Oleh : Wakil Ketua II DPRD kota Tanjungpinang Ahmad Dani

TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – – Mengkritik sudah menjadi sebuah budaya sebagian orang, bahkan kemampuan dalam mengkritik terkadang dijadikan ukuran tingkat kecerdasan seseorang. Semakin mampu dan seringnya seseorang mengkritik, terkadang sebagian orang menganggapnya adalah orang yang cerdas.

Kota Tanjungpinang sebagai sebuah Kota yang memiliki cukup banyak kedai kopi, cukup banyak mencetak kader kader kritikus. Dari budaya ngopi dan ngumpul ngumpul inilah, dari mulai membahas segala macam persoalan yang terjadi sampai dengan urusan bisnis dan politik. Ditambah lagi dengan seiring kemajuan zaman dengan adanya media sosial, maka makin mempermudah penyebaran informasi dan mempertajam keahlian para kritikus-kritikus didalam menyebarkan hasil analisanya.

Mengkritik sebenarnya bukanlah hal yang buruk, justru sebaliknya bisa menjadi vitamin dan motivasi bagi pihak yang dikritik. Kritik yang disampaikan dengan baik, tepat waktu dan tepat sasaran adalah kritik yang sangat bermanfaat, apalagi jika disertai dengan solusi – solusi kongkrit maka justru akan menjadi Kritikan yang membangun.

Banyak orang cerdas yang hanya pandai mengkritik tetapi tidak mampu memberikan ide atau solusi yang lebih baik daripada yang sedang ia kritik. Terkadang pula kritikan- kritikan yang dimunculkan lebih bersifat subjective daripada mengedepankan objektivitas.

Budaya dan lingkungan kritikus- kritikus kedai kopi seperti ini cenderung membuat kemampuan kreatifitas seseorang dan lingkungannya sulit berkembang, bahkan mematikan. Tidak heran kita lebih gampang mendapati orang-orang pintar yang memperoleh predikat pintar karena kemampuan mengkritiknya,  tapi tidak kreatif dalam solusi apalagi inovatif.

Dalam berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun maya, semuanya perlu belajar untuk melihat semua hal dari sisi-sisi lain juga, sehingga kritikan yang dihasilkan dapat lebih objective, selective dan soluktive.

Jika para kritikus-kritikus ala kedai kopi ini mampu mendesain kritikannya dengan lebih objektive dan dibarengi solusi- solusi kongkrit mungkin bobot kwalitas mereka justru akan lebih diperhitungkan. Sehingga siapapun yang dikritik bukan menjadi sakit hati, justru akan menjadikan kritikan tersebut sebagai bahan intropeksi dan vitamin baginya untuk memperbaiki segala kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya.

Ini juga merupakan bentuk kritikan terhadap para sahabat sahabat kritikus, tetapi sekedar ingin saling mengingatkan agar dalam mengkritik tetap mengedepankan asas- asas kepatutan dan cara-cara yang positif dan membangun. Disatu sisi, munculnya kritikan yang membangun tentunya didasari dengan pengetahuan yang mumpuni, sehingga kritikan yang dilakukan seseorang lebih berkualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here