Badan Pusat Statistik saat siaran pers (Foto:Istimewa)

TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com- – Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau merilis di bulan Desember 2017 nilai ekspor Kepri mengalami penurunan sebesar 1,36 persen, sedangkan untuk nilai impor mengalami kenaikan sebesar 28, 63 persen. Perbandingan tersebut berdasarkan nilai ekspor-impor di bulan November 2017.

Kepala BPS Kepri, Pasunan Siregar menyebut, nilai ekspor pada bulan November sebesar USS1.028.48 juta menjadi US$ 1.014.52 di bulan Desember. Namun untuk impor di bulan November sebersar US$ 745.596.33 juta menjadi US$ 959.03 juta di bulan Desember.

“Untuk ekspor kita mengalami penurunan sebesar 1.36 persen, sedangkan impor kita mengalami kenaikan sebesar 28,63 persen,” ucap Pasunan di Kantor BPS Jalan Ahmad Yani nomor 21, KM 5, Tanjungpinang, Senin (15/1/2018).

Jika Dibandingkan dengan nilai ekspor dan impor pada bulan yang sama Tahun 2016, Pasunan menyampaikan, nilai ekspor dan impor Kepri cukup mengalami kenaikan, dimana kenaikan sebasar 15 persen untuk ekspor dan kenaikan 51.28 persen untuk impor.

Untuk kenaikan ekspor disebabkan komoditas migas sebesar 25.12 persen dan nonmigas sebesar 10.58 persen, untuk impor disebabkan naiknya impor migas sebesar 152,55 persen, sedangkan komoditas nonmigas sebesar 37.30 persen.

“Jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu, nilai impor dan ekspor kita jauh mengalami kenaikan hingga saat ini,” ucapnya.

Untuk total komulatif ekspor-impor Kepri pada rentan Januari-Desember 2017 mengalami kenaikan, untuk ekspor mengalami kenaikan 10.56 persen dari US$ 11.030.42 juta menjadi US$ 12.194,76 juta, sedangkan impor mengalami kenaikan sebesar 12.96 persen dari US$ 7.749.67 menjadi US$ 8.753.96 juta.

“Naiknya ekspor Januari-Desember disebabkan naiknya kumulatif migas sebesar 60.25 persen. Untuk impor disebabkan naiknya impor komulatif migas sebasar 56.54 dan komoditas non migas sebesar 5,76 persen,” terangnya.

Golongan barang mesin atau peralatan listrik merupakan ekspor non migas terbesar selama bulan Desember 2017 yaitu, sebesar US$ 189,55 juta.

Sementara Ekspor Kepulauan Riau pada bulan Januari sampai Desember 2017 terbesar melalui pelabuhan Batu Ampar, pelabuhan Sekupang, pelabuhan Tarempa, pelabuhan Kabil dan pelabuhan Tanjung Balai Karimun.

“Kontribusi kelima pelabuhan terhadap kumulatif ekspor Januari sampai Desember 2017 adalah sebesar, 86,16 persen,” katanya.

“Saat ini pasar terbesar kita masih Singapura, kedepan harapannya pasaran kita bukan hanya ke Singapura saja, ke seluruh negara agar jika terjadi sesuatu, tidak berdampak pada perekonomian kita,” pinta Panusunan.

Selain itu, Panusunan berharap, pemanfaatan sektor laut juga lebih menekankan agar pemerintah lebih berinovasi untuk meningkatkan angka pemanfaatan sektor laut.

Nilai ekspor komoditi ikan/udang (HS O3) di Kepri terus merosot, padahal jika ditinjau sumber impor terbesar kita itu berada hasil laut, sektor perikanan di Kepri ini terus di dongkrak melihat potensi wilayah Kepri yang luas lautnya tidak dihiraukan lagi dan ditambah lagi menteri kelautan telah menyediakan tempat penampungan ikan (TPI) tempat penampungan ikan di Natuna.

Selama dua tahun berturut-turut pada tahun 2016 dan 2017 hasil komoditi laut terus mengalami penurunan hingga pada angka 22 US$ (juta), sementara kita pada tahun 2015 jumlah Ekspor komoditi ikan kita pernah mencapai peningkatan pada angka 69 US$(juta).

Kenapa demikian?, tanya panusunan yang ia tidak tahu penyebabnya, karena pembangunan sektor laut menjadi program prioritas Gubernur Kepri Nurdin Basirun.

“Selain ditangkap dengan menjaring, inovasi budidaya dan sebagainya juga perlu dilakukan. Jangan hanya pariwisata yang terus kita kembangkan, sedangkan untuk potensi laut terus begitu saja,” kata dia.

Kedepannya Panusunan berharap, agar OPD terkait akan menambah negara impor dan ekspor Kepulauan Riau.

“Jadi jika terjadi perselisihan antara negara, kita tidak mempengaruhi penjualan barang keluar negeri,” tutupnya.

Penulis: beto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here