BINTAN, SIJORITODAY.com — Aparat Polres Pulau Bintan menangkap dua wanita yang diketahui keduanya kakak beradik berinisial ZA (45) dan NA (35). Mereka ditangkap karena terlibat dalam kasus prostitusi anak di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.

Kedua pelaku ditangkap polisi secara terpisah, ZA ditangkap dikawasan lokalisasi Bukit Senyum, Desa Lancang, Tanjunguban, pada Jumat (13/12) dan NA ditangkap di Kota Batam pada Sabtu, (14/12).

“Ada empat orang yang diperdagangkan pelaku sebagai pekerja seks komersial (PSK) di salah satu karaoke di Kampung Jaya Pura Gemilang, lokalisasi Bukit Senyum, Bintan,” kata Kasat Reskrim, AKP Agus Hasanuddin.

Keempat orang itu, lanjut Agus, tiga orang di antaranya di bawah umur yakni berinisial S (13), P (16), dan N (17), kemudian seorang wanita dewasa berinisial A (23).

Agus menambahkan, dalam kasus ini NA berperan sebagai perekrut anak di bawah umur tersebut. Korban yang direkrut berasal dari daerah Tanggerang, Jawa Barat, dengan modus diiming – imingi bekerja sebagai penjaga toko dan pelayan restoran.

Kemudian pelaku meminjamkan uang untuk keperluan biaya administrasi korban dengan nominal sebesar Rp4 juta. Namun, belum sempat bekerja, pelaku justru meminta korban mengembalikan uangnya.

“Korban tidak ada uang, sehingga harus bekerja di tempat karaoke milik kakak pelaku inisial ZA, sebagai pemandu dan pelayan tamu,” ungkapnya.

Di tempat itu, lanjut Agus, korban diminta untuk melayani tamu hidung belang dengan jasa sebagai pekerja seks komersial (PSK) yang digaji Rp1.500.000.

Korban terlilit hutang dengan pelaku, sehingga terpaksa bekerja dengan pelaku di tempat karaoke sebagai PSK, Jelas Agus.

Polisi menyita barang bukti di antaranya uang tunai sebanyak Rp3.465.000 dan dua unit handphone, 15 alat kontrasepsi, buku nota dan surat keterangan domisili yang diduga dipalsukan dan barang bukti lainnya.

Identitas yang mereka pakai sudah disiapkan saat mereka di Tangerang, seolah – olah berdasarkan dokumen itu mereka sudah dewasa, Tutur Agus.

Para pelaku dijerat pasal 2 ayat 1 dan 2 UU 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang atau pasal 83 junto pasal 76 huruf f UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak junto UU nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah penganti UU nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara.

Sedangkan tiga korban anak di bawah umur bersama satu orang wanita dewasa, diserahkan polisi ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk didampingi dan dibina sehingga korban bisa dipulangkan ke daerah asalnya. (Mn)

Editor: Taufik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here