TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – -Manuver partai politik (Parpol) di Tanjungpinang sudah mulai terlihat menjelang Pilkada Kota Tanjungpinang yang akan berlangsung pada 2018 mendatang.

Beberapa partai politik sudah mulai membentuk koalisi seperti Koalisi Setara (PKS – Gerindra) dan Koalisi Anak Pinang (Golkar – Demokrat – PPP – PKPI).  Bahkan kemungkinan Partai PDIP, Hanura dan PAN yang belum menentukan sikap akan membentuk Koalisi tersendiri juga.

Namun apakah ketiga partai besar ini (PDIP, Hanura dan PAN) akan berada dalam satu koalisi yang sama, atau hanya Hanura dan PAN belum bisa dipastikan karena masih bersifat kemungkinan. Apalagi saat ini PDIP dan Hanura masih dalam tahap penjaringan bakal calon.

Menurut pengamat politik di Tanjungpinang, Endri Sanopaka, masing-masing partai politik punya strategi dalam menghadapi pertarungan Pilwako 2018. Ada yang membuka peluang penjaringan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota seperti Hanura, namun nantinya tetap mencari kawan koalisi, karena kursinya yang tidak cukup untuk mendaftarkan pasangan calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tanjungpinang.

Sedangkan PDI-Perjuangan membuka penjaringan terbatas untuk bakal calon Wakil Wali Kota untuk berpasangan dengan H. Lis Darmansyah secara terbatas, karena PDIP punya kursi yang cukup untuk mengantarkan calonnya ke KPU.

“Namun PDIP mencari kawan koalisi dengan pengambilan formulir di Hanura dan bisa jadi PDIP akan berkoalisi dengan Hanura,” ujar Endri, Jumat (28/07/2017).

Dikatakannya, koalisi yang pertama deklarasi adalah koalisi Setara yaitu PKS dan Gerindra. Strategi deklarasi duluan oleh koalisi setara ini sebenarnya untuk mengambil momentum kemenangan koalisi tersebut di pilkada DKI Jakarta.

Namun sampai saat ini, kedua partai itu belum juga mengumumkan bakal calon yang fix untuk ditawarkan ke publik. Sehingga koalisi tersebut seperti mulai mengambang dan kemungkinan besar bisa jadi bubar ditengah jalan atau justru merapat ke Koalisi lainnya.

Adapun yang mencoba membangun koalisi besar adalah koalisi Anak Pinang oleh Golkar dan Demokrat, ditambah PKPI dan PPP dengan jumlah kursi 11 yang juga belum fix memunculkan siapa pasangan calon, terkecuali sosok Ade Angga yang sudah direkomendasikan oleh DPP Golkar.

“Persoalannya adalah siapa yang akan menjadi pendamping Ade Angga ? Apakah dari Demokrat,PKPI,dan PPP. Kursi mereka signifikan, bahkan bisa jadi kalau tidak putus calon yang diusung, PKPI dan PPP bisa keluar koalisi dan membangun koalisi baru ditambah PAN sehingga bisa mengantarkan satu paket    calon lagi,” imbuh Endri.

Terhendus kabar, bahwa partai PAN yang diketahui hingga sekarang belum bersikap mengenai Pilwako 2018, dikabarkan, Ketua Partai PAN Tanjungpinang juga menginginkan menjadi calon Wali Kota Tanjungpinang.

Akan tetapi, lanjut Endri, dengan dua kursinya, maka PAN harus mencari kawan untuk berkoalisi sedikitnya 4 kursi lagi, karena PAN hanya memiliki 2 kursi.

“Atau kemungkinan, pilihan bergabung dengan koalisi yang sudah ada, tanpa mencalonkan kandidat sama sekali,” ucapnya.

Politik pencalonan yang masih sangat dinamis dan terlalu dini untuk memastikan siapa pasangan calon atau koalisi yang bakal konsisten. Karena menurutnya, pendaftaran di bulan januari masih banyak kemungkinan yang akan terjadi.
Penulis: Akok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here