TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.Com – – Kurangnya mendapatkan perhatian dari pemerintahan, beberapa gabungan organisasi perempuan mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang, pada hari Selasa (1/3).

Adapun organisasi perempuan seperti BKMT, Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kepri, Bina Kaum Ku Pemberdayaan Perempuan dan beberapa organisasi perempuan lain.

Kedatangan kaum organisasi perempuan ini disambut langsung oleh Wakil Ketua II DPRD Tanjungpinang, Ahmad Dani didampingi Ketua Komisi I Maskurtilah Wahyu, Ketua Komisi II Mimi Betty Wilingsih serta beberapa anggota DPRD Tanjungpinang lainnya.

Penyampaian keluhan ini dibuka langsung oleh Anis Anorita Zaini yang merupakan Ketua FPPI dan LSM Bina Kaum Ku Provinsi Kepri mengatakan, bahwa perhatian dari pemerintah khusus Pemko Tanjungpinang sangat minim atau dapat dikatakan tidak ada sama sekali beberapa tahun.

“Dulu jaman Wali Kotanya Suryatati A Manan pembinaan organisasi perempuan yang ada di Kota Tanjungpinang berjalan sangat baik. Sementara organisasi perempuan perannya sangat penting di tengah-tengah masyarakat, terutama bagaimana mencegah para anak-anak pada kegiatan negatif,” ujarnya.

Sementara itu, teknologi dan sarana hiburan seperti Warnet telah membanjiri kota Tanjungpinang, disinilah kaum perempuan terutama ibu-ibu untuk berperan mencegah kerusakan kepada generasi muda, terutama pelajar.

Bahkan, mereka telah mengajukan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan Kota Tanjungpinang sudah beberapa kali, tetapi tidak pernah dibantu dan dilibatkan dalam kegiatan apapun.

“Seperti LSM Bina Kaum Ku ini, dalam waktu dekat ini akan ada agenda undangan dari DPP untuk kongres dan mendapatkan pembinaan serta pembekalan di Makasar. Tidak adanya anggaran serta operasional, sehingga terkendala. Disinilah peran pemerintah sangat diharapkan,” jelasnya.

Wakil Ketua II DPRD Tanjungpinang, Ahmad Dani sangat mengapresiasi adanya organisasi perempuan yang harus mendapatkan perhatian dan pembinaan.

Wakil ketua II DPRD Tanjungpinang Ahmad Dani

“Sangat langka dari kaum ibu-ibu ini ikut terjun dan meluangkan waktunya untuk berperan serta berbuat untuk kota Tanjungpinang. Sehingga mereka harus diperhatikan dan dibina oleh pemerintah seperti majelis taklim, serta Bina Kaum Ku yang sering membantu kaum perempuan yang tidak mampu dan janda berdikari membina keluarga,” ujar Dani.

Ditempat yang sama, ketua Komisi I Tanjungpinang, Maskurtilah Wahyu mengatakan memang sering berjuang untuk pendidikan dan kesehatan, Tetapi perjuangan nya selalu mental dan diabaikan oleh eksekutif yang lebih mementingkan yang tidak penting atau belum perlu.

“Seperti Gedung Wanita di Senggarang yang sebenarnya belum perlu dibangun, sementara para ibu-ibu melalui organisasi tidak merasakan faedahnya hingga kini dan tidak dilibatkan dalam kegiatan wanita disana,” ujar Maskur.

Untuk penyaluran bantuan kepada organisasi atau LSM ada peraturan baru yang harus mengajukan pada tahun sebelumnya agar dapat dibahas pembahasan anggaran.

“Tetapi pengajuannya harus melalui Pemko Tanjungpinang, baru pembahasannya melalui DPRD Kota Tanjungpinang. Disinilah yang jadi masalah, karena sering tidak sampai ke kita, yang pembahasannya hanya sampai di mereka,” tegas Maskur.

Untuk memberi alternatif terbaik kepada organisasi perempuan ini, DPRD Kota Tanjungpinang memberikan jalan dengan dilibatkannya 8 orang srikandi DPRD Tanjungpinang sebagai pembina dan dimana Peppy Chandra terpilih sebagai koordinator. Peppy yang merupakan ketua DPD Demokrat Kota Tanjungpinang merupakan orang yang tidak asing lagi di organisasi Bina Kaum Ku. (Akok)

1 KOMENTAR

  1. Saya seorang Ibu tunggal mengalami apa yg ditulis diatas , saya punya anak laki2 yang menghabiskan waktunya di warnet sejak Kls 7 ( SMP ) sampai saat ini , skrg putra saya sdh hmpr 2 thn tamat SMA ( 19 thn ) itupun tamat SMA nya pki paket akibat dikeluarkannya dari salah satu SMAN di Tanjungpinang , penyebab keluarnya dri sklh tsb krn tertangkap cabut dri sklh dan menghabiskn wkt sklh di warnet . Smpi saat ini anak sy blm berubah jg msh menghabiskan wktnya diwarnet dan blm ada kesadaraanya utk mencari pekerjaan . Hal warnet ini saya pernah ajukan ke Walikota untuk merevisi ijin warnet buka tdk smpi jam 11 mlm krn hal tsbt tlah merusak kehidupan anak2 terutama tentang pendidikannya , tapi smpi saat ini tdk ada tanggapannya , malah byk warnet beroperasi sampai jam subuh . Begitu juga kesulitan seorang ibu tunggal utk mencari biaya hidup , saya sdh hmpr 1 thn lbh mencari pinjaman modal usaha tpi tdk berhasil krn saya tdk pny jaminan , sangat sulit sekali di Tanjungpinang untuk mendapat bantuan bagi kaum ibu tunggal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here