BATAM, SIJORITODAY.com – Puluhan pengungsi asal Afganistan di Batam kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Pemko Batam, Rabu (1/12/2021).
Selain pria, tampak juga wanita dan anak-anak dari pengungsi turut serta dalam unjuk rasa.
Ali (24) salah satu peserta aksi mengaku nekat untuk mengikuti aksi unjuk rasa karena sudah tak tahan lagi tinggal di Indonesia.
Ia mengaku depresi selama tinggal di Batam, belum lagi saat ia memikirkan masa depan anak-anaknya jika tak kunjung diperbolehkan masuk ke negara tujuan.
“Saya semakin depresi selama berada di lokasi pengungsian di Batam. Saya seorang ibu tunggal dengan dua anak, yang kini semakin bigung terutama saat memikirkan tumbuh kembang anak saya,” ungkapnya ditemui di sela-sela aksi unjuk rasa, Rabu (1/12/2021).
Ali menuturkan, hingga saat ini anak-anaknya belum pernah sekalipun mengenyam pendidikan dasar.
“Anak anak kami tidak bisa bersekolah, mendapatkan pendidikan yang lain, kami memikirkan masa depannya,” terangnya.
Selain itu, aksi unjuk rasa juga dipicu oleh meninggalnya salah satu pengungsi akibat membakar diri di Medan, Sumatera Utara.
“Kita semua pengungsi Afganistan mempunyai masalah tersendiri, kita tidak ingin hal seperti ini menimpa saudara kita yang lain,” kata Ali Rifai’i perwakilan pengungsi Afganistan.
Ali mengatakan unjuk rasa di depan kantor Pemko Batam ini bertujuan agar meminta Wali Kota membantu menyampaikan aspirasi mereka kepada UNHCR.
“Kami minta tolong solusi ke bapak Wali Kota agar bantu kami,” ujarnya.
Ia menerangkan selama tinggal di penampungan, ia dan ratusan pengungsi Afganistan lainnya cukup tertekan karena tidak melakukan aktivitas lainnya.
“Permintaan kami hanya agar kami segera dipindahkan ke negara ketiga. Atau kami dapat bekerja disini, tapi permintaan kami tidak pernah diindahkan oleh UNHCR. Kami tidak pernah didengar oleh mereka,” sesalnya.
Ada pun yang Ali sampaikan kepada awak media bahwa sebenernya ia merasa aman di indonesia, tidak ada kerusuhan, tidak ada bom, dan sangat aman. Hanya saja ia ingin mendapatkan kebebasan, bisa bekerja, dan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan.
(Rara/Bas)
Editor: Nuel









































