Kasat Reskrim, AKP Herie Pramono, S.IK

KARIMUN, SIJORITODAY.com, – – Masih ingat dibenak kita kasus dugaan penganiayaan terhadap Sdr. Ricardo oleh pengusaha hiburan Satria Pub and Karaoke di Tanjung Balai Karimun, Billy Cs tahun lalu. Dugaan kasus penganiayaan tersebut berujung pada pelaporan Billy Cs kepihak Polres Karimun oleh Sdr. Ricardo didampingi pengacaranya.

Kasus penyidikan terhadap Billy Cs tidak memenuhi unsur bukti yang kuat. Untuk itu, pihak Kepolisian telah menhentikan penyidikannya alias SP3 atas kasus tersebut.

Kasat Reskrim Polres Karimun AKP Herie Pramono, S.IK membenarkan bahwa kasus pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Ricardo oleh Billy Cs telah dikeluarkan Surat Ketetapan Nomor, S.Tap/40/V/2020/Reskrim tentang Penghentian Penyidikan, tertanggal 9 Mei 2020.

Dikatakan Herie, Hal ini sesuai dengan gelar perkara dan petunjuk dari pihak Kejaksaan mengenai  pemberhentian penyelidikan karena pelapor tidak bisa memenuhi alat bukti yang diminta pihak Kejaksaan sesuai dengan laporan.

“Satu laporan satu alat bukti, Jaksa meminta barang bukti sesuai dengan laporan. Hingga saat ini, pelapor tidak bisa memenuhi sehinggga Jaksa mengembalikan berkas sudah lebih dari tiga kali. “, ungkap AKP Herie ketika dikonfirmasi oleh awak media beberapa waktu lalu.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Karimun Hamonangan P Sidauruk, SH mengaku telah mengembalikan beberapa kali berkas perkara Billy dan kawan kawan ke pihak Kepolisian ( P19 ) untuk kembali dilengkapi.

Hamonangan mengatakan, pengembalian berkas tersebut berkaitan dengan masalah alat bukti yang tidak lengkap.

“Di situ yang pertama ada hal yang terjadi, yaitu terkait masalah barang bukti pisau yang tidak ada di tempat. Sedangkan, si korban sendiri mengatakan pisau tersebut ada di tempat kejadian, nah itu dijadikan barang bukti,” jelas Hamonangan.

Ia menjelaskan, untuk yang kedua, mengenai saksi yang melihat kejadian terjadinya peristiwa tersebut pada saat kejadian itu hanya pengakuan korban. Sedangkan saksi-saksi lain tidak ada yang menunjukkan telah terjadi penganiaan.

Kemudian yang ketiga, korban sendiri yang mengaku pakaiannya sobek dan robek pada saat terjadi peristiwa tersebut. Padahal, pada saat dia berlari keluar dari hotel Satria pakaiannya utuh.

“Dan itu semua menjadi petunjuk bagi kami  untuk segera dilengkapi “, terangnya.

Pihaknya juga menemukan tidak ada persesuaian alias tidak nyambung dari keterangan pihak pelapor, sehingga pihaknya membuatkan petunjuk agar berkas kembali dilengkapi oleh pihak penyidik.

Dalam menangani perkara, kata Hamonangan, Kejaksaan Karimun tetap profesional dalam menjalankan tugas dan tidak ada tebang pilih.

“Kalau memang suatu perkara yang diajukan tidak memenuhi bukti yang kuat untuk dinaikkan ya jangan dipaksakan untuk menaikkan kasus tersebut,” tegasnya.

Di sisi lain, Billy Bravomac mengaku telah menerima pemberitahuan Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan ( SP3 ) dari pihak Kepolisian Resort Karimun. Bahkan ia merasa dirugikan dengan terbitnya SP3 itu.

“Jujur saya katakan, banyak pihak tidak percaya lagi dengan kami akibat dari tuduhan yang dibuat Sdr. Ricardo hingga berujung keranah hukum. Namun kami tetap bersabar. Dari awal persoalan ini sudah saya katakan, bahwa ini adalah rekayasa yang cukup struktur dan sangat rapi, tapi sekarang sudah terbukti bahwa kita tidak seperti yang dituduhkan,” ungkapnya. (Sr)
Editor: Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here