Oleh : Muhammad Ade (Mahasiswa Ilmu Hukum UMRAH)

Akhir-akhir ini kita sedang digemparkan dengan wabah virus corona yang masuk ke Indonesia. Pada tanggal 2 Maret 2020. Dengan dinyatakannya 2 warga depok positif corona, Indonesia resmi pada hari itu menjadi salah satu negara yang terjangkit virus corona.

Penyebaran virus corona tak bisa dibendung lagi, bagaikan air yang membludak namun tembok yang dipergunakan sebagai menahan air tidak dipertinggi. Hal itu memperbanyak kasus virus corona di Indonesia, seperti yang dilansir oleh Tirto.id dari kasus sebanyak 1.285 positif dan angka kematian perhari sebanyak 12 orang sehingga jumlah total angka kematian akibat corona sebanyak 114 orang.

Dengan resminya Virus Corona masuk ke Indonesia, berbagai upaya dilakukan untuk melakukan pencegahan, salah satunya dibagian akademis (kampus). Dengan cara mengalihkan media pembelajaran yang awalnya secara tatap muka menjadi Dalam Jaringan (Daring).

Hal ini terbukti dengan banyaknya kebijakan-kebijakan kampus di sejumlah tempat yang memberhentikan aktivitas kuliah tatap muka atau pergi ke kampus. Isitilah ini kerap dimaknai sebagai Liburan bagi mahasiswa. Yang sebenarnya libur datang kekampus bukan berarti mennon-aktifkan kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun mengalihkannya menjadi secara Online dengan memanfaatkan teknologi yang selalu berada di saku celana maupun yg berada di tas.

Perspektif ini (Liburan) terus berlanjut bahkan sampai ke Universitas yang saya terdaftar sebagai mahasiswa didalamnya. Sebut saja Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Pada tanggal 19 Maret 2020 Universitas Negeri itu mengalihkan KBM menjadi secara online (kuliah dari rumah) melalui surat edaran yang dikeluarkan sampai tanggal 3 April 2020. Konon kebijakan ini belum memiliki titik terang, terkait diperpanjang atau tidak.

Sebelum keluarnya surat edaran tersebut, mahasiswa UMRAH terus melakukan tuntutan melalui media sosial. Hingga pada puncaknya, beberapa Mahasiswa UMRAH melakukan protes menggunakan media spanduk yang di cat dengan tulisan kurang lebih “UMRAH kebal Covid-19” dengan sedikit hashtag #hati-hatimahasiswa!!!. Dan di tempel di FISIP sebagai bentuk teguran kepada pihak rektorat yang diduga lambat mengeluarkan kebijakan.

Pada intinya pemberlakuan kuliah online ini merupakan kehendak mahasiswa yang pada hari itu sangat ingin sekali kuliah dari rumah (KDR). Senyum bahagiapun terpancar dari wajah-wajah mahasiswa dibalik terangnya layar handphonene ketika kebijakan tersebut dikeluarkan.

Berselang beberapa minggu kuliah online dijalankan, berbagai keluhan keluar dari mahasiswa karna banyaknya tugas yang diberikan. Konon jika kuliah tatap muka tidak sebanyak itu tugasnya. Mahasiswa dibuat pusing karna tugas-tugas tersebut.

Ini seperti senjata makan tuan bagi mahasiswa, kuliah online yang dinantikan sejak lama, yang diharap-harapkan, ternyata tidak se-enak liburan yang mereka bayangkan. Tidak hanya itu, kebijakan kuliah online itu bahkan disambut oleh mahasiswa  dengan pulang ke kampung masing-masing.

Ini aneh sekali, kita yang pada hari itu memprotes kampus untuk segera melakukan kebijakan kuliah dari rumah (KDR) lalu kita pula yang mengeluh karna banyaknya tugas kuliah online yang diberikan oleh dosen. Tentulah ini seperti senjata makan tuan.

Kita yang menginginkan kuliah online (libur) itu, lalu kita yang memprotes karena banyaknya tugas yang diberikan, kita yang meminta keluar dari rumah lalu kita juga yang mengeluh karena badai yang ada diluar rumah. Kita yang menuntut dengan bangga untuk segera kuliah online, pada saat sudah berlakukan kita juga yang tidak menginginkan itu.

Jadi sebenarnya yang perlu kita luruskan adalah cara pandang kita dalam menanggapi bencana alam non-fisik ini. Pahami saja ini sebagai salah satu dampak dari virus corona yang semakin marak di Indonesia, yang mau tidak mau kita harus belajar dengan cara seperti itu.

