
TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Mental menjadi seorang jurnalis yang sudah terbentuk selama 1 dekade hancur seketika ketika berhadapan dengan Ramon Damora dalam pelaksanaan Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan Dewan Pers di Hotel Aston Tanjungpinang, Jum’at s.d Sabtu (5-6/5/2023).
Kali ini saya berkesempatan mengikuti UKW untuk jenjang madya, tentu saja ini menjadi kesempatan emas dan juga rasa ketakutan menghadapi para penguji yang konon diceritakan beberapa kawan-kawan seperti ‘Malaikat Pencabut Nyawa’.
Memang ini kesempatan kedua bagi saya ikut dalam pelaksanaan UKW, hanya saja pada jenjang muda saya berhasil meraih dengan predikat kompeten. Namun, perasaan yang pernah dirasakan di tahun 2017 itu tetap ada saat saya ikut UKW jenjang madya.
Sejak memutuskan untuk mendaftar ikut UKW jenjang madya, saya tidak begitu optimis. Bahkan keraguan akan kemampuan diri saya selalu menemani bunga tidur setiap malam. Persiapan-persiapan yang saya lakukan hancur manakala saya berhadapan dengan seorang Ramon Damora. Sastrawan tersohor di Provinsi Kepri itu menjadi penguji saya dan kawan-kawan yang ikut UKW jenjang Madya.
Jenjang yang saya ikuti kali ini untuk melihat kemampuan saya sebagai seorang wartawan dalam membuat berita feature. Berita yang merupakan karangan khas bernilai seni namun tetap faktual. Penguji seperti Ramon Damora tentu saja bukan orang sembarangan. Kita tidak bisa bermain dengan kata-kata sembarangan diberita feature, karena hampir semua kata indah sudah dilahap seorang pria yang gemar berpuisi itu.
Hal ini menjadi ketakutan dalam diri saya, ketakutan akan gagal meraih predikat kompeten sebagai wartawan jenjang madya dihadapan Ramon Damora. Meskipun, seorang Ramon bukanlah orang yang harus ditakuti seperti Hitler, namun kewibawaan dan kebijaksanaanya membuat kita semua tunduk dengan ucapan-ucapan indah yang keluar dari mulut sang penguji itu.
Gayanya yang khas, berbaju batik dengan warna kegelapan dengan bawahan celana casual berwarna krim dipadu topi casual dan kacamata, menjadi gaya khas pria kelahiran Riau, 2 April 1978 itu. Pembawaannya yang santai itu nyatanya tidak mampu meredam perasaan ini. Perasaan cemas dan panik akan kegagalan.
“Nilai kamu pas-pasan ini,” ucapan Ramon manakala saya menandatangani dokumen UKW Madya 2. 1, semakin mendorong kecemasan dalam diri saya.
Bahkan, ruangan Gardenia 5 di lantai 3 Hotel Aston Tanjungpinang yang dingin, tak mampu menurunkan suhu dalam pikiran saya. Ketegangan demi ketegangan terus mengiringi langkah saya saat mengikuti UKW tahun 2023.
Bahkan, persiapan yang selama ini saya bangun untuk menghadapi UKW jenjang madya dengan pengalamanan 10 tahun didunia jurnalis, benar-benar luluh lantah saat menghadapi UKW kali ini. Apalagi saat harus menulis berita feature yang akan dinilai langsung oleh pengarang puisi ‘Gurindam Setengah Mayam’ itu.
Sesekali Ramon berusaha menggoda kami sebagai peserta ujian dengan kalimat-kalimat puitis agar suasana tidak semakin tegang. Tetap saja kecemasan itu tidak pernah lekang dalam pikiran saya. Waktu yang terus berjalan seakan mengejar kami dengan sebilah pedang.
Namun, dengan persiapan yang tersisa, saya harus menuntaskan UKW ini dengan target meraih predikat kompeten pada jenjang madya. Ini menjadi target karena dengan predikat kompeten bisa menunjang aktifitas dalam dunia jurnalis yang masih saya tekuni hingga saat ini.
UKW tahun 2023 yang diselenggarakan Dewan Pers akan menjadi tolak ukur terhadap kemampuan saya sebagai pewarta dalam menghasilkan karya-karya jurnalis yang berkualitas.
“Semoga semua peserta bisa lulus. Perjuangan yang luar biasa buat teman-teman dari pulau-pulau,” ucap penguji PWI Pusat, Oktaf Priadi saat memberikan sambutan.
Banyak persoalan terkait media, namun wartawan juga harus tetap menjaga kualitas dan mutu berita sesuai dengan kode etik jurnalis. Oktaf berkata, semua itu dilakukan dengan melahirkan wartawan-wartawan kompeten melalui UKW.
“Apalagi banyak juga yang mengaku sebagai wartawan, ini menjadi permasalahan kita bersama menghadapinya,” katanya. (oxy)






































