Oleh : Melia Senita (Penulis merupakan Pemerhati Masyarakat)

Pemerintah telah memutuskan untuk tidak melanjutkan surat Kepala Dinas Pendidikan Nomor/420/1109/DISDIK tanggal 30 September 2020, tentang hal membaca buku Muhammad Al Fatih, keputusan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menimbulkan tanya bagi kita, ada apakah dengan buku Muhammad Al Fatih Karya Felix Siauw itu?. Adakah buku itu berisikan penyimpang-penyimpangan yang menyesatkan bagi para siswa?, ataukah pemerintahan sangat alergi tentang pejuang-pejuang Islam karena sebelumnya mentri agama menghapus istilah khilafah dan jihad tertuang Surat Edaran B-4339.4/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/12/2019. Surat edaran itu ditandatangani oleh Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, Ahmad Umar pada 4 Desember 2019.

Kita bisa bayangkan jika ketidakberpihaknya pemerintah terhadap para siswa yang beragama Islam, dengan mengetahui aqidahnya sendiri dibatasi dibangku pendidikan. Sehingga kita jumpai banyak para siswa yang tidak memahami hukum-hukum Islam, bertingkahlaku selayaknya sesuai dengan aqidah yang ia emban. Sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi kepada para siswa karena buruk sistem pembelajaran di negeri ini. Semisal penyimpangan seksual yang mengakibatkan hamil luar nikah, kasus narkoba yang masih cukup tinggi dari kalangan pelajar dengan rata-rata Sekolah Dasar(SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai jenjang yang lebih tinggi mahasiswa ini disebabkan diterapkan sistem pendidikan sekuler.

Jika kita mengamati lebih dalam Mayoritas Umat Islam di negeri ini bahkan pertumbuhan kaum muslimin di dunia saat pesat. Hanya saja dari jumlah yang besar tersebut sedikit sekali yang benar-benar menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Hal ini ada kesalahpahaman umat islam Indonesia yang sengaja dibentuk opininya bahwa pendidikan islam ini akan memberangus Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini satu penyesatan pikir yang sengaja dibuat, sehingga menimbulkan kerancuan dalam berpikir dan bertindak. Sering didapati pemilahan ajaran Islam, antara urusan agama dengan urusan ekonomi, budaya, politik, ataupun sisi kehidupan yang lain, jauh dari ajaran Islam. Yang disebabkan oleh perang pemikiran atau invasi intelektual, yaitu bentuk perang pemikiran dari orang-orang yang benci dan memusuhi Islam. Serangan atau serbuan pemikiran ini bertujuan merubah pola pikir dan sikap seorang muslim untuk pelan-pelan mengikuti pemikiran dari musuh-musuh Islam. Perang pemikiran atau Ghazwul Fikri ini adalah cara lain dari musuh-musuh Islam, dalam menghancurkan pelan-pelan tanpa disadari dengan mencuci otak kaum muslimin. Dengan berbagai cara yang dilakukan oleh penguasa baik bentuk penolakan secara terang-terangan, bahkan secara licik membuat suatu kemasan aturan perundang-undangan yang semisal menjauhkan sistem pembelajaran dari islam Kaffah bahkan sejarah islam yang bertujuan mencetak generasi muda jauh dari mental pejuang, hal ini menjauhkan generasi yang memperjuangkan Aqidahnya sehingga mereka membentuk generasi alay yang mengatasnamakan kebebasan. Nauzhubillahi min zhalik.

Penghadang oleh Musuh-musuh Islam
Banyak cara keji yang dilakukan musuh-musuh islam di antaranya kebodohan, kemiskinan, dan penyakit. Cara ini adalah cara paling ampuh untuk menjatuhkan kaum muslimin ke dalam kubangan pembobrokan semakin dalam. Kebodohan yang sengaja diberikan mayoritas kaum muslimin adalah membenci akan ajaran sendiri. Dengan menanamkan paradigma-paradgma barat sehingga berbagai alasan semu yang ditawarkan gunakan mensentarakan ilmuan asing dari berbagai bentuk agar generasi kita alergi terhadap pendidikan yang semestinya yang ia dapatkan yaitu Islam.

Pendidikan Islam yang merubah Karakter.
Islam adalah agama yang sempurna ia melahirkan aturan yang didasarkan dari sang pencipta kesempurnaan islam tercantum dalam Al-Qur’an dengan segala petunjuk dan arahannya secara lengkap disampaikan untuk umat manusia dan alam secara keseluruhan. Saat ini pendidikan tidak lagi dipandang sebagai bentuk pemuasan atas kebutuhan yang bersifat sementara. Lebih dari itu, pendidikan merupakan sebuah pemikiran baru yang dianggap mampu meningkatkan produktivitas manusia sehingga dapat meningkatkan daya jual dan daya saing di masa yang akan datang. Aturan ini terkemas rapi dalam Al-Qur’an, kitab suci yang secara langsung dari Khaliq guna membantu umat manusia untuk berpikir lebih luas dari cakupan akalnya yang sangat terbatas. Sehingga ia mampu mengelola dunia yang dimiliki kemampuan ilmu dan pengetahuan. Untuk menempuh ilmu pengetahuan dalam jenjang pendidikan dibutuhkan orang-orang yang ikhlas menuntut ilmu dalam memperjuangkan apa yang didapatkan agar ia mampu menfilter pemikiran-pemikiran barat yang akan merusak cara berpikiran dan bertingkahlaku yang bertentangan aqidah yang kelak akan dipertanggungjawabkannya sebagai seorang muslim. Dibutuhkan keseimbangan pribadi dalam pengetahuannya, pengamalannya dan tindakannya. Digambarkan dalam sosok manusia yang cerdas otaknya, lembut hatinya dan terampil tangannya dalam hal-hal yang positif, mensinergikan dalam berpikir, berdzikir, dan berikhtiar, yang dioperasionalkan dengan bekerja cerdas, ikhlas, keras, tuntas, puas dan berkualitas. Semua perbuatannya diniatkan semata-mata ibadah kepada Allah, yang dilakukannya semata-mata perintah Allah bukan larangan Allah, tujuannya mencari ridha Allah.

Muhammad Al-Fatih Sosok Inspirasi in
Keimanan dan Ketaqwaan Muhammad Al-Fatih sudah tertanam kuat sejak ia masih kecil. Kedekatanya kepada sang Khaliq tidak diragukan. Disepanjang sejarah Muhammad Al-Fatih dikenal sosok yang sangat di idam-idamkan kebanyakkan orangtua dan gurunya dimasanya. Ayahnya, Sultan Murad II begitu serius memperhatikan pendidikan puteranya.

Berbagai metode yang diajarkan kepada Muhammad Al-Fatih bahkan sang Ayah memilihkan ulama terbaik dari berbagai kedispinan ilmu untuk mengajari Putranya. Mulai dari seni perang praktis, militer, astronomi, fisika, matematika dan ilmu lainnya. Di tangan guru terbaik, Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani, Al Fatih mampu menghafal Alquran di usia 8 tahun.

Syaikh Aaq Syamsuddin juga mendidik Al Fatih beliau adalah seorang ulama terpelajar yang menguasai berbagai ilmu dalam waktu bersamaan. Beliau yang membentuk mental seorang penakluk pada diri Al Fatih. Beliau menyakinkan Al Fatih bahwa dirinyalah yang dimaksud sebagai ‘pemimpin terbaik’ dalam hadits penaklukan Konstantinopel.

Saat usia Al Fatih belum genap 10 tahun Sultan Murad II juga mendidik Al Fatih dengan praktik langsung di lapangan dikenalkannya bagaimana berjalannya pemerintahan, Saat itu ayahnya menjadikannya penguasa Amasya, dilanjutkan dengan Manisa dan kemudian menjadi Sultan Utsmani pada usia 14 tahun.

Muhammad Alfatih dibesarkan disaat Islam dalam puncak kejayaan. Saat itu, khilafah menjalankan sistem Islam secara sempurna. Pendidikan didukung oleh sistem ekonomi, sosial, hukum, dan pemerintahan yang bersandar pada Islam. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Bahkan Barat berutang besar terhadap dunia Islam dalam upaya mengembangkan teknologi. Sedangkan saat ini, pendidikan berhasil mencetak manusia siap kerja namun tidak dibarengi dengan pembinaan akidah, akhlak, dan pemahaman (tsaqafah) yang benar. Jika saat ini kaum muslim merindukan generasi khoiru ummah. Generasi terbaik yaitu generasi yang akan mampu menjemput bisyarah Rasulullah saw. Sebab menaklukkan Kota Roma,tidak akan bisa jika hanya bertahan dalam sistem kapitalis-sekuler yang mencengkeram saat ini.

Untuk itu, saatnya kembali pada sistem pendidikan Islam. Hal ini hanya akan terwujud dengan kemauan politik negara untuk kembali menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah. Wallahu a’lam bishawab.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here