BATAM,SIJORITODAY.com – Badan Pengusahaan (BP) Batam tengah melirik pasokan air baku dari Kabupaten Lingga dan Bintan untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad mengatakan, kebutuhan air baku Batam terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, pembangunan permukiman dan aktivitas ekonomi serta investasi.
Saat ini Batam memiliki delapan waduk sebagai sumber air baku, namun satu di antaranya sudah tidak beroperasi.
“Ketersediaan air baku di Batam menjadi perhatian karena pertumbuhan Batam, baik pertumbuhan penduduk, pembangunan dan rumah, maupun ekonomi dan investasi, semuanya mengindikasikan kebutuhan air bersih yang meningkat dari waktu ke waktu,” katanya, Rabu (7/10/2026).
Amsakar mengatakan kondisi tersebut membuat Batam perlu memiliki sumber air baku alternatif.
Ia mengatakan terdapat tiga langkah yang sedang dipertimbangkan, yakni mencari sumber air baku dari luar Batam, membangun waduk baru di Batam, serta melakukan revitalisasi jaringan perpipaan yang ada.
Untuk sumber air baku dari luar Batam, studi sebelumnya menunjukkan Lingga dan Bintan menjadi dua opsi yang memungkinkan.
“Lingga memiliki sumber air dengan debit lebih besar sehingga dinilai lebih menjamin ketersediaan jangka panjang, tetapi membutuhkan biaya pembangunan yang tinggi,” tuturnya.
Sementara Bintan memiliki sumber air yang lebih terbatas, tetapi biaya pengembangannya relatif lebih rendah.
“Kalau kita pilih opsi mengalirkan air dari luar Batam, jika anggaran cukup atau investor sanggup, kita harus memilih Lingga. Karena ketersediaan jangka panjang lebih terjamin,” jelasnya.
BP Batam juga telah bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga untuk membahas kemungkinan skema pembiayaan dan keterlibatan mitra dalam pengembangan sumber air baku tersebut.
Amsakar mengatakan air dari Lingga dapat dialirkan ke Batam melalui jaringan pipa.
Rencana tersebut bukan hal baru karena kajian mengenai opsi serupa telah dilakukan sejak 1991 dan kini perlu disesuaikan dengan kondisi dan harga saat ini.
Namun, besarnya biaya menjadi salah satu hal yang harus dihitung secara matang apabila proyek tersebut melibatkan investor.
“Angkanya cukup besar. Kalau menggandeng investor mereka juga pasti akan cermat tentang break-even point, atau pengembalian modalnya,” kata Amsakar.
Solusi tersebut merupakan salah satu yang dipertimbangkan, selain membangun waduk baru dan juga melakukan revitalisasi jaringan pipa yang sudah digunakan selama puluhan tahun.
Amsakar menambahkan, rencana tersebut menjadi bagian dari upaya menyusun roadmap tata kelola air Batam agar penyediaan air tidak hanya dilakukan ketika terjadi persoalan, tetapi memiliki perencanaan jangka panjang.
“Kami sudah tiga kali pertemuan dengan deputi BP Batam, pihak ABH (Air Batam Hilir) dan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Saya minta dibuat secepat mungkin roadmap tentang tata kelola air di Batam,” tambahnya. ***
Editor: Nuel











































