Rosnah (44th) salah satu pengerajin atap daun tradisional Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Foto : ruzi

LINGGA, SIJORITODAY.com–Duduk nyaman dipelantaran dapur rumahnya di Desa Panggak Laut, Kecamatan Lingga, salah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) bernama Rosnah terlihat asyik menganyam atap daun yang masih hijau sedikit kecoklatan.

Ketika diajak berbincang wanita 44 tahun ini mengaku telah melakukan pekerjaan sebagai pengrajin atap daun tradisional selama 20 tahun.

“Saya bekerja sebagai penganyam atap dari saya belum menikah sampai sekarang saya sudah punya dua anak. Anak pertama saya sudah berumur 15 tahun sekarang dia sudah duduk dikelas IX SMP anak saya yang kecil berumur 3,5 tahun,” Ungkapnya ketika berbincang santai disela-sela menganyam atap di dapur rumahnya, Selasa (17/01).

Disampaikannya, pekerjaan mengayam atap ini merupakan pekerjaan turun temurun dari datuk nenek nya. Wanita yang bersuamikan seorang supir truck ini juga mengatakan kalau penghasilan dari menganyam atap ini dapat membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kalau untuk bahan-bahan untuk membuat atap daun ini, itu dari daun sagu atau daun rumbia yang sudah tua, bambu, dan bintet yang terbuat dari kulit pelepah sagu. Bahan-bahan ini saya ambil sendiri kedalam hutan,” cetusnya.

Dalam satu bulan, Ibu dua anak ini bisa menganyam atap daun berkisar dari 700 hingga 1000 keping. Harga perkeping ia jual 700 rupiah. “Alhamdullillah dalam satu bulan bisa terjual semuanya,” singkatnya.

Informasi yang diperoleh sijoritoday.com, di Kabupaten Lingga ini bukan hanya di Desa Panggak Laut saja yang ada pengrajin atap daun. Sejumlah daerah seperti desa Nerekeh, Budus, Kudung, Teluk juga ada sejumlah pengrajin atap daun tradisional.
Penulis: Nondo/ Rz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here