Oleh Cosmas Eko Suharyanto, S.Kom., M.MSI.
Dosen Fakultas Teknik, Prodi Teknik Informatika Universitas Putera Batam

Akhir-akhir ini kita sering sekali melihat konten di media sosial yang mengandung unsur sadisme. Umumnya unsur sadisme yang di posting dalam bentuk foto; misalnya korban kecelakaan atau korban kriminal lengkap dengan luka-luka dan darah pada korban ataupun potongan anggota tubuh korban. Foto-foto yang memuat unsur-unsur sadisme, ketelanjangan, rokok dan narkoba, alkohol, dan pedofilia tak sesuai dengan hukum, etika dan norma. Ada unsur-unsur yang bisa dipublikasi terbatas, secara tempat dan umur, ada pula hal-hal yang memang tak pantas dipublikasikan kepada umum.

Kita hidup di era banjir informasi yang didukung dengan perkembangan teknologi, bagaimana kita mensikapinya?

Foto sebagai Bahasa Komunikasi Visual

Foto adalah salah satu cara menyampaikan pesan yang hanya dapat dibaca dengan indera penglihatan. Sebagai bahasa komunikasi visual, media foto memiliki kekuatan tersendiri dalam transfer informasi dibadingankan dengan media lainnya. Sebuah foto dapat dikatakan sebagai suatu hasil gambar yang merepresentasikan keadaan realitas disekitar kita, karena sebuah foto dapat menghasilkan gambar tentang apa yang terdapat dan terjadi pada lingkungan sekitar kita secara real, bahkan sebuah foto dapat berperan tidak hanya merefleksikan realitas tetapi juga memberikan efek pada sebuah realitas.

Foto dinilai lebih memiliki efek langsung bagi audience-nya. Dari segi afektif, secara emosional dengan melihat foto dapat membuat orang gembira, sedih, takut, benci, trauma, dan perasaan lainnya.
Seiring dengan pesatnya perkembangan dunia digital imaging, memunculkan sebuah perubahan pada pandangan tentang peranan penting sebuah foto terhadap realitas yang terdapat di dalamnya, yang terkadang negatif. Sebuah realitas yang ditangkap kamera dapat dirubah, direkayasa, atau bahkan dipublikasikan sebagai konsumsi masyarakat tanpa meperhatikan etika dan norma publikasi foto di ruang publik.

Teknologi Digital dan Media Sosial

Hadirnya teknologi digital membuat ruang publik semakin lebar, apalagi didukung dengan kekuatan media sosial dengan seabrek fiturnya. Interkoneksi manusia dalam dunia maya menambah pola baru komunikasi dalam transfer informasi. Sumber informasi berkembang dinamis, bukan hanya eksklusif milik institusi media, setiap orang memiliki kesempatan yang sama, baik sebagai sumber maupun penyebar informasi.
Teknologi digital juga meluas pada kemampuan perangkat komunikasi saat ini. Setiap smartphone dilengkapi kamera digital, bahkan saat ini kemampuan kamera menjadi fitur unggulan produk baru untuk besaing dengan produk lain.

Dampak teknologi digital dan media sosial menjadi kontribusi yang besar pada perubahan pola komunikasi dan transfer informasi penggunanya. Setiap realitas, kejadian yang terjadi dapat diabadikan melalui kamera perangkat smartphone-nya, termasuk dapat dipublikasikan ke ranah publik dunia maya.

Foto Sadisme dalam Media Sosial

Istilah sadisme awalnya diambil dari nama seorang bangsawan, yang juga penulis filsafat Perancis, Donatien Alphonse François Marquis de Sade (1740-1814). Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan kata ‘sadis’ sebagai tidak mengenal belas kasihan, kejam, buas, ganas, atau kasar. Jadi foto yang mendandung unsur sadisme adalah foto yang memperlihatkan sifat-sifat di atas.
Foto-foto dengan unsur sadisme yang sering bertebaran di media sosial umumnya foto korban kecelakaan, korban kriminal, terorisme, dll. Sering sekali pengguna media sosial tanpa pertimbangan langsung mem-posting kejadian-kejadian yang ia alami ke ruang publik virtual dan menjadi konsumsi umum. Mungkin maksudnya adalah berbagi informasi, tapi secara tidak sadar ada norma dan etika yang ia langgar.

Etika Mem-posting Foto dengan unsur sadisme

Foto tidak luput dari hal-hal yang bisa dipertanyakan secara etis. Persoalan tersulit adalah menentukan porsi yang tepat antara boleh dan tidak boleh atau pantas dan tidak pantas. Seperti halnya tulisan, foto pun bisa menimbulkan efek traumatik, kengerian, bahkan konflik.

Dari ranah formal jurnalistik, sangat jelas sebagaimana terdapat dalam Kode Etik Wartawan Indonesia pasal 4: “Wartawan Indonesia tidak menyiarkan infromasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila”.

Kode Etik diharapkan mampu menjamin agar setiap kegiatan pemberitaan dan peliputan yang dilakukan tidak melanggar nilai–nilai, norma serta etika dan rasa kemanusiaan. Namun, jika yang terjadi di media sosial maka akan sulit melakukan kontrol.

Dari sisi korban, sebenarnya telah ada perlindungan melalui UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Bila penyebaran foto dilakukan lewat media elektronik seperti email, facebook, twitter, blog pribadi atau bahkan di forum web, sang penyebar foto bisa diancam pidana.

Ancaman pidananya adalah penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1 miliar sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (3) serta Pasal 43 UU ITE.

Ada ungkapan, lebih mudah membicarakan hukum daripada etika, sebab etika adalah tentang pribadi, sedangkan hukum berhubungan dengan sosial. Dalam mempublikasikan foto-foto yang mengandung unsur sadisme: korban kecelakaan, tindak kejahatan, dan musibah, hendaknya menjaga agar wajah korban tidak sebagai point of interest.

Apalagi jika gambar yang kita sebarkan itu dilihat oleh orang yang memiliki trauma tersendiri dengan hal–hal seperti itu. Jiwa mereka bisa terguncang, bisakah kita bertanggung jawab jika hal itu terjadi pada mereka? Kembali ke diri kita sendiri, bukankah kita akan sangat sedih bahkan marah bila foto korban tersebut adalah kerabat atau saudara kita?

Foto-foto yang mengandung unsur sadisme dan kekerasan hendaknya tidak kita upload ke ranah publik apalagi media sosial, kalaupun ditampilkan, maka foto tersebut harus disamarkan dan lebih mengedepankan empati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here