Dari awal saja kita sudah menekan psikis kita bahwasanya kebijkan kampus terkait kuliah online merupakan liburan bagi mahasiswa, padahal bukan, kita hanya mengalihkan cara kegiatan belajar mengajar kita, dari tatap muka ke Online.

Kalau dari awal saja kita sudah memahaminya sebagai libur, maka yang kita lakukan bersantai-santai, sehingga ketika tugas menghantam ubun-ubun kita, seakan-akan ada yang sedang menganggu waktu santuy kita.

Dalam bukunya James Borg dengan Judul Kekuatan Pikiran, apa yang kita pikirkan akan dengan cepat terhubung ke perasaan, kemudian menghasilkan sebuah tindakan. Jadi jika kita berpikir bahwa kebijakan tersebut bukanlah penegahan melainkan liburan, maka yang kita lakukan adalah bersantay-santay seperti liburan. Karenanya, jika tiba-tiba dapat tugas kita hanya bisa mengeluh karna kita merasa waktu liburan kita terganggu.

Saya juga mahasiswa yang merasakan hal yang sama, namun saya tidak mengeluh atau menjilat ludah saya sendiri terkait tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Saya tau tugas-tugas itu susah bahkan saya memandang ini bukan hanya tugas, tapi belajar secara mendiri lalu dibuktikan dengan membuat tugas. Dua hal yang dilakukan secara bersamaan.

Saya rasa dari kebijakan ini tidak ada yang paling diuntungkan, baik mahasiswa maupun dosen. Kedua pihak ini saling ber-sinergi untuk bagaimana kuliah dari atas kasur ini berjalan dengan efektif, beban sks yang telah kita ambil semester ini tetap berjalan dengan baik. Materi-materi yang seharusnya kita dapat tetap kita raih.

Bayangkan saja, beberapa dosen kita (mohon maaf) ada yang gaptek, mereka berusaha untuk bagaimana perkuliahan tetap aktif walaupun dilakukan dengan tidur-tiduran bahkan sambil merokok dan ngopi.

Dosen-dosen kita yang kurang dalam perihal teknologi, tetap berusaha meggunakan aplikasi yang mereka tidak paham cara kerjanya, aplikasi yang baru kali itu mereka lihat dan gunakan, tidakkah kita bisa menghargai usaha mereka ?

Tidak hanya itu, mahasiswa tingkat akhir di kampus kita banyak yang lebih menderita dari kita yang masih memiliki beban sks, mereka yang baru saja melakukan Seminar proposal, terpaksa untuk berhenti sejenak melakukan penilitian, mereka yang seharusnya sudah sidang skripsi batal karna virus ini, bahkan ada mereka yang seharusnya sudah di wisuda gagal juga karna pandemi ini.

Yang harus kita lakukan adalah merubah pandangan terkait kuliah online ini, memang kita tidak perlu repot pergi ke kampus, tapi kuliah tetap berjalan, mau bagaimanapun juga. Mau 2 semester sekalipun kuliah daring, tetap saja itu bukan liburan gaes.

Anggap saja ini implikasi dari wabah corona yang semakin hari semakin banyak, dan kita sebagai mahasiswa mencegahnya dengan cara kuliah online, belajar melalui gadget, mengerjakan tugas sambil rebahan, bahkan yang biasanya bangun tidur buru-buru mandi untuk kekampus, justru hari ini tidak, bangun tidur langsung video call dengan dosen.

Ingatlah teman-teman, ini bukan liburan, kita tetap kuliah setiap harinya, tetap belajar sesuai mata kuliah yang telah terinput, tetap mencatat seperti biasanya, tetap mendengarkan dosen menyampaikan materi, tetap diberikan tugas, hanya saja medianya yang berubah.

Pahami sebagai pencegahan bukan liburan

 

Print Friendly, PDF & Email

2 KOMENTAR

  1. Kuliah Onilne diberlakukan agar mahasiswa bisa belajar dirumah dan tidak perlu keluar. Tapi tugasnya sendiri memaksa mahasiswa untuk keluar seperti membuat tugas, tatap muka menggunakan App yang menguras kuota dan juga disuruh merekam video dan upload ke youtube yang tentu saja butuh bantuan orang lain (social distancing untuk apa?) dan lagi2 kuota. Bagi yang punya koneksi wifi di kost atau rumah enak. Yang ga punya gimana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here