TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Ansar Ahmad berencana memindahkan 150 pegawai RSUD Raja Ahmad Thabib (RAT) untuk mengurai kepadatan di area pelayanan publik.
Ansar mengatakan, pemerintah akan merehabilitasi total gedung lama guna memisahkan area pendaftaran dengan ruang rawat inap secara fungsional.
Melalui pengurangan jumlah personel di lokasi utama, efektivitas kerja diharapkan meningkat sehingga pasien merasa lebih nyaman saat berobat.
“Kalau pagi itu campur aduk dah seperti pasar, pegawai sama PPPK hampir seribu orang belum lagi pasien yang mendaftar,” katanya.
Langkah strategis ini diambil karena kondisi ruang pendaftaran saat ini dinilai terlalu sesak layaknya pasar akibat penumpukan ribuan staf dan pasien.
“Nanti kita keluarkan 150 orang, tidak perlu terlalu banyak agar lebih efektif bekerja,” ujarnya.
Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau, Ririn Warsiti menyoroti kondisi sumber daya manusia RSUD Raja Ahmad Tabib.
Sorotan itu ia sampaikan usai menerima aspirasi keluarga pasien yang mengeluhkan kualitas layanan RSUD tersebut.
Ririn menegaskan, RSUD RAT saat ini memerlukan manajemen profesional yang mampu memperbaiki kualitas layanan rumah sakit.
Manajemen yang profesional juga akan meningkatkan daya saing rumah sakit di era yang kompetitif.
“RSUP RAT saat ini memerlukan manajemen yang profesional yang mampu meningkatkan kualitas layanan sehingga mampu berkompetisi dengan rumah sakit lain di era medis yang semakin kompetitif,” katanya, Sabtu (4/4/2026).
Selain kualitas layanan, manajemen profesional ini juga akan membantu perbaikan kondisi keuangan RSUD RAT.
Ia mengungkapkan, saat ini RSUD RAT mengalami gejolak besar karena berada dalam situasi likuidasi yang berdampak langsung pada operasional rumah sakit.
“RSUP RAT sangat urgent segera memiliki manajemen profesional yang mampu memperbaiki SDM yang baik untuk mengatasi keterbatasan anggaran dan meningkatkan layanan,” tegasnya.
Ia pun berencana mengusulkan agar kasus ini dilaksanakan pembahasan lanjutan bersama Dinas Kesehatan Kepri dan manajemen rumah sakit, apalagi di tengah efisiensi anggaran.
“Apakah kekurangan anggaran ini akan berdampak pada pasien? Jelas. Jangan sampai pasien yang datang untuk sembuh justru kondisinya memburuk. Ini perlu menjadi perhatian bersama. Seperti itu,” imbuhnya.
Penulis: Nuel










































