Menurut Suryadi, keberadaan BUMD, PT Tanjungpinang Makmur Bersama (PT TMB) belum berkontribusi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) secara signifikan, sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah daerah.
Memang kini PT TMB sudah mampu menghasilkan PAD sekitar Rp1 miliar per tahun, yang bersumber dari dana bagi hasil pas masuk pelabuhan bekerjasama dengan Pelindo I Cabang Tanjungpinang.
“Namun penghasilan sebesar itu tak masuk ke kas daerah, karena hanya cukup untuk membiaya operasional seperti gaji direksi dan karyawan BUMD,” ujar Suryadi.
Maka itu, dia berharap semua organ BUMD bekerja keras, terutama direksi yang bertanggungjawab penuh dalam menjalankan perusahaan harus mampu meyakinkan pemerintah daerah dengan bisnis plan yang terarah dan terukur, tak hanya kerja rutinitas.
“Sehingga BUMD sebagai perusahaan daerah bisa memberi efek yang kuat guna memajukan perekonomian di Tanjungpinang,” kata Suryadi, Selasa (19/11).
Suryadi menyarankan beberapa peluang bisnis yang bisa digarap BUMD Tanjungpinang untuk meningkatkan PAD. Antara lain, menjajaki peluang bisnis seputar dunia pendidikan, yaitu dengan membangun rumah kos-kosan bagi siswa dan mahasiswa luar daerah yang menuntut ilmu di Kota Tanjungpinang.
Rumah kos tersebut kemudian akan disewa oleh para mahasiswa, lalu hasilnya akan dimasukkan ke kas daerah.
Apalagi beberapa tahun terkahir, kata dia, pelajar khususnya Kepri bahkan luar Kepri semakin banyak yang kuliah atau bersekolah di Tanjungpinang.
“Ini memang untuk jangka panjang, karena sejalan dengan dengan visi – misi menjadikan Tanjungpinang sebagai kota pendidikan,” imbuhnya.
Kemudian, Suryadi juga menyarankan BUMD menggarap sektor bisnis di bidang pariwisata, karena dunia pariwisata Tanjungpinang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Misalkan destinasi wisata berserjarah Pulau Penyengat yang sudah tak asing lagi di Indonesia, bahkan sudah ditetapkan sebagai pulau perdamaian dunia.
Menurut Suryadi, diperlukan kerjasama dengan berbagai berbagai pihak agar pulau tersebut semakin banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman).
Salah satunya, lanjut dia, BUMD bisa bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bintan dan stakeholder terkait, di mana tiap-tiap wisman yang berkunjung ke pusat wisata terpadu Lagoi melalui pintu masuk Bintan dapat diarahkan berkunjung ke Pulau Penyengat, Tanjungpinang.
“Juga sediakan moda transportasi yang layak dan meyakinkan untuk wisman dari pelantar penyeberangan Tanjungpinang ke Pulau Penyengat,” tutur Suryadi.
Tidak hanya itu, BUMD pun disarankan menjalin kerjasama dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Kerjasama tersebut sangat memungkinkan karena Tanjungpinang (Kepri) berbatasan langsung dengan dua negara itu.
“Apalagi sudah ada transportasi laut langsung dari Tanjungpinang ke Malaysia dan Singapura. Ini jadi salah satu penunjang kerjasama kedua pihak,” sebutnya.
(Mn)