TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II tahun 2022 melambat jika dibandingkan dengan triwulan II tahun 2021.
Pada triwulan II tahun 2022, ekonomi Kepri tumbuh hanya 5,01 persen sedangkan triwulan II tahun 2021 mencapai 6,90 persen.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad mengatakan, melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan inflasi yang disebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM.
Ansar menerangkan, Pemprov Kepri telah berupaya menekan inflasi dengan memastikan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok.
“Kalau yang bisa kita intervensi seperti cabai, telur kan kita masih bisa mencari kemungkinan-kemungkinan sumber yang bisa men-supply itu ke tempat kita. Supaya jumlah yang beredar di pasar itu melebihi kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat. Kan berlaku teori supply dan demand,” katanya, Senin (15/8/2022).
Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin meminta agar Pemprov Kepri membentuk kawasan pertanian dan peternakan terpadu seluas 1.000 hektar di tiap Kabupaten/Kota.
Kawasan ini akan memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Wahyu optimis, dengan kawasan pertanian dan peternakan terpadu, Kepri akan swasembada pangan paling sedikit 30 persen.
Selain itu, jumlah penduduk miskin akan berkurang karena diberdayakan di kawasan pertanian dan peternakan terpadu.
“Saya yakin, kenaikan harga pangan tidak akan menyebabkan inflasi jika kita sudah punya kawasan terpadu ditambah masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk berkebun,” tuturnya, Rabu (22/6/2022).
Penulis: Ade
Editor: Nuel










































