Dompak adalah salah satu pulau kecil yang ada di Kota Tanjungpinang yang kemudian ditetapkan sebagai kawasan pusat Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Kawasan Pusat Pemerintahan ini pada masa Gubernur Kepulauan Riau Almarhum H. Muhammad Sani diberi nama Istana Kota Piring.

Memasuki kawasan Pulau Dompak bila melalui Jembatan 1, maka yang pertama kali terlihat jelas adalah sebuah bangunan yang berada diatas bukit dengan menara yang cukup tinggi. Bangunan tersebut adalah Masjid Nur Ilahi atau Masjid Raya Provinsi Kepulauan Riau. Masjid yang mulai digagas pada Pemerintahan Gubernur Kepri H. Ismeth Abdullah yang kemudian diteruskan dimasa kepemimpinan Almarhum H.M.Sani ini memang terletak diatas bukit sehingga tampak jelas terlihat dari kejauhan.

Masjid Raya Nur Ilahi, nama yang disematkan oleh Alm. H.M. Sani ini telah menelan anggaran 100 milyar lebih dari APBD Kepri selama beberapa tahun. Angka yang fantastis tersebut memang dinilai wajar jika kita melihat dari jauh kondisi Masjid yang menjadi salah satu icon religi sekaligus kebanggaan masyarakat di Kepulauan Riau ini. Namun, setelah kita amati secara dekat ternyata kemegahan yang tampak tersebut membuat kita terkadang mengerutkan kening.

Dibeberapa kesempatan Gubernur Kepri Nurdin Basirun selalu mengatakan bahwa Masjid ini adalah kebanggaan Provinsi Kepulauan Riau karena merupakan salah satu icon yang ada di Ibukota Provinsi Kepri. Bahkan Nurdin Basirun selalu menyampaikan komitmennya akan terus mempercantik dan menata kawasan Masjid Raya ini, namun ironisnya berbanding terbalik dengan kondisi yang ada.

Kemegahan Masjid yang tampak dari kejauhan ini ternyata tidak seperti yang kita bayangkan saat kita memasuki area Masjid.

Tidak adanya kelanjutan perawatan dan pemeliharaan Masjid ini tampak dari warna cat Masjid yang memudar dan dinding-dinding menara yang mulai lepas. Menara yang dirancang untuk dapat melihat sekitaran Pulau Dompak dari atas ini tidak bisa diakses karena lift yang tidak berfungsi.

Halaman Masjid tampak gersang dengan tidak adanya pepohonan dan tanaman bunga serta lantai cor semen tanpa keramik. Pemandangan ini seperti kawasan bangunan yang lama ditinggalkan dan jauh dari kesan adanya perhatian.

Bila kita memasuki bangunan Masjid, maka kita disambut dengan pintu-pintu kayu raksasa dengan tinggi lebih kurang 4 meter. Namun sayangnya, pintu-pintu tersebutpun sudah mulai keropos dan lapuk sehingga tentu sangat membahayakan. Apalagi posisi bangunan sangat rentan diterpa angin kencang.

Pemandangan yang memprihatinkan juga terlihat dengan adanya beberapa ember yang berada di dalam Masjid. Ternyata, ember-ember tersebut digunakan untuk menampung tetesan air hujan bila hujan mengguyur karena adanya beberapa titik kebocoran didalam Masjid.

Disaat redaksi media ini hendak melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid ini yang cukup ramai jemaahnya. Hal yang sungguh memprihatinkan dan rasanya tidak sebanding dengan kemegahan bangunan Masjid ini adalah keterbatasan karpet sajadah. Tentu hal ini membuat para jemaah menjadi kurang nyaman dalam melaksanakan ibadah, padahal seyogyanya hal ini harus menjadi perhatian utama demi menciptakan kenyamanan jemaat dalam melaksanakan ibadah. Begitu juga dengan soundsystem yang dimiliki, tidak terdengar jernih karena gema dan speaker yang sedikit sehingga suara tidak merata dengan kondisi bangunan Masjid yang begitu luas.

Sungguh pemandangan yang ironis. Masjid kebanggaan Provinsi Kepri yang juga merupakan salah satu icon tujuan wisata religi di Kota Tanjungpinang ini seperti Masjid yang belum selesai.

Padahal kawasan Masjid ini memiliki sarana prasarana yang cukup representatif. Terdapat beberapa aula yang dapat diakses untuk kegiatan umum yang mampu menampung 2000 orang. Namun, kecilnya lahan parkir dan ruas jalan mempersulit kendaraan jamaah untuk keluar masuk area Masjid.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau harusnya serius dalam memberikan perhatian terhadap Masjid Raya Provinsi Kepulauan Riau dan tidak hanya sebatas wacana. Masjid ini adalah marwah dan kebanggaan daerah serta sebagai simbol akan Visi Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu yang tentu erat kaitannya dengan Islam.

(Ak/Un)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here