TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang terus mengupayakan agar balita terhindar dari gizi buruk dengan melihat berdasarkan tiga parameter, berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Dengan melihat lokasi wilayah kasus gizi buruk pada anak balita, wilayah puskesmas Kampung Bugis merupakan penyumbang kasus gizi buruk terbesar, dengan 271 penderita dilihat dari tiga parameter acuan gizi buruk tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinanang, Rustam mengatakan, untuk penggunaan parameter dalam mengetahui status gizi anak, parameter berat badan menurut umur lebih menggambarkan status gizi sesaat pada balita, sedangkan parameter tinggi badan menurut umur lebih menggambarkan status gizi pada masa lalu, atau jangka panjang, yang paling sensitif dan spesifik menggambarkan status gizi saat ini adalah berat badan menurut tinggi badan.

“Dari ketiga parameter tersebut, parameter BB/TB, dimana parameter tersebut paling sensitif, jika menggunakan parameter BB/U akan diketahui adanya balita gizi kurang dan gizi buruk,” ucap Rustam di Tanjungpinang, Minggu (21/1).

Rustam menyampaikan, berdasarkan data yang diperoleh Dinas Kesehatan, untuk tahun 2016 ditemukan balita kategori gizi kurang sebanyak 414 anak, kemudian untuk parameter tinggi badan menurut umur, akan diketahui balita pendek sebanyak 40 anak, dan sangat pendek 21 balita.

Pada penggunaan parameter berat badan menurut tinggi badan untuk melihat status gizi balita akan diketahui adanya balita kurus sebanyak 74 anak dan sangat kurus sebanyak 29 anak.

Sementara di tahun 2017, balita gizi kurang meningkat menjadi 420 anak, untuk balita gizi buruk mejadi 22 anak, pendek 17 anak, sangat pendek 19 anak, untuk yang kurus 45 anak, sangat kurus 17 anak.

“Untuk data yang diterima dibandingkan tahun 2016, yang mengalami peningkatan hanya pada balita kategori kurang, namun untuk kategori lainnya banyak mengalami penurunan,” ungkap Rustam.

Lebih lanjut Rustam mengungkapkan, kasus balita gizi kurang dan gizi buruk terbanyak ditemukan di wilayah puskesmas Kampung Bugis (256 kasus), diikuti wilayah Batu 10 (51 kasus) dan Mekarbaru (40 kasus).

Untuk balita pendek dan sangat pendek terbanyak ditemukan di wilayah Puskesmas Seijang (10 kasus), Kampung Bugis (7 kasus) dan Batu 10 (6 kasus), sedangkan balita kurus dan sangat kurus terbanyak ditemukan di wilayah Puskesmas Batu 10 (16 kasus), Seijang (11 kasus) dan Kampung Bugis serta Melayu Kotapiring masing masing 8 kasus.

Untuk terus menurunkan angka gizi buruk yang terjadi di Kota Tanjungpinang, Dinas Kesehatan terus melakukan upaya untuk mencegah dan menanggulangi gizi kurang dan gizi buruk, seperti menggalakkan upaya Pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu setempat, mendorong agar para ibu dapat memberikan ASI saja bagi bayi usia sampai 6 bulan, menangani dan mengobati balita yang menderita gizi buruk termasuk penyakit penyerta yang sering terjadi pada anak, kecacingan maupun lainnya dan memberikan makanan tambahan serta vitamin.

“Untuk menekan angka gizi buruk, pihaknya selalu menghimbau dan terus giat melakukan berbagai upaya di posyandu, dan juga melakukan penyuluhan perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan bagi penduduk agar terhindar dari penyakit yang dapat mengakibatkan penurunan status gizi,” ucapnya.

“Berbagai penyuluhan juga kami lakukan, baik itu untuk kebaikan gizi anak dan keluarga, dan paling penting himbauan untuk pola hidup sehat selalu ditekankan,”tutupnya.

Penulis: Beto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here