KARIMUN, SIJORITODAY.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) bekerjasama dengan tokoh-tokoh agama akan menggelar dialog interaktif dan pelatihan membuat ayat-ayat damai dalam pencegahan terorisme di Karimun, Kamis (16/8).

Menurut Ketua FKPT Kepri Dra. Hj. Reni Yusneli M.TP, tema di setiap acara yang digelar selalu mengenai kearifan lokal dalam upaya menciptakan kedamaian dan pencegahan paham radikal.

“Wilayah dan daerah kita ini tak terlepas dari konteks politik, sosial, ekonomi dan budaya yang bersifat lokal, nasional, maupun internasional. Penduduk kita yang hitrogen menuntut kita untuk saling menghargai satu sama lain,” kata Reni Yusneli.

Pematerinya, sambung Reni, salah satunya merupakan pejabat BNPT Letkol Setyo Pranowo, S.H., M.M, selain itu ada pemateri dari pusat Dr Taufik Hidayatullah, M.A. & Ira Novita.

“Nanti, akan ada pelatihan teknik-teknik penulisan naskah dakwah, serta ada lomba ayat-ayat Damai kepada penyuluh agama,” sebutnya.

Kegiatan ini akan diikuti para penyuluh agama untuk mendapat pembekalan tentang pencegahan paham radikalisme dan tindakan terorisme.

Reni berharap, penyuluh agama yang tersebar di seluruh kecamatan ikut andil dalam deteksi dini aksi terorisme. Pembekalan bertajuk “Ayat-ayat Damai, Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme” itu diikuti oleh penyuluh lintas agama.

“Jadi radikalisme atau wilayah-wilayah yang rawan konflik itu bisa diminimalisir dan dideteksi secara cepat. Karena memang cuma Kementerian Agama yang punya penyuluh sampai ke bawah. Tinggal bagaimana ini dimanfaatkan maksimal oleh negara untuk meminimalisir segala persoalan-persoalan bangsa,” ungkapnya.

Melalui kehadiran narasumber pusat ditambah narasumber lokal FKPT Kepri berharap dapat lebih membuka cakrawala warga, bahwa damai itu indah dan berpotensi merekatkan kohesi sosial anak-anak bangsa di mana sekarang rentan retak.

“Termasuk meningkatkan toleransi, sekaligus menepis pengaruh radikal-terorisme. Hal ini amat sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang beragam agama, suku, bangsa dan bahasa,” sebut Reni.

Sekarang, sambung Reni, Indonesia dibelit penyakit intoleransi. Di sosial media juga sering ribut komentar. Postingan Hoaks juga makin menonjol. Butuh pendekatan budaya untuk meredakan situasi kepada warga net yang berbeda pandangan politik.

Rilis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here