Sijori Today

425 Spesies Ikan Ditemukan di Konservasi Bintan

Victor Nikijuluw, Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia. F:Sijoritoday.com/istimewa

BINTAN,SIJORITODAY.com – Sebanyak 425 spesies ikan ditemukan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia (KI) Victor Nikijuluw mengatakan, delapan diantaranya berpotensi sebagai spesies baru yang belum pernah tercatat di dunia.

Temuan itu berdasarkan survei dilakukan oleh tim gabungan dari Pemprov Kepulauan Riau, Nikoi Cempedak, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Konservasi Indonesia.

“Kami temukan 425 spesies ikan, delapan punya potensi spesies baru yang belum pernah ditemukan. Masih potensi, ya, perlu analisis jauh lebih jauh,” katanya di Tanjungpinang beberapa waktu lalu.

Menurut Victor, temuan tersebut menjadi dasar bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menetapkan kawasan ini sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2022.

Selain potensi spesies baru, kawasan tersebut juga ditemukan memiliki 30 spesies ikan yang tergolong langka atau hampir punah.

Dengan temuan spesies ikan itu, KKPD Bintan dinilai sebagai aset penting untuk konservasi dan pendidikan.

“Ini luar biasa untuk wilayah Indonesia bagian barat. Kalau Raja Ampat di Papua bisa sampai 2.000–3.000 spesies, maka 425 spesies di Bintan ini sudah sangat besar untuk wilayah barat,” ujarnya.

Selain itu, dalam survei yang turut melibatkan dua ahli ikan karang dunia, Gary Allen dan Mark Erdmann, ditemukan bahwa 62 persen terumbu karang di perairan Bintan berada dalam kondisi hidup atau live coral cover, melebihi rata-rata nasional yang hanya sekitar 40 persen.

“Itu 62 persen, pada kedalaman sampai 10 meter, artinya ini bagus. Tapi yang cukup sedih, sedimentasi cukup besar, sehingga ini bisa mengganggu karang di masa yang akan datang,” tuturnya.

Namun, ia mengingatkan, keberadaan ikan-ikan besar seperti hiu mulai sulit ditemukan di kawasan tersebut.

Masalah ini menandakan adanya potensi penangkapan berlebih atau overfishing.

“Apabila ikan besar sudah sangat sulit ditemukan, itu tandanya sumber daya perikanan kita sudah cenderung mengalami tangkap lebih. Sudah terlalu banyak penangkapan sehingga yang ada tinggal hanya ikan-ikan kecil,” jelasnya.

Victor juga menyebutkan masih ditemukannya penyu dan dugong di kawasan ini sebagai indikator ekosistem pesisir dan padang lamun yang masih sehat.

Menurut dia, jika upaya konservasi dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu 20 tahun, ekosistem laut di kawasan Bintan akan membaik secara signifikan, baik dari segi jumlah maupun jenis ikan.

“Dalam 20 tahun kalau ini dijaga dengan baik, maka ikan akan bertambah dan kita berharap jumlahnya akan naik nanti,” ucapnya.

Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura didampingi Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri, Said Sudrajat berkunjung ke Pulau Nikoi. F:Sijoritoday.com/istimewa

Sementara itu, Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura ingin kekayaan konservasi dan perairan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan.

Menurutnya, lautan Kepri kaya dengan berbagai sumber daya alam yang hingga saat ini belum dikelola dengan maksimal.

“Sekarang, kita harus meningkatkan koordinasi dengan stakeholder dan asosiasi menjaga konservasi laut,” ungkapnya.

Nyanyang menjelaskan, Kepri memiliki cadangan ikan yang melimpah, ada mangrove, terumbu karang, dan juga hamparan padang lamun.

Potensi itu pun menobatkan Kepri sebagai Permata Biru Ekonomi di Gerbang Utara Indonesia.

“Potensi ini tentu akan meningkatkan potensi peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir dan masyarakat nelayan,” pungkasnya. (Oxy)

Exit mobile version