TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – -Salah satu akademisi di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Afrizal, S.IP., M.Si sebagai Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini mengkritisi Partai Politik (Parpol) yang melakukan penjaringan dengan membuka pendaftaran sebagai Bakal Calon yang akan di usung melalui Partai.

Dirinya menilai, beberapa paham yang riskan ketika munculnya beberapa Parpol membuka pendaftaran penjaringan calon untuk walikota dan wakil walikota Tanjungpinang 2018.

“Menurut hemat saya, melihat kondisi demikian. Fungsi Parpol itu menjadi suatu kesalahan ketika membuka ruang kepada orang lain untuk mendaftarkan kepartai tersebut agar di usung,” kata Afrizal, S.IP., M.Si.

Seharusnya, keberadaan Parpol itu secara organisasi adalah untuk memproduksi dan mengkader untuk dijadikan pemimpin Bangsa ini, baik di level Daerah maupun Nasional.

“Ketika Parpol membuka ruang kepada orang luar, untuk masuk kepartai politik agar di usung menjadi calon kepala daerah maupun wakil , seolah-olah Parpol fungsinya hanya pengusung saja tidak memproduksi dan mengkader,” ucapnya menilai.

Artinya orang tidak perlu berkarir dipolitik secara organisasi. Tidak perlu masuk anggota partai, tidak perlu mengikuti mekanisme kaderisasi dipartai, serta pelatihan yang dibuat oleh Parpol. Cukup dengan memiliki elektabilitas, popularitas, dan modal sebagainya.

Menurutnya, secara teori Parpol itu bagaimana menciptakan pemimpin, mendidik, dan berkarir hingga sampai kepuncak kepemimpinan.

“Anggaplah orang yang sudah lama mengabdi kepada Parpol, dari awal masuk berkarir dan berharap mencapai puncak kepemimpinan. Ahkirnya dia tersingkir kan dengan orang-orang yang baru masuk yang punya modal, elektabilitas , serta popularitas,” sebutnya.

Maka, kata Afrizal, seharusnya Parpol bisa melahirkan kader-kader terbaik melalui mekanisme partai, sehingga bisa di calonkan.

“Kegagalan Parpol secara kaderisasi, ketika membuka ruang pendaftaran secara terbuka. Kepada partai yang tidak membuka pendaftaran, saya sangat apresiasi, karena yakin dengan kader yang sudah dilahirkan, dan diproduksi,” ucapnya. (*/ra)

1 KOMENTAR

  1. Sispapun bisa berkomentar dan kritisi hal2 yg mereka anggap diluar nalar dia, ibarat komentator olag raga, sebetulnya dia cuma paham secara teori, ketika dia disuruh melakukan bingung, boleh sj kritisi asal dia pandai dan oaham dari apa yg dikritisinya, jgn asbun atau asal bunyi, harus memahami apa yg dikritisi, kalau sy cermati ini cuma cari sensasi sj agar dapat perhatian dari apa yg dikritisinya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here