BINTAN, SIJORITODAY.com – Menyikapi permasalahan nelayan tradisional Kabupaten Bintan masih tertahan di negara tetangga, Malaysia, mahasiswa mendesak berbagai pihak memfasilitasi kepulangan mereka. Serta mengambil sikap.
Permintaan itu ditujukan kepada Pemkab Bintan, Pemerintah Provinsi Kepri dan Pemerintah Pusat Republik Indonesia.
Ketua Umum Barisan Mahasiswa Bintan Pesisir (BMBP) Angga Hardika menilai perlu peran berbagai pihak menyelesaikan ini.
Ia menilai, pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia dapat memberikan bantuan hukum.
Melakukan upaya diplomasi serta lobi politik dalam membebaskan nelayan tradisional asal Kabupaten Bintan yang masih ditahan di negara Malaysia.
โKBRI di Malaysia saya harapkan dapat melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Malaysia. Memastikan status dan kondisi kesehatan nelayan yang masih ditahan di negara Malaysia, KBRI dan Kemenlu serta tim hukum seharusnya dapat melakukan upaya dengan peran diplomasi untuk pembebasan para nelayan, agar mereka dapat kembali dengan selamat ke Indonesia,โ tegas Angga.
Sehubungan dengan itu, ia juga menyampaikan bahwasanya kepulangan nelayan Bintan tersebut bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, namun juga merupakan Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
“Pemda Bintan dan Pemprov Kepri seharusnya lebih cepat mengambil sikap dalam membantu kebebasan nelayan kita. Melalukan komunikasi kerbagai pihak-pihak terkait dalam upaya membebaskan nelayan kita,” kata Angga.
Selain itu, Muhammad Zhein yang juga merupakan mahasiswa Bintan sangat menyayangkan sikap dari pemerintah daerah Kabupaten Bintan yang saat ini terkesan lambat dalam mengambil sikap.
Pihaknya mendesak Plt Bupati Bintan, Robby Kurniawan mengambil langkah tegas dalam masalah ini.
“Sangat disayangkan ketika ada masyarakat Bintan yang tertahan di negara tetangga namun upaya pembebasan dari pemerintah daerah sendiri terkesan lambat. Saya sangat jikalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan kepada nelayan tersebut” tutur Zhein.
Penulis: Misbach
Editor: Liza










































