BATAM,SIJORITODAY.com – Fenomena sekolah yang menjadikan kelulusan ke perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan menuai kritik.
Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau, Ririn Warsiti menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa yang tidak menempuh jalur tersebut.
“Setiap akhir semester atau tahun ajaran, kita melihat banyak sekolah mempublikasikan nama-nama siswa yang lolos PTN. Itu baik sebagai bentuk apresiasi, tetapi menjadi masalah ketika itu dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan,” ujar Ririn saat dimintai keterangan pada Kamis (2/4/2026) di SMKN 7 Batam disela kunjungan kerjanya.
Menurutnya, pendekatan tersebut secara tidak langsung membentuk standar sempit tentang makna sukses di lingkungan pendidikan. Padahal, tidak semua siswa memiliki jalur dan potensi yang sama.
“Banyak siswa yang memilih langsung bekerja, magang, atau menempuh jalur pendidikan lain. Mereka juga berhasil, hanya saja tidak mendapat ruang pengakuan yang sama,” katanya.
Ririn mengingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, siswa yang tidak lolos PTN berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri.
Mereka bisa merasa tertinggal atau bahkan gagal, meskipun telah menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Lebih jauh, ia menilai praktik tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk tekanan simbolik dalam dunia pendidikan.
“Tanpa disadari, ada tekanan sosial yang terbentuk. Siswa melihat siapa yang dirayakan dan siapa yang tidak. Itu bisa berdampak pada mental mereka,” jelasnya.
Komisi IV DPRD Kepri, lanjut Ririn, mendorong Dinas Pendidikan dan pihak sekolah untuk mulai mengubah pola pendekatan tersebut.
Sekolah diminta memberikan apresiasi yang lebih inklusif terhadap berbagai capaian siswa.
“Sekolah harus menjadi ruang yang menghargai keberagaman potensi. Jangan sampai pendidikan justru membatasi pilihan masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran guru dan orang tua dalam membangun narasi yang lebih sehat terkait kesuksesan.
Menurutnya, keberhasilan tidak bisa diukur hanya dari satu jalur pendidikan formal.
“Ke depan, kita perlu membangun ekosistem pendidikan yang lebih adil dan manusiawi, yang mengakui bahwa setiap anak punya jalan suksesnya masing-masing,” pungkasnya. ***
Editor: Nuel
