TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – -Kepergian sang legendaris Bhikkhu Sek Cong Seng / Zong Sheng menggoreskan kesedihan yang mendalam bagi pengikutnya.

Tepat pada usia yang ke 100 tahun, sang bhikkhu yang merupakan pimpinan VIHARA AVALOKITESVARA GRAHA, batu 14 Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, juga Bhikkhu tertua dan terkenal di Indonesia meninggal pada Kamis15 Maret 2018 pukul 16.00 WIB, di Changi Hospital Singapore.

Jenazah Bhikksu Sek Cong Seng tiba di Tanjungpinang pada Hari Jumat tanggal 16 Maret 2018 Jam 17.15 WIB. Kemudian akan dikrematorium di Vihara Avolokitesvara Graha Kepri pada Rabu Tanggal 21 Maret 2018.

Sek Cong Seng lahir di China tepatnya di Kota Kou Tien pada tahun 1919, dia sudah berada di Indonesia selama 41 tahun. Sebelum tiba di Tanjungpinang, Sek Cong Seng pernah tinggal di Malaysia dan di Singapura, kemudian beliau bertolak ke Kota Tanjungpinang.

Semasa hidupnya, selain menjadi sebagai pemimpin VIHARA AVALOKITESVARA GRAHA, Almarhum telah mengabdi sebagai Bhikkhu di Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka Kota Tanjungpinang selama 41 tahun, Bihara tersebut dibangun pada tahun 1857 oleh masyarakat Cina dari etnis Hokkien dan merupakan salah satu cagar budaya di Kota Tanjungpinang yang dilindungi Undang-undang RI tahun 1992 tentang cagar budaya.

Berdasarkan penelusuran rekam jejaknya, bahwa sang Bhikkhu telah lama berkelana berkeliling di beberapa Negara menjadi bhikkhu. Informasinya beliau telah berkeluarga di Kota Kelahirannya.

Seiring perjalanan sang bhikkhu, tepatnya pada tahun 2001, Sek Cong Seng bersama Ketua Walubi Provinsi Kepri Hengky Suryawan mulai merintis untuk membangun VIHARA AVALOKITESVARA GRAHA hanya di atas lahan tanah 2 hektar.

Namun dengan semangat yang gigih, pembangunan vihara tersebut dapat diselesaikan bahkan hingga saat ini luas tanah tersebut berhasil dikembangkan hingga 10 hektar dari satu bangunan lama hingga menjadi banyak bangunan. Seperti saat ini, akan di bangun sebuah pagoda 9 lantai atas ide Sek Cong Seng.

Sebelum meninggal, beliau senantiasa sehat, dan pernah sekali mengalami sakit tepatnya pada November 2017 dan para dokter mengakui bahwa tubuh beliau selalu kuat dan sehat. Tepatnya pada Rabu 15 Maret 2018, beberapa jam sebelum meninggal, Sek Cong Seng menderita penyakit paru-paru yang menyebabkan dirinya kekurangan oksigen untuk bernafas.

Melihat kondisi seperti itu, tim dokter Tanjungpinang menyarankan agar Sek Cong Seng dirujuk ke rumah sakit Singapura. Meskipun dengan resiko kematiannya 50 persen.

Saat itu, perlengkapan di Kota Tanjungpinang tidak memadai untuk menangani penyakit yang diderita Sek Cong Seng.

Usaha dari keluarga pun sepertinya sampai di rumah sakit Changi Hospital, Dokter menyatakan Sek Cong Seng meninggal dunia meskipun sudah mendapatkan perawatan oleh dokter setempat.

Ketua Walubi Provinsi Kepri Hengky Suryawan mewakili umat Budha Kota Tanjungpinang maupun Indonesia sangat merasa kehilangan karena sebagai SUHU, mendiang telah memberikan sesuatu yang luar biasa, dan memiliki suhu dengan umur 100 tahun itu begitu luar biasa bagi umat dan pengikutnya di Indonesia maupun dunia.

Kesedihan yang mendalam sangat dirasakan Hengky, bukan tanpa sebab, dirinya bersama mendiang telah bersama-sama selama 40 tahun lamanya. Begitu banyak kesan yang ditinggalkannya, salah satunya yang sangat membekas ketika mendiang mengajak dirinya untuk membangun sebuah VIHARA AVALOKITESVARA GRAHA.

Sejak itu, dimana hasil dari gagasannya sudah menjadi kebanggaan masyarakat kepri dan wisatawan mancanegara.

“Kita sudah bersama selama ini, dan kemanapun sering bersama. Saya dan dia hanya berbeda 30 tahun saja,” kata Hengky di VIHARA AVALOKITESVARA GRAHA, Jumat (16/3).

Atas kepergian sang Bhikkhu, akan sangat banyak pengikutnya yang akan hadir dari beberapa Negara diantaranya China, Singapura dan Malaysaia untuk melihat terakhir kalinya sang biksu legendaris itu.

Penulis: Beto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here