Para satgas TMMD dan masyarakat berkerja saling bahu-membahu

BAGI yang terlahir di tahun 1980-an, istilah ABRI Masuk Desa (AMD) mungkin sudah tidak asing lagi. Seiring perjalanan bangsa dengan berbagai macam problematikanya, program AMD itu terhenti. Namun tidak dapat dipungkiri, program tersebut sedikit banyak telah memberikan sumbangsih bagi pembangunan dibeberapa wilayah pedesaan yang tersebar di pelosok Nusantara.

Beberapa tahun terakhir, semangat itu tumbuh kembali dengan platform yang baru. Meskipun hakekatnya tetaplah sama, namun implementasi dari semangat Manunggal TNI dan Rakyat kini lebih menitikberatkan pada pembangunan desa dalam semua sektor kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa ( TMMD ), peran TNI bukan hanya sebatas menjaga kedaulatan Negara dengan hanya menghandalkan kekuatan TNI semata. Akan tetapi, membangkitkan kembali semangat kemanunggalan TNI bersama rakyat adalah sebuah kekuatan yang sangat luar biasa yang harus terus terpelihara sampai kapanpun.

Di ujung utara Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau, yang merupakan perbatasan NKRI dengan negara tetangga Malaysia terdapat beberapa desa yang salah satunya adalah Desa Pengudang. Sebuah desa eksotis dengan keragaman sumber daya lautnya, merupakan salah satu potensi yang ada di Wilayah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Namun, pembangunan yang ada di Desa Pengudang tidak sebanding dengan kekayaan sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut.

Foto: ak

Melalui penyelarasan dengan program Pemerintah Kabupaten Bintan yang merencanakan akan menjadikan Desa Pengudang sebagai salah satu kawasan pedesaan berbasis pariwisata, Kodim 0315 Bintan pada pelaksanaan program TMMD yang ke 103 telah memilih Desa Pengudang sebagai lokasi pelaksanaan program TMMD tahun 2018.

JEJAK DALAM INGATAN

Hj.Akhibah, adalah salah seorang tokoh perempuan yang ada di Desa Pengudang yang biasa disapa warga setempat dengan sebutan nenek. Bagi masyarakat Desa Pengudang, sosok Hj.Akhibah sudah sangat dikenal. Sebab, beliau adalah istri dari almarhum pak Ridwan mantan Kepala Desa pertama kali di Desa Pengudang.

Pagi hari yang sedikit dicurahi rintik-rintik hujan, diberanda rumah warga Desa Pengudang, sang nenek mencoba mengembalikan ingatannya beberapa tahun silam.

“Jalan di Desa Pengudang dulu masih tanah, rumah pada saat itu dapat dihitung, saya sama pak kades dulunya tinggal dikantor desa itu dikelilingi pohon. Tidak bisa masuk mobil disini. Syukurnya ada bapak-bapak tentara yang waktu itu masuk dan membangun jalan ini,” kenang sang nenek.

Menurut sang nenek, ABRI Masuk Desa atau yang dikenal dengan singkatan AMD merupakan program yang dilaksanakan oleh ABRI (kini TNI) pada saat itu di Desa Pengudang.

Program yang sudah dua kali dilaksanakan di Desa Pengudang ini ternyata memberikan kesan yang luar biasa di ingatan masyarakat Desa Pengudang termasuk sang nenek Hj. Akhibah.

Perkataan sang nenek diperkuat oleh salah satu warga yang kebetulan lahir di Desa setempat. Namanya Lasajak berumur 55 tahun.

Lasajak (55) warga asli Desa Pengudang. Foto; Ak

“Jika bukan karena jasa bapak-bapak tentara saat itu yang membangun desa kami, mungkin jalan di desa kami tidak seperti yang ada saat ini,” ungkapnya.

Kini program tersebut hadir kembali, meskipun dengan istilah yang berbeda. Dulunya adalah ABRI Masuk Desa (AMD) dan kini TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Bagi masyarakat Desa Pengudang, program tersebut sudah sangat jelas bermanfaat bagi masyarakat khususnya bagi kemajuan desanya dimasa mendatang.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada bapak-bapak TNI masuk lagi membangun desa kami. Bagi kami, manfaatnya sudah pernah kami rasakan hingga saat ini. Dengan ini masuk lagi, ada harapan kami semoga saja menjadi jalan bagi penghidupan kami lebih baik lagi,” ucap Lasajak.

