BINTAN, SIJORITODAY.com– Karno (42) hanya bisa pasrah akibat tumpahan minyak yang menyebar hingga ke lepas pantai. Air laut tercemar tersebut membuat sejumlah tamu dari mancanegara mengurungkan niatnya untuk melakukan aktivitas snorkeling di Bintan Nemo milik usahanya.

“Mereka sudah tiba di lokasi, tapi setelah melihat ada minyak hitam, akhirnya batal snorkeling,” tutur Karno sedih sembari meluapkan kekecewaannya.

Menurut Karno, Bintan Nemo terpaksa ditutup buat sementara waktu, sampai wilayah tersebut betul-betul terbebas dari serbuan minyak hitam.

“Tidak hanya tamu luar negeri, dari dalam negeri pun kita tolak dulu kalau ingin snorkeling di sini,” katanya pasrah.

Dia tak menampik, kondisi ini tentu akan menimbulkan kerugian bagi usahanya. Bagaimana tidak, lanjut Karno, dalam kondisi normal, biasanya dalam sehari minimal ada lima tamu yang snorkeling di Bintan Nemo.

“Kalau untuk tamu dalam negeri, harga snorkeling Rp200 ribu per orang. Sedangkan tamu luar negeri Rp300 ribu per orang,” ujarnya.

Soal limbah minyak hitam ini, Karno menduga berasal dari kilang minyak negara tetangga yakni Malaysia.

Sambungnya lagi, limbah minyak tersebut sengaja dibuang saat musim utara tiba, imbasnya terbawa angin sampai ke wilayah laut Bintan. Sehingga
kawasan pesisir pantai Trikora hingga ke Desa Pengudang, Bintan, Kepri, kembali tercemar limbah minyak hitam.

“Kejadian seperti ini setiap tahun terjadi, bahkan dari zaman nenek moyang saya dulu. Entah kenapa bisa demikian, apakah ada perjanjian politik internasional atau seperti apa, saya pun tak tahu,” kata Owner Bintan Nemo, Karno, Kamis, (20/2/20).

Selain berdampak pada pariwisata, sebaran minyak hitam juga menggangu mata pencaharian nelayan setempat.

Ketua Komite Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Buyung Adli, menyebut saat ini minyak hitam sudah mengotori alat tangkap nelayan seperti, bubu, kelong, serta keramba ikan.

“Dampaknya, ikan yang ada di dalam alat tangkap tersebut ikut tercemar minyak hitam. Selain tidak layak dikonsumsi, juga menggangu perkembangbiakannya,” sebut Buyung.

Miris memang, sejak tragedi tumpahan minyak tak ada satupun baik pengunjung dan nelayan terlihat di pantai yang dicemari limbah minyak hitam ini. Mungkin mereka gerah melihat pemandangan yang tak sedap dipandang mata. Sampai kapan? (Mn)

Editor: Taufik Kurahman

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here