Sijori Today

Listrik Kerap Padam, Warga Geruduk Kantor PLN dan Rumah Dinas Bupati Anambas

Warga saat menggeruduk Rumah Dinas Bupati Kepulauan Anambas, Selasa (20/10/2026). F: Sijoritoday.com/Alex

‎ANAMBAS,SIJORITODAY.com – Kesabaran masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau menghadapi pemadaman listrik yang terus berulang akhirnya memuncak.

Ratusan warga turun ke jalan pada Selasa (20/10/2026) malam, mendatangi kantor PLN hingga berlanjut ke Rumah Dinas Bupati Kepulauan Anambas untuk menyuarakan kekecewaan mereka.
‎
‎Aksi tersebut dipicu gangguan pasokan listrik yang dinilai tak kunjung tuntas. Warga menuntut penjelasan terbuka dari pihak PLN sekaligus mendesak adanya langkah konkret agar pemadaman tidak terus mengganggu kehidupan masyarakat.
‎
‎Kekecewaan warga tidak hanya disebabkan rumah yang kerap gelap gulita.

Pemadaman listrik juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi, jaringan komunikasi, penerangan jalan, hingga kegiatan belajar anak-anak pada malam hari.
‎
‎Bagi nelayan dan pelaku usaha, persoalan listrik bahkan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi karena hasil tangkapan laut membutuhkan fasilitas pendingin agar kualitasnya tetap terjaga.
‎
‎Sebelum mendatangi Rumah Dinas Bupati Kepulauan Anambas sekitar pukul 21.30 WIB, massa terlebih dahulu mendatangi kantor PLN untuk menyampaikan protes.
‎
‎Di lokasi tersebut, warga meluapkan kekecewaan dengan melemparkan ikan dan cumi-cumi hasil tangkapan nelayan ke area kantor PLN.

Aksi itu menjadi simbol protes atas dampak pemadaman listrik yang dinilai merugikan masyarakat, terutama nelayan dan pelaku usaha perikanan.
‎
‎Ratusan kilogram hasil laut tersebut dibawa sebagai bentuk luapan kekecewaan warga.

Pasokan listrik yang tidak stabil dikhawatirkan mengganggu proses pembekuan dan penyimpanan ikan serta cumi-cumi, sehingga berisiko menurunkan kualitas hasil tangkapan.
‎
‎Bagi masyarakat kepulauan yang menggantungkan penghasilan pada sektor perikanan, ketersediaan listrik yang stabil bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan juga penunjang utama keberlangsungan usaha.
‎
‎Warga menilai, ketika listrik terus mengalami gangguan, dampaknya tidak berhenti pada padamnya lampu.

Kerugian dapat merembet ke sektor ekonomi masyarakat yang setiap hari bergantung pada pasokan listrik.
‎
‎Setelah menyampaikan protes di kantor PLN, massa bergerak menuju Rumah Dinas Bupati Kepulauan Anambas untuk meminta pemerintah daerah turun tangan memfasilitasi pertemuan dengan pihak PLN.
‎
‎Kedatangan warga disambut langsung oleh Bupati Kepulauan Anambas, Aneng bersama Wakil Ketua DPRD Kepulauan Anambas, Rocky Sinaga serta Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Anambas, Ayub.
‎
‎Di hadapan pemerintah daerah dan anggota DPRD, warga meminta agar pihak PLN hadir secara langsung untuk memberikan penjelasan mengenai penyebab pemadaman yang terus berulang.
‎
‎Salah seorang warga menyampaikan bahwa kedatangan mereka ke rumah dinas bupati bertujuan agar keluhan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti dan pihak PLN bersedia berdialog secara terbuka.
‎
‎“Kami minta PLN datang ke sini. Tadi kami sudah di sana, tetapi tidak datang,” ujar warga tersebut.
‎
‎Menurutnya, pemadaman listrik total yang terjadi sejak sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB telah mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.
‎
‎Kekecewaan warga semakin bertambah ketika setelah pemadaman total berakhir, pasokan listrik kembali mengalami pemadaman bergilir.

Warga juga mempersoalkan pelaksanaan pemadaman yang mereka nilai tidak sesuai dengan jadwal yang diharapkan.
‎
‎Dampak pemadaman listrik dirasakan langsung oleh masyarakat di Tarempa dan sekitarnya.

Rumah warga menjadi gelap, lampu penerangan jalan padam, sementara jaringan komunikasi Telkomsel dilaporkan ikut terganggu.
‎
‎Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpaksa membatasi aktivitas, bahkan menutup usaha lebih awal. Di sisi lain, anak-anak mengalami kesulitan belajar pada malam hari akibat minimnya penerangan.
‎
‎“Permasalahan PLN ini tak ada kesudahan, tak ada solusi. Tiap malam kami gelap gulita,” keluh Ruslan, salah seorang warga Tarempa.
‎
‎Ia mempertanyakan keandalan pelayanan listrik di ibu kota kabupaten, terlebih masyarakat tetap memenuhi kewajiban membayar tagihan listrik setiap bulan.
‎
‎“Ini ibu kota kabupaten, bukan kampung terpencil. Masa listrik mati terus? Kami bayar, tapi pelayanan begini. Anak mau belajar pakai lilin, warung tutup, semua susah. Tolonglah PLN ini diperhatikan serius, jangan kami dibiarkan gelap terus,” tegasnya.
‎
‎Keluhan tersebut menggambarkan keresahan warga yang menginginkan pelayanan listrik lebih stabil dan dapat diandalkan.

Masyarakat berharap pemadaman yang berulang tidak lagi menjadi persoalan berkepanjangan tanpa kepastian penyelesaian
‎
‎Dalam aksi tersebut, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas bersama pihak PLN di wilayah Kepri segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan pasokan listrik.
‎
‎Masyarakat meminta PLN menjelaskan secara terbuka penyebab gangguan, kondisi pembangkit, serta langkah teknis yang sedang dan akan dilakukan untuk memulihkan pasokan listrik.
‎
‎Warga juga menyoroti rencana penambahan mesin pembangkit yang selama ini diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan kelistrikan di Anambas.

Mereka meminta agar rencana tersebut memiliki kejelasan realisasi, bukan sekadar menjadi harapan tanpa kepastian.
‎
‎Selain itu, masyarakat menginginkan informasi jadwal pemadaman yang transparan apabila gangguan masih belum dapat diatasi sepenuhnya.

Dengan informasi yang jelas, warga dan pelaku usaha setidaknya dapat mempersiapkan diri untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
‎
‎Hingga Selasa malam, warga masih menantikan kehadiran perwakilan PLN di Rumah Dinas Bupati Kepulauan Anambas untuk memberikan penjelasan langsung.
‎
‎Aksi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa persoalan listrik telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Warga berharap pemerintah daerah dapat menjembatani tuntutan mereka dengan pihak PLN agar persoalan tersebut segera memperoleh penyelesaian.
‎
‎Bagi masyarakat Anambas, listrik yang stabil merupakan kebutuhan mendasar untuk menunjang pendidikan, pelayanan komunikasi, aktivitas rumah tangga, serta roda perekonomian, khususnya sektor perikanan.
‎
‎Masyarakat kini menunggu jawaban dan tindakan nyata. Mereka tidak ingin pemadaman terus berulang, sementara kerugian dan kesulitan harus ditanggung warga tanpa kepastian kapan pelayanan listrik kembali normal.
‎
‎Penulis: Alex
‎Editor: Nuel
‎

Exit mobile version