Penulis : Mursyid Sonsang, Wartawan Senior, Alumni Lemhanas ppsa 18 tahun 2012

Osman Sapta Odang yang akrap dipanggil Oso, secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum Gebu Minang Priode 2016-2021 dalam Musyawarah Besar (Mubes) VI dan HUT XXVII Gebu Minang 2016 di Hotel Panggeran Beach Padang, Sabtu (24/12/2016).

Banyak orang Minang yang di kampung maupun di rantau “terpurangah”, berasa tidak yakin OSO itu adalah orang Minang. Selama ini dia lebih populer sebagai pengusaha asal Kalimantan Barat yang namanya dikenal sejak tahun 1980-an. Kiprahnya kemudian melejit hingga ke tingkat nasional, mulanya hanya sebagai pengusaha dan belakangan merambah dunia politik.

OSO sejatinya memang putra Kalimantan Barat, sebab dia lahir, besar dan ‘dibesarkan’ di sana. Sebagaimana juga tidak bisa disangkal bahwa dalam diri OSO sebenarnya menitis garis keturunan Minang.

Bagi perantau Minang filosofi “ Dima Bumi Dipijak Di Sinan Langik Dijunjuang” selalu dipegang erat. Filsafat hidup inilah yang membuat perantau Minang cepat bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

Masyarakat minang di rantau akan membiasakan diri dengan budaya setempat sehingga tidak menimbulkan jurang suku atau daerah dengan masyarakat lokal di sekitarnya. Filosofi tersebut agaknya diterapkan olehnya sehingga ia selama ini lebih dikenal sebagai orang Kalimantan.

Sebagai anak Ranah Minang OSO telah berkontribusi untuk kampung halamannya dengan membangun Rumah Gadang di Nagari Sulit Air. Dalam hal ini OSO menerapkan filosofi hidup perantau lainnya, satinggi-tinggi tabangnyo bangau kembalinya ke kubangan juo”.

Menilik kehidupan OSO, dia lahir di Sukadana, Kalimantan Barat pada tanggal 18 Agustus 1950, Ibunya Asnah Hamid berasal dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat. Sesuai dengan sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan dalam keluarga merupakan bagian garis keturunan/klan yang dibawa oleh darah ibu mereka.

Usaha yang digeluti laki-laki tambun ini terutama di bidang percetakan, pertambangan, air mineral, properti, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi dan perhotelan. Pada tahun 2016 dia tercatat sebagai orang nomor 103 terkaya di Indonesia versi majalah Globe Asia dengan kekayaan $350 juta atau sekitar Rp4,6 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here