
BINTAN,SIJORITODAY.com – – Kasus kematian akibat Covid-19 di Kabupaten terus bertambah, menyadur data Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri kasus kematian karena Covid-19 mencapai 113 kasus bertambah 3 kasus baru dari jumlah pada 24 Juli 2021.
Tingginya angka kematian akibat virus corona itu harus bisa menyadarkan masyarakat bahwa Covid-19 bukan cerita belaka, dia nyata hanya tak terlihat kasat mata. Protokol kesehatan menjadi kunci agar tidak ada lagi pemakaman dengan standart protokol kesehatan.

Pemakaman jenazah Covid-19 memang berbeda dengan pemakaman jenazah pada umumnya. Banyak cerita yang membuat bulu kuduk berdiri, namun juga menyentuh hati. Cerita itu berasal dari mereka si penggali kubur.
Sesuai standart protokol kesehatan, jenazah yang positif Covid-19 mesti dimakamkan tidak lebih dari 4 jam sesudah dinyatakan meninggal. Tentu saja, waktu yang pendek menjadikan proses pemakaman jenazah Covid-19 tak mengenal waktu.
Di Kecamatan Gunung Kijang, ada tim khusus penggali kubur untuk jenazah Covid-19 yang berasal dari kalangan yang jiwa sosialnya tak diragukan lagi. Mereka bekerja siang dan malam tanpa mengenal waktu. Acap kali, mereka harus menggali kubur dimana kebanyakan orang sedang pulas tertidur dirumah ditemani istri dan anak-anaknya.
Meski ditemani udara yang sejuk, tubuh mereka tetap panas. Bahkan, keringat mereka membanjiri tubuh yang ditutupi baju hazmat. Sebuah baju khusus yang digunakan untuk pelindung diri yang juga digunakan tenaga medis dalam menangani segala hal yang berkaitan dengan Covid-19.
Baju yang dijuluki baju astronot berwarna putih itu memang memang lebih mirip dengan jas hujan. Namun, ketika dipakai panasnya luar biasa. Meski cuaca dingin, si pemakai pasti meneteskan keringat. Bisa dibayangkan betapa panasnya memakai baju hazmat.
“Ya sudah sesuai protokol harus dipakai,” kata Pak Rohman, pria berusia 40 tahunan yang selama ini ikut terlibat menggali kubur jenazah Covid-19 di Kecamatan Gunung Kijang.
Para penggali kubur tidak bekerja sendirian, ada tim satgas Covid-19 kecamatan yang menggerakkan. Mereka menjadi tim yang memang khusus menangani masalah pencegahan, penanganan pasien, hingga masalah pemakaman jenazah.
Camat Gunung Kijang Arief Sumarsono selalu hadir saat proses pemakaman jenazah Covid-19. Kehadirannya sebagai pembakar semangat tim-timnya terutama penggali kubur. Dia selalu hadir bersama jajaran Satgas Covid-19 tingkat kecamatan mulai daro TNI-Polri hingga tenaga medis.
Suatu ketika, dirinya pernah terlelap tidur disuatu malam menjelang pagi. Tetiba, bunyi handphonenya mengeras dan menyadarkan sang camat dari tidurnya. Ternyata, sebuah panggilan yang memberitahunya pesan duka. Ada warganya yang meninggal dengan status positif Covid-19. Dia bergegas dengan mengkoordinasikan keseluruh tim yang memang sudah terlibat sejak awal.
Pengakuannya, meskipun sudah memiliki tim penggali kubur, namun para penggali itu tetap harus dibangunkan jika ada warga yang meninggal malam hari bahkan pada saat subuh hari. Arif memang tak meragukan lagi semangat para penggali kubur, namun tetap harus dikoordinasikan agar kerja tim bergerak dengan baik.
“Ya kita ikut prosesnya agar temen-temen juga semangat, soalnya kalau subuh-subuh mereka juga kan mesti dibangunin juga. Itulah dinamikanya penanganan jenazah Covid-19,” ungkap Arif.
Manakala ada warga yang meninggal dirumah dengan kondisi Covid-19, tugas timnya tentu semakin berat. Sebab, jenazah harus dibawa ke RSUP Raja Ahmad Thabib untuk menjalani proses pemulasaran jenazah sebelum dimakamkan. Belum lagi, pihak keluarga yang menolak dimakamkan dengan standar protokol kesehatan bahkan ada pula pemakaman yang bertentangan dengan adat istiadat.
Namun, tim Satgas Covid-19 Kecamatan Gunung Kijang tetap maju bergerak. PNS berusia 38 tahun itu mengutarakan jika rintangan dan hambatan kerap mendorong semangat timnya untuk mundur. Namun, mereka tetap semangat meskipun keringat dalam baju hazmat kering dengan sendirinya.
“Karena memang kawan-kawan yang terlibat memiliki jiwa sosial yang tinggi,” paparnya.
Satu lagi kendala yang cukup terasa ialah ketika warga tak percaya dengan adanya Covid-19. Arif berkata, kendala ini cukup serius mengingat jika ada warganya yang meninggal akibat Covid-19 memang harus disegera dimakamkan dengan standar protokol kesehatan meskipun malam hari. Pihak keluarga yang menolak tentu menjadi penghambat.
Namun, tim satgas bukan saja dari unsur pemerintahan. Ada TNI-Polri yang mendampingi mereka bekerja secara tim. TNI-Polri lah yang kerap memberikan pemahaman dan edukasi kepada kelompok masyarakat tersebut.
“Satu lagi, jika ada warga yang terpapar namun tidak kemana-kemana. Bisa saja ia tertular dari keluarganya yang mobilitasnya tinggi. Itu sebabnya, protokol kesehatan adalah pencegahan yang efektif,” katanya.
Di Kecamatan Gunung Kijang, sejak 1 Juni 2021 lalu hingga saat ini sudah 14 orang yang meninggal dan dimakamkan dengan standar Covid-19. Angka ini sekali lagi harusnya bisa menyadarkan masyarakat bahwa wabah Covid-19 tidak boleh dipandang sebelah mata.
Sudah banyak keringat tim Satgas dan tenaga medis yang keluar untuk menangangi pandemi Covid-19 ini. Masihkan kita abai dan cuek dengan protokol kesehatan ?
Arif berpesan, patuhi protokol kesehatan dengan selalu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. “Pencegahan dengan 5 M bisa melindungi diri sendiri dan juga keluarga tercinta,” pesannya. (Btn)
Editor : Redaksi






































