BINTAN,SIJORITODAY.com – Pernah dinyatakan positif terpapar Covid-19 dan harus menjalani isolasi di LPMP Kepri di Ceruk Ijuk Toapaya Kabupaten Bintan, membuat sosok Arison semakin kuat dan yakin bahwa pandemi Covid-19 bisa segera berakhir.
Ceritanya itu pun ia bagikan sebagai wejangan bagi kita semua, bahwa Covid-19 bukan penyakit yang membawa aib. Sehingga, sebagai mahluk sosial sudah sewajarnya kita bijak menyikapi para penderita Covid-19.
Komisioner KPU Provinsi Kepri itu ingin menyakinkan kepada masyarakat, bahwa hanya dengan kebersamaan dan semangat gotong royong kita mampu mengakhiri pandemi Covid-19.
“Percuma kita pakai masker, tetapi masih banyak yang tak mau pakai masker. Kita harus bersama-sama menghadapi ini,” ungkap Arison mengawali wejangannya, Selasa (25/5).
Dari situ, Arison memulai dari dirinya sendiri untuk menyadarkan dirinya bahkan keluarga dan tetangganya bahwa penderita Covid-19 bukan aib dan pembawa sial/musibah yang harus dijauhi atau bahkan diasingkan.
Disinilah kebersamaan harus ditonjolkan. Bahwa jika ada yang terpapar dilingkungan tempat tinggal kita, Arison berkata, sesama saudara sudah sewajarnya harus tetap menjaga silaturahmi dan memberikan semangat kepada mereka yang menjalani isolasi mandiri, bukan malah dijauhi dan diasingkan.
“Kita perlu membantu mereka yang terpapar dengan tetap berinteraksi misalnya menanyakan kabar dan kondisi serta kebutuhan mereka terutama yang isolasi mandiri di rumah masing-masing. Bukan malah dijauhi,” ungkapnya.
Kendati demikian, warga yang terpapar juga mesti terbuka dengan warga dan tetangganya. Sehingga, selain untuk meningkatkan kewaspadaan bagi warga lainnya juga untuk mendorong tetangga lainnya dalam membantu kebutuhan mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah.
“Sekali lagi saya sampaikan, bahwa Covid-19 itu bukan aib sehingga tidak perlu kita terlalu parno. Kita harus bersama-sama menghadapi masa ini agar bisa segera berakhir,” ajaknya.
Arison juga mengingatkan kepada kita semua, bahwa penyebaran virus Covid-19 akan terus terjadi bila seluruh masyarakat mengabaikan protokol kesehatan yang sudah menjadi ketetapan dimasa pandemi. Salah satunya masker dan menjaga jarak. Menurutnya, protokol kesehatan adalah upaya pencegahan yang dinilai cukup efektif untuk menekan laju penyebaran Covid-19.
“Jangan kendor, kita tidak boleh lalai dan lengah. Disaat itulah corona menyerang,” ucapnya mengingatkan kembali.
Dua kali harus menjalani isolasi di wisma atlet Jakarta serta gedung LPMP Kepri di Ceruk Ijuk Bintan, Arison tentu memiliki pengalaman. Jiwanya yang cukup kritis tentu membuat sosok yang satu ini menyoroti sejumlah langkah dan kebijakan pemerintah terutama Satgas Penanganan Covid-19.
Salah satunya mengenai tempat yang akan dijadikan lokasi isolasi orang-orang yang terpapar Covid-19 tidak dengan gejala. Diakuinya, semakin banyak tempat isolasi justru lebih baik, namun langkah pemerintah hendaklah tetap menjaga ketenangan bagi masyarakat.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, Pemko Tanjungpinang memiliki Lohas Village di Jalan Kawal Kecamatan Toapaya sebagai tempat isolasi. Arison pun menyesali langkah pemerintah yang terkesan bertindak semena-mena. Menurutnya wajar jika ada aksi penolakan terutama dari warga sekitar.
“Ini sama kejadian saat menetapkan gedung LPMP Kepri waktu itu. Kan sempat ada penolakan dari masyarakat. Pemerintah melalui Satgas Covid-19 mestinya melakukan komunikasi dan sosialisasi dengan masyarakat sekitar tempat isolasi yang direncanakan. Jangan seolah-olah masyarakat dalam posisi salah seolah tidak mendukung kebijakan pemerintahnya sehingga terkesan sebagai objek dari suatu kebijakan,” paparnya.
Keberatan masyarakat sekitar, pasti khawatir tertular. Karena beranggapan tempat isolasi mandiri sama dengan rumah sakit. Sehingga, masyarakat perlu juga diedukasi bahwa mereka yang diisolasi orang yang positif tanpa gejala.
Selain itu, pemerintah juga perlu menyakinkan kepada masyarakat bahwa tempat isolasi yang telah ditunjuk seperti LPMP atau hotel, semua limbah obat-obatan, vitamin, limbah makan-minum dan MCK akan dikelola dengan baik dan memenuhi standar penanganan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan WHO, melalui Satgas Covid-19 setempat.
“Sebagai orang yang pernah mengalami isolasi mandiri, saya melihat faktor-fakor tersebut yang harus dijelaskan. Agar mengurangi keresahan masyarakat sekitar tempat isolasi mandiri,” ujarnya.
Arison pun menyarankan agar pemerintah tetap konsisten terhadap standar baku seseorang yang dinyatakan sehat pasca menjalani isolasi haruslah melalui serangkaian tes RT-PCR. Hal ini menurutnya untuk mengurangi rasa khawatir bagi masyarakat untuk menerima kembali orang yang sembuh kedalam lingkungan masyarakatnya.
Kepada pemerintah, tokoh masyarakat Toapaya itu juga berpesan agar lebih memperhatikan aspek psikologis terutama bagi mereka yang memiliki peran sebagai tulang punggung keluarga. Sebab, waktu 14 hari untuk menjalani isolasi bukan waktu sebentar apalagi harus meninggalkan keluarga.
“Ini penting karena salah satu faktor yang mempercepat pemulihan pasien Covid adalah ketenangan pikiran dan psikologis. Bagaimana mungkin seorang pasien yang perannya sebagai kepala keluarga merasa tenang dan happy ketika pasien terbebani pikiran tentang kecukupan kebutuhan harian untuk anggota keluarga yang dirumah,” pesannya. (Btn)
Editor : Akok









