MANUNGGALNYA TNI BERSAMA RAKYAT

Dilahan pekerjaan sepanjang 4050 meter di Desa Pengudang, terlihat semangat satgas Kodim 0315 Bintan membaur bersama masyarakat. Hampir tidak ada jarak status sosial yang memisahkan mereka.

Para Satgas TMMD dan Masyarakat saat dilokasi pekerjaan. Foto: ak

Start pukul 07.00Wib hingga pukul 17.00Wib setiap harinya, mereka hanya menghabiskan waktu bersama-sama mengerjakan pembangunan jalan, batu miring dan gorong-gorong dilokasi yang telah direncanakan itu. Alhasil, di hari ke -11 pekerjaan berhasil rampung sekitar 90%.

Hujan menjadi kendala alam yang mau tidak mau harus dihadapi. Namun, tidak menyurutkan semangat gotong royong yang terpatri dipundak para satgas TMMD bersama masyarakat setempat.

“Jika hujan turun, kami berhenti dulu. Namun, menjadi kendala bagi kami sebab timbunan tanah turun sehingga setelah hujan berhenti kami harus timbun kembali. Namun begitu, semangat kami bersama masyarakat tidak ikut turun dan tetap semangat melanjutkan pekerjaan,” kata Komandan SSK TMMD Lettu M.Yusuf.

Satgas TMMD Kodim 0315/Bintan ini selama 30 hari harus berada di Desa Pengudang. Mereka membaur bersama warga layaknya seperti keluarga. Malam, tidak hanya dipergunakan untuk waktu beristirahat. Namun, para prajurit negara ini juga menjalankan aktivitas sosial mereka layaknya masyarakat lainnya yang ada di Desa Pengudang. Kegiatan diisi seperti dengan obrolan-obrolan santai bersama warga, bahkan diisi dengan kegiatan keagamaan seperti mengaji dan membaca yasin bersama-sama masyarakat setempat.

TNI dan Masyarakat saat sedang pengajian bersama-sama di Desa Pengudang.

“Kebersamaan dan saling mendukung menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam pelaksanaan tugas,” ujar Lettu M. Yusuf.

UNTUK SEBUAH HARAPAN HIDUP

Desa yang memiliki luas lebih kurang 77,1 Km persegi ini, merupakan wilayah pinggiran laut yang sebagian besar masyarakatnya bergantung pada sumber daya laut.

Pompong (Perahu) nelayan saat ingin melaut. Foto; ak

Namun, jika umumnya desa di Bintan mengganggap musim Utara adalah ancaman bagi pelaut. Di Desa Pengudang, musim barat menjadi momok tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi Nelayan. Tingginya gelombang laut dan angin yang ribut pada musim barat, membuat para nelayan di Desa Pengudang memilih untuk tidak melaut. Itupun jika ada yang melaut, mereka akan mencari tempat untuk berlindung.

Berbagai pekerjaan pun dilakukan masyarakat Nelayan di Desa Pengudang pada musim barat tiba, hal itu dilakukan demi menghidupi keluarga selama musim barat berlangsung. Tidak terkecuali bagi Lasajak (55 tahun), yang memang penghidupannya bersama keluarga bergantung pada laut.

“Kalau ada angin barat, saya bekerja sampingan sebagai petugas kebersihan di kantor desa,” ucap Lasajak.

Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMDD) Tahun 2018 di Desa Pengudang, program pembangunan jalan dilakukan dengan tujuan agar terbukanya akses lahan bagi masyarakat. Selain dapat dipergunakan sebagai kawasan pemukiman baru, masyarakat nantinya dapat memanfaatkannya sebagai lahan pertanian dan perkebunan.

Dengan demikian, program tersebut jelas memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Selain menjadi kawasan pemukiman baru yang representatif bagi masyarakat, juga dapat menjadi alternatif pekerjaan bagi masyarakat khususnya bila musim barat tiba.

“Sangat besar manfaatnya jika program ini berjalan, sebab selain melaut kami juga bisa berkebun untuk menghidupi keluarga apalagi jika musim barat,” ucap Acok salah seorang warga Desa Pengudang.

Penulis: Akok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here