
BINTAN, SIJORITODAY.com – – Salah seorang warga Bintan, Agung meminta kebijakan pemerintah Kota Tanjungpinang yang melakukan tes antigen di lokasi penyekatan di perbatasan Tanjungpinang-Bintan agar tidak dilakukan.
Ia menyarankan agar tes antigen diganti dengan vaksin.
“Jadi lebih bagus diganti dengan posko vaksin, tak perlu posko antigen,” saran dia.
Apalagi menurutnya tes antigen yang dilakukan mengeluarkan biaya, yang justru membebankan masyarakat umum.
Untuk itu, Agung berharap kepada pemerintah Provinsi Kepri agar dapat mengevaluasi kebijakan tes antigen di lokasi penyekatan.
“Harapan kita agar Gubernur mengevaluasi kebijakan antigen di lokasi penyekatan,” harapnya.
Sebelumnya, banyak masyarakat yang mengeluh soal biaya test swab antigen di posko penyekatan PPKM darurat dekat perbatasan Tanjungpinang-Bintan di Tugu Keris Km 16 Desa Toapaya Selatan, Rabu (14/7).
Pasalnya, untuk warga yang keluar-masuk Tanjungpinang diluar sektor esensial dan kritikal disuruh menjalani tes swab antigen dengan biaya Rp 150 ribu sekali antigen selain bukti vaksinasi Covid-19.
Mereka yang keberatan pun memohon kepada Gubernur Kepri Ansar Ahmad untuk mengevaluasi kebijakan penyekatan PPKM darurat dengan test antigen berbayar yang diterapkan Pemko Tanjungpinang.
Jon Kenedy, salah seorang pedagang es buah di Km 16 Desa Toapaya Selatan mengeluh biaya rapid test antigen yang diterapkan di posko penyekatan. Sebab, penghasilannya sehari belum tentu mencapai Rp 150 ribu sejak pandemi Covid-19.
“Ya saya tinggal di Air Raja dan jualan di 16 situ, kalau hari-hari harus rapid test bagaimana ya,” keluhnya.
Ia pun tak yakin bisa melanjutkan usaha berjualannya jika ketentuan rapid test antigen dengan biaya Rp 150 ribu masih diberlakukan. “Belum tahu lagi bang mau jualan apa tidak, soalnya ada kebijakan seperti ini,” ungkapnya.
Selain Jon, pedagang kedai kopi Desi Arisanti (34) juga mengeluhkan hal serupa. Ia bahkan memohon kepada pemangku kepentingan seperti Gubernur Kepri dan Walikota Tanjungpinang untuk merevisi kembali kebijakan penerapan tes antigen berbayar di posko penyekatan.
“Kalau kayak kita yang hari-hari bolak-balik Bintan-Tanjungpinang gimana, swab harus bayar Rp 150 ribu dan itu berlaku hanya untuk 1 hari saja. Bayangkan kalau sebulan berapa banyak yang harus kami keluarkan untuk antigen di posko penyekatan itu,” ungkap Desi.
Ia menilai sejak pandemi berlangsung, ekonomi masyarakat termasuk pelaku UMKM sangat anjlok. Bahkan sambungnya, bisa mempertahankan usahanya dan mempekerjakan dua orang karyawannya saja sudah bersyukur.
“Ini demi bertahan hidup, kami minta lah solusinya dari para pejabat terutama Pak Gubernur. Apa solusi yang tidak memberatkan kami di masa pandemi ini,” paparnya.
Pantauan dilapangan, para pengendara baik yang keluar dan masuk Tanjungpinang wajib menunjukkan surat vaksinasi serta bukti hasil swab antigen. Bila tidak bisa menunjukkan surat hasil antigen dengan hasil negatif maka harus menjalani tes swab antigen di posko penyekatan yang sudah disediakan petugas kesehatan dari pihak Kimia Farma. Hasilnya pun harus negatif baru diperbolehkan melintas posko penyekatan.
Sementara pada hari pertama penyekatan Senin (12/7) kemarin yang dilakukan di posko yang sama, tes swab antigen yang dilakukan petugas kesehatan dari Puskesmas Batu 10 Tanjungpinang justru gratis. Meskipun, tes swab hanya dilakukan secara acak kepada pengendara yang tak bisa menunjukkan surat vaksin. (Btn)
Editor: Redaksi










































