasi penanganan kecelakaan laut.

Ia menambahkan, dengan simulasi ini seluruh tim yang tergabung bisa memahami tugas dan fungsinya sehingga dalam setiap penanganan kejadian bencana dan kecelakaan dilaut bisa lebih cepat.

“Jadi semua bisa paham dan tahu, siapa berbuat apa, bagaimana berbuat apa, sudah tahu tupoksi masing-masing,” timpalnya.

Ia berharap, kegiatan simulasi semacam ini bisa rutin dilaksanakan minimal setahun 2 kali. Dengan harapan, penanganan bencana dan kecelakaan laut bisa lebih maksimal dalam meminimalisir korban jiwa. (oxy)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here