
TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyiapkan ratusan hektar lahan menjadi kawasan pertanian terpadu.
Lahan tersebar di Kota Batam seluas 60 hektar, Tanjungpinang 5 hektar, Kabupaten Karimun 50 hektar, Natuna 55 hektar, Lingga 13,25 hektar, Bintan 50 hektar, dan Kabupaten Anambas 49 hektar.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad mengatakan, kawasan pertanian ini akan ditanami dengan komoditas yang rentan mengalami inflasi seperti bawang, cabai, dan tomat.
Pemprov Kepri bersama Kabupaten/Kota akan menjamin tersedianya bibit dan pupuk gratis melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).
Direncanakan, kawasan pertanian terpadu akan mulai dijalankan pada tahun mendatang.
“Nanti kita dalami lagi BTT kita berapa, Kabupaten/Kota berapa, dipetakan sama-sama supaya hasilnya efektif,” katanya, Senin (22/8/2022).
Ansar pun sudah memerintahkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan (DKP2KH) untuk memetakan kebutuhan cabai, bawang, dan tomat di Kepri.
Ini menghindari terjadinya over supply atau pasokan berlebih yang mengakibatkan harga anjlok dan merugikan petani.
Mantan Bupati Bintan 2 periode itu menuturkan, kawasan terpadu hanya untuk menekan inflasi di bawah 0,92 persen.
“Tugaskan Disperindag dan Dinas Pertanian menghitung kebutuhan masyarakat agar tidak terjadi over supply sehingga harga komoditas di petani anjlok,” tuturnya.
Selain itu, Ansar berencana untuk menggalakkan pemanfaatan pekarangan rumah masyarakat untuk ditanami komoditas pangan.
Program ini akan disosialisasikan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) dan TP-PKK Provinsi Kepri.
Sebelumnya, pembentukan kawasan pertanian terpadu ini diusulkan oleh Ketua Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin.
Tidak ratusan hektar, Wahyu mengusulkan 1.000 hektar di tiap Kabupaten/Kota.
Menurutnya, dengan kawasan pertanian terpadu, Kepri akan swasembada pangan minimal 30 persen.
Selain itu, jumlah penduduk miskin akan berkurang karena diberdayakan di kawasan pertanian dan peternakan terpadu.
“Inflasi akan berhasil ditekan jika kita sudah punya kawasan terpadu ditambah masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk berkebun,” tuturnya, Rabu (22/6/2022).
Penulis: Nuel









































