TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com- – Pemko Tanjungpinang terus pantau peredaran Albothyl di Tanjungpinnag. Meskipun sudah dicabut izin beredar oleh BPOM, namun saat ini pemerintah khususnya pemko Tanjungpinang terus melakukan langkah untuk mencabut peredaran tersebut.

Sekrertaris Daerah Kota Tanjungpinang Riono mengatakan, produk tersebut sebenarnya sudah dicabut izin beredarnya. Namun apabila masih ditemukan peredarannya nanti akan di tentukan langkan selanjutnya.” Akan ada langkanya dalam memantau peredaran obat tersebut,” jelas Riono di Tanjungpinang, Selasa (20/2)

Untuk Langkah yang dilakukan, Riono mengatakan pihaknya masih belum tahu langka apa yang akan diambil. Nantinya BPOM Kepri akan bekerja sama dengan Dinkes Kota Tanjungpinang terkait peredaran obat tersebut.” Untuk langkahnya mungkin melakukan penarikan dan razia obat tersebut,” ucapnya.

Untuk pastinya langkah yang diambil dalam pencabutan izin beredar obat tersebut, Riono menyarankan langsung menanyakan ke Dinas Kesehatan, karena pengawasan obat melalui BPOM dan Dinas kesehatan. “Langkah Pasti yang akan diambil dinkes dan BPOM yang tau,” ucapnya.

Pencabutan izin beredar obat tersebut  disampaikan dalam laman resmi  BPOM RI  yang disampaikan secara tertulis, dimana setelah melalui pemantauan dalam 2 tahun terakhir, BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan, diantaranya efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi.

BPOM RI bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat dan diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologi); telinga, hidung dan tenggorokan (THT); sariawan (stomatitis aftosa); dan gigi (odontologi).

Dalam pernyataannya, BPOM RI juga mengimbau kepada PT. Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar.

Penulis: Bet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here