LINGGA, SIJORITODAY.com –¬†– Ketua Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lingga, Riono menyebutkan desa wisata Pulau Mepar belum bisa dimasuki Perusahaan Listrik Negara (PLN) dikarenakan pulau yang berada lebih kurang hanya 200 meter di ujung pelabuhan Tanjung Buton tersebut berseberangan laut.

Dikatakannya, dengan kondisi tersebut membuat kabel PLN harus melintasi laut untuk menuju pulau Mepar sebagai tujuan Destinasi Wisata Lingga.

“Karena di sana pulau. Daya yang tersedia di PLN sub Daik terbatas. Mungkin belum. Nanti kita bicarakan itu karena peningkatan daya listrik nasional terus meningkat,” ujarnya, Rabu (24/08).

Dikatakannya, kedepan Lingga perlu power listrik yang besar karena arus investasi bakal masuk di Negeri yang berjuluk Bunda Tanah Melayu tersebut. Apabila listrik masih minim seperti saat ini, tentunya sangat mempengaruhi investasi yang datang.

“Waktu reses DPR RI, pak Nyat Kadir kemarin sudah disampaikan. Semoga itu diperhatikan,” sebutnya.

Sebelumnya, melalui Pemerintah Pusat, Desa Mepar, Kecamatan Lingga, akan mendapatkan penyediaan listrik 24 jam menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Akan tetapi hingga saat ini upaya tersebut masih belum terlihat.

Nyat Kadir, Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Dapil Kepri saat melakukan reses di Kabupaten Lingga beberapa waktu lalu mengatakan dirinya akan terus berupaya untuk dapat merealisasikan keinginan warga pulau Mepar dengan menikmati listrik 24 jam.

“Listrik Mepar itu ada persoalan apakah di dalam laut kabelnya, atau diatas. Itu berapa kali saya rapat dengar pendapat dengan direktur zona sumatera, itu memang dari pemikiran PLN, kalau kabel dibawah laut, itu harganya miliaran. Kalau bisa dibuat tiang, itu lebih murah, itu akan saya sampaikan, saya foto akan saya sampaikan kepada pak Amir yang bagian direktur zona sumatera,” ungkap Nyatbelum Kadir belum lama ini.

Sementara, masyarakat desa Mepar sangat merindukan penerangan listrik 24 jam. Desa sebagai tujuan wisata tersebut belum tersentuh penerangan dari PLN. Berdasarkan informasi, pembangkit tenaga diesel di pulau Mepar sering padam. Akibatnya, ketika malam hari warga sering menggunakan lampu teplok. Bahkan ketika anak-anak untuk belajar sering juga membaca dengan penerangan yang berbahan minyak tanah tersebut.

 

Penulis : Wira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here