Endang Abdullah (Wakil Wali Kota Tanjungpinang, tengah) dan Elfiani Sandri (Kepala Dinkes Tanjungpinang, kanan) dalam rakor pencegahan stunting di Kecamatan Bukit Bestari, Kamis (20/1/2022). F: Helen

TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Endang Abdullah memimpin rapat koordinasi pencegahan stunting wilayah Kecamatan Bukit Bestari yang dilaksanakan di Aula kantor Kecamatan Bukit Bestari, Kamis (20/01/2022) siang.

Rapat koordinasi tersebut bertujuan untuk mencegah penambahan angka stunting di Kecamatan Bukit Bestari.

Endang mengatakan, sangat diperlukan kerja sama antara stakeholder ataupun instansi terkait untuk menyelesaikan permasalahan stunting di Kota Tanjungpinang.

“Penanganan stunting diperlukan peran aktif dari seluruh stakeholder hingga ke tingkat RT/RW untuk terlibat dalam berkoordinasi, akan ada program satu telur satu hari per anak dan program pemberian susu gratis,” katanya, Kamis (20/1/2022).

Ia memerintahkan untuk diadakan pendataan dan upaya maksimal untuk menekan angka Stunting di Kota Tanjungpinang.

“Harus secara berkelanjutan dilaksanakan untuk mengetahui dan mengevaluasi angka serta penanganan stunting yang telah dilakukan,” tegasnya.

Selanjutnya Kepala Dinas Kesehatan, Elfiani Sandri menambahkan, stunting di Kota Tanjungpinang menjadi salah satu permasalahan yang harus segera ditangani.

“Ini penting sekali untuk kita tangani sejak dini,” ujarnya.

Dikatakannya, ketika ibu hamil harus mendapatkan pendampingan, Dinkes telah menyiapkan tim PK (Pendamping Keluarga) yang dilaunching HKN tahun 2021 lalu.

“Terdapat 90 tim PK di Tanjungpinang dan telah memiliki SK. Anggotanya penggerak PKK, tim akan memantau jika ada yang perlu didampingi,” katanya.

Tim ini akan memantau perkembangan ibu hamil agar tidak dalam keadaan kurang gizi. Juga mendampingi calon pengantin, remaja, ibu hamil, ibu menyusui, bayi 0-59 bulan, dengan mengidentifikasi faktor resiko stunting.

Tim juga akan melakukan pelayanan komunikasi, informasi, edukasi, pelayanan kesehatan dan pelayanan lainnya.

“Yang perlu diperhatikan 1.000 hari pertama mulai dari dalam kandungan hingga berumur 2 tahun karena merupakan masa masa emas pembentukan otak,” ujarnya.

Tidak kalah penting juga diperlukan dukungan peran lintas sektor di luar bidang kesehatan, diantaranya Kementerian Agama.

“Pendampingan dilakukan oleh Kemenag bersama Puskesmas, ada keterlibatan bidan dan Kantor Urusan Agama (KUA) itu tiga bulan sebelum menikah, jadi penjaringan sudah dilakukan sebelum menikah,” jelasnya.

Selain itu, peran orang tua juga diperlukan untuk tumbuh kembang anak.

“Pengetahuan dan keterampilan orang tua untuk mengasuh dan membina tumbuh kembang anak melalui kegiatan stimulasi fisik, mental, intelektual, emosional, spiritual, sosial dan moral.” tambahnya.

(Helen)
Editor: Nuel

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